KEUSKUPANATAMBUA.ORG, -Tahun ini bertepatan dengan pesta pelindung Paroki yaitu Santo Antonius Padua pada tanggal 13 Juni 2021, Paroki Nela genap berusia 50 tahun.”Pada tahun 2021, secara khusus Paroki kita, paroki Santo Antonius Padua Nela merayakan Yubileum 50 tahun berdirinya sebagai Paroki yang terpisah dari Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua”, demikian bapak Ir. Ale Kayus, Ketua I DPP Nela dalam kata pengantar mengawali rapat DPP pada Minggu,11/4-2021. Hal tersebut sesuai Surat Keputusan Uskup Keuskupan Atambua No. 118/1971 tertanggal 1 April 1971, sebagaimana tercatat dalam arsip Paroki Nela.

Gereja Paroki Nela dalam sejarah (doc. pribadi)

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah pada buku Ziarah Pastoral Keuskupan Atambua dari Masa ke Masa, Paroki Nela mulai dirintis oleh seorang Misionaris SVD bernama P. Johanes Smith, SVD. Mengenai Pater Yohanes Smith, SVD dikisahkan dalam buku “Indahnya Kaki Mereka” Jilid 4 yang ditulis oleh Pater John Dami Mukese, SVD dan Rm. Eduard Jebarus Pr sebagai berikut: Pada paruh kedua tahun 1970 hingga awal tahun 1971 ia menjalani cuti yang ketiga kalinya di Belanda. Sementara orang mengira bahwa ia pasti tidak akan kembali lagi ke Timor, rupanya rahmat Tuhan dan semangat misionernya yang berapi-api memberinya tenaga yang cukup untuk kembali bekerja di Timor. Pada tanggal 16 Maret 1971 ia muncul lagi di Timor, dan bertugas lagi di paroki Nela (singkatan dari Nenuk dan Lalian). Ia sudah tua, namun tetap bekerja dengan semangat seorang muda, baik untuk pelayanan umat di kampung-kampung dalam paroki Nela, maupun untuk urusan administrasi dan pelayanan lain di pusat paroki”. Kembalinya Pastor Yan Smith, SVD pada Maret 1971 dari cuti di Negeri Belanda yang semula diragukan kepulangannya ke Timor dan yang pada waktu itu tidak muda lagi, semakin menjadi dorongan yang kuat bagi Bapa Uskup Atambua, Mgr. Theodorus van den Tillaart, SVD untuk segera mendirikan paroki baru di Nenuk-Lalian, terpisah dari paroki Katedral Atambua. Dan sebagai penghormatan dan penghargaan kepadanya, beliau diangkat sebagai pastor paroki yang pertama dengan Surat Keputusan Uskup Atambua No. 119/1971 tertanggal 21 April 1971. Karena belum memiliki gedung gereja dan sekretariat sendiri, maka gereja Biara Santo Yosef Nenuk dipakai sementara sebagai tempat ibadat dan pusat pelayanan pastoral yang pertama. Paroki yang baru dibentuk ini diberi nama “NELA”, merupakan sebuah akronim dari Nenuk-Lalian. Pemberian nama ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa dalam pembinaan umat dan sebagainya akan banyak mendapatkan dukungan dan bantuan dari kedua lembaga yang ada di Nenuk dan Lalian, yaitu Biara Santo Yosef SVD Nenuk dan Seminari Lalian. Seiring perjalanan waktu dan pertumbuhan umat yang semakin pesat, pada tahun 1985, Bapa Uskup Atambua Mgr. Anton Pain Ratu SVD melalui Surat Keputusan No. 181/1985 tertanggal 27 Mei 1985 menyerahkan sebagian tanah Keuskupan Atambua untuk menjadi milik paroki sekaligus untuk pembangunan gedung gereja Nela. Gedung gereja yang ada sekarang dibangun oleh Br. Gebhard SVD pada tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989. Dilihat dari bentuk dan letaknya, banyak orang yang mengira bahwa itu bukan gedung gereja. Karena itu pada tahun 1994 pada masa P. Pieter Dille Bataona SVD sebagai Pastor Paroki dibangun sebuah menara lonceng sehingga semakin memperjelas bentuknya sebagai gedung gereja. Namun, berhubung konstruksi bangunan gereja yang sangat tinggi dengan bentangan yang luas tanpa tiang penyangga menyebabkan bangunan gereja ini cepat rapuh dan cukup sulit untuk direhab. Karena itu, saat ini atap gereja semakin rapuh. Bila tiba musim hujan, hampir seluruh bagian atap tiris dan menyebabkan bangku-bangku gereja basah.

Para Pastor yang pernah bertugas
Sejak berdirinya hingga memasuki tahun ke-50, paroki Santo Antonius Padua Nela telah digembalai oleh 11 orang Pastor Paroki berturut-turut sebagai berikut:
1. P. Jan Smith SVD (1971-1975);
2. P. Nikolaus Buku SVD (1975-1978)
3. P. M. Timmermans SVD (1978-1979)
4. P. Roger J. Risse SVD (1980-1981)
5. P. Josef Goopio SVD (1981-1986)
6. P. Yan Oba SVD (1986-1993)
7. P. Pieter Dille Bataona SVD (1993-2000)
8. P. Fransiskus Teme SVD (2000-2003)
9. P. Timoteus Lisu SVD (2003-2015)
10. P. Karl Scholly SVD (2015-2018)
11. P. Ireneus Boli Lolan SVD (2018 sampai sekarang)
Selain para pastor paroki, ada juga beberapa imam yang bertugas baik sebagai pastor pembantu maupun kapelan di paroki Nela, antara lain: Rm. Makarius Molo, Pr; Rm. Hironimus Masu, Pr; Rm. Leonardus Asuk, Pr; P. Petrus Aleus Rusae, SVD (alm.); P. Lukas Lui Uran, SVD; P. Fidelis Jemali, SVD; dan P. Marsel Bao Nule, SVD.

Peran Awam yang besar

Pada barisan awam terdapat Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP). Pada barisan DPP dengan Ketua I dapat dicatat sebagai berikut:
1. Philipus Bria, BA (1971-1989);
2. J.A.P. Silvester BA (1990-2000)
3. Ir. Ale Kayus (2000-2007)
4. Yosef M.L. Hello, M.Hum (2008-2014)
5. Ir. Ale Kayus (2014 sampai sekarang)
Sedangkan Dewan Keuangan Paroki (DKP) bertugas mengatur keuangan dan aset paroki, tercatat para Ketua I atau Wakil Ketua/Bendahara sebagai berikut:
1. Markus Oematan (1971-1993)
2. Petrus Bone (1994-2000)
3. Aloysius Yosef Mau Loko (2002-2008)
4. Egidius Nurak (2008-2014)
5. Paulus Talan (2014 sampai sekarang)
Selain Dewan Pastoral Paroki, ada juga Katekis yang diperbantukan di Paroki Nela sebagai Sekretaris Paroki, yakni bapak Zakharias Bnani. Beliau bertugas dari tahun 1995 hingga pensiun pada Desember 2020. Kini bapak Zaka digantikan oleh Werentridus Inocentius Sakan, S.Pd tamatan STP Santo Petrus Kefamenanu. Kekayaan lain yang ada di paroki Nela adalah adanya Orang Muda Katolik (OMK), THS/THM, dan Legio Maria. Ada juga kelompok kategorial seperti ME, CFC, SMGM, IKAT, dan kelompok-kelompok lain yang turut memberi sumbangan dalam pengembangan iman dan pastoral di paroki.

Pusat Biara

Kehadiran para Suster Puteri Maranata di Paroki Nela juga telah memberi suatu warna tersendiri dalam kehidupan pastoralnya. Tarekat religius besutan Mgr. Anton Pain Ratu SVD itu terbilang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ada penambahan jumlah anggota yang sangat signifikan. Demikian pun mereka yang menyatakan siap menjalani kaul kekal dalam tarekat selalu ada dari tahun ke tahun. Kini mereka telah memiliki Rumah Pusat tersendiri, namun terus membantu menghidupi karya pastoral di paroki ini antara lain menyediakan konsumsi bagi pastor paroki, membantu menangani TK Santo Antonius Padua Nela, mengantar komuni bagi para Orang Sakit dan Lansia, serta kunjungan umat lainnya.
Selain Biara Pusat Tarekat Puteri Maranata, ada komunitas Suster RVM di Komplek Rumah Guru Seminari Lalian di Nela yang membantu sebagai pendidik/pengajar di Seminari Lalian.

Jumlah Umat yang besar
Berdasarkan statistik tahun 2019, paroki Santo Antonius Padua Nela memiliki jumlah umat sebanyak 15.282 jiwa. Jumlah umat yang besar ini terbagi dalam 17 stasi; 37 lingkungan; dan 191 komunitas basis. Paroki ini terbilang salah satu paroki yang masih cukup luas di wilayah Keuskupan Atambua yakni 36 km² dengan total 3.252 kepala keluarga.
Paroki Santo Antonius Padua Nela memiliki beberapa kapela stasi yang sejak tahun 2018 dilayani secara tetap oleh imam kapelan pada setiap hari Minggu dan Hari Raya, yakni Stasi Oehali (Oetfo) dilayani dari Komunitas STM Nenuk; Stasi Wetubu dilayani dari Komunitas Santo Yosef Nenuk; Stasi Tulatudik dilayani dari Novisiat SVD Nenuk; Stasi Lookeu dilayani dari paroki; Stasi Taeksoruk dilayani dari Komunitas TOR Lo’o Damian dan Kapela Lelowai dilayani dari Seminari Lalian.
Secara fisik, semua stasi telah memiliki kapela yang memadai dan telah diberkati baik oleh Deken Belu Utara maupun oleh Vikjen Keuskupan Atambua. Kita berharap semoga ke depan umat di stasi-stasi dan kapela-kapela ini siap untuk menerima tugas sebagai bakal paroki bahkan paroki. Selain stasi-stasi yang telah disebutkan itu, ada satu stasi yang lebih besar namanya Stasi Santa Caesilia Motabuik yang pada saat ini sedang bersiap-siap dengan pembangunan gerejanya dan sedang membenahi diri agar suatu saat mereka boleh berdiri sendiri sebagai sebuah paroki yang mandiri, terpisah dari paroki induknya Paroki Santo Antonius Padua Nela. Kita doakan semoga segera terealisasi.

Prestasi-prestasi yang pernah diraih

Paroki Nela sebagai salah satu paroki dari 67 paroki yang ada di Keuskupan Atambua selalu diperhitungkan dalam event-event penting, baik di tingkat keuskupan maupun di tingkat dekenat Belu Utara. Menurut catatan panitia Lomba Paduan Suara Gerejani antar Paroki dalam rangka Pancawindu Imamat Mgr. Anton Pain Ratu SVD tahun 1997, Paroki Nela pernah menjadi Juara Umum Lomba Paduan Suara antar Paroki tingkat Keuskupan Atambua. Selain itu, pada tahun 2020, Paroki Nela tercatat sebagai Juara I Pesparani antar Paroki tingkat Kabupaten Belu dan berhak mengikuti Pesparani Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang pada Mei 2020. Namun tidak bisa terlaksana karena covid-19.

Sebagian peserta Paduan Suara Paroki Nela bersama Pastor Paroki (doc. Pribadi)

Pembangunan Gedung Gereja yang baru

Dalam rangka merayakan Yubileum 50 tahun berdirinya paroki, umat bersama Pastor dan Dewan Pastoral telah merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru untuk menggantikan gedung yang lama karena selain telah termakan usia, letak dan modelnya pun tidak mendukung lagi untuk menampung jumlah umat sebanyak ini. Sebagai tanda syukur atas perlindungan Tuhan dan doa yang tak kunjung putus dari Santo Antonius Padua, seluruh umat bersama Pastor Paroki berencana membangun Gereja Paroki yang baru yang dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan dan kebesaran Santo Antonius dari Padua. Sebagaimana diketahui bahwa Paroki Nela letaknya sangat strategis persis di pintu masuk ke “Kota Perbatasan Atambua”. Di sana ada tugu selamat datang. Selain sebagai pintu masuk, di paroki Nela juga ada sejumlah situs yang sangat penting seperti Istana Uskup Atambua; Biara Pusat Tarekat Societas Verbi Divini (SVD) Provinsi Timor; Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Atambua; Emaus Pastoral Center (EPC) dengan Aula Dominikus, Wisma Santo Yohanes Vianey dan Tempat Pemakaman Unio KA; Biara Pusat Tarekat Suster-Suster Puteri Maranata (PM) dan Seminari Menengah Santa Maria Immaculata Lalian. Ada juga tempat pendidikan para calon imam: Novisiat SVD Santo Yosef Nenuk dan Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani (TOR) untuk calon imam praja dari tiga keuskupan yaitu Keuskupan Agung Kupang; Keuskupan Weetebula dan Keuskupan Atambua.
Kenyataan-kenyataan inilah yang menjadi motivasi bagi umat Paroki Nela agar di tahun yubileum ini dapat membangun sebuah gedung gereja yang baru, yang lebih representatif. Untuk itu sejak tahun 2018 telah terbentuk Panitia Pembangunan Gereja yang bertanggung jawab atas proses pembangunan itu, dengan susunan kepanitiaannya meliputi: Pastor Paroki Santo Antonius Padua Nela, P. Ireneus Boli Lolan, SVD sebagai Pelindung dan Penasehat didampingi Wakil Bupati Belu periode 2015-2020, Drs. J. T. Ose Luan sebagai putera paroki dan para Camat se-Paroki Nela, yaitu Camat Tasifeto Barat dan Camat Tasifeto Timur. Pada jajaran pelindung dan penasehat, ada juga para Ketua Dewan Pastoral Paroki: Ir. Ale Kayus (Ketua I DPP); Mateus Lorok, S.Pd (Ketua II DPP); Drs. Leonardus Bele (Ketua III DPP) dan tokoh umat lainnya seperti Markus Oematan, Petrus Bone dan Gabriel Moruk.
Ketua Umum panitia pembangunan Gereja Paroki dipercayakan kepada generasi muda yang energik dan semangat yakni Firmus Milkeor We Wanggo, S.IP didampingi Ketua I, Yohanes Christian Klau, ST.MT dan Ketua II, Bonefasius Wempy Rambing, ST. Di bagian sekretariat ada Sekretaris Umum: Yosef M.L. Hello, M. Hum; Sekretaris I: Alfonsius M. Bitin, SKM dan Sekretaris II: Elvis Gabriel Sousa. Bendahara Umum: bapak Kondradus Beru dan dibantu oleh Maria Yohana Bere, S.Pd, MM sebagai Bendahara I.
Selain panitia inti, ada juga sederetan nama yang turut berperan penting, seperti Desain Gambar: Theodorus K. Fanu, ST; Josebius Elu, ST; Fransiskus S. Efi, ST dan Johanes J. Oematan, ST. Bidang Pengawasan: Br. Apolonius Bria, SVD; Orlando Fontes, ST; Yohanes P. Bere, ST dan Ronald Bone, ST.
Di bidang Usaha Dana, ada panitia penggalangan donatur dengan ketuanya, Drs. Mikhael Bria (donatur dari luar daerah); Ferdinanda I. Oematan, S.Kom, MM (donatur dari Pemerintah Daerah); Dr. Thomas Raga, S.STP.M.Si (Koordinator Wilayah Jakarta); Saverius Mau, M.Si (Koordinator Wilayah Yogyakarta) dan Melkior Bria, ST. MT (Koordinator Wilayah Kupang). Selain itu, ada juga penggalangan potensi sumber daya umat dengan koordinatornya, Vinsensius Bere, S.Pt, MM; para Kepala Desa dan Ketua Lingkungan se-Paroki Nela.
Di bidang komunikasi dan publikasi: Yasinta Rinjani Bria, A.Pi, M.Si; Paulus R. Paso, S.Pd; Drs. Agustinus Binsasi; Fransiskus A. Oematan, SP dan Benny Ngalu, S.IP. Di bidang dokumentasi: Petrus Kapir, S.Hut; Adolf Robertho Lino Bone; Hendrikus Manek dan Fransiskus Y. Kun.
Peletakkan batu pertama dilakukan pada tanggal 17 September 2019 oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Atambua, P. Vincentius Wun, SVD. Dalam khotbahnya beliau berharap supaya pembangunan gereja yang baru ini dapat berjalan sesuai rencana yang digariskan panitia. Karena itu diharapkan setelah peletakkan batu pertama, tidak ada lagi batu kedua, dan lain-lain. Artinya jangan sampai tidak selesai atau pembangunannya memakan waktu melampaui target. Demikian mantan Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu yang punya pengalaman membangun gereja ‘raksasa’, menantang panitia dalam kotbahnya itu. Menurut mantan Provinsial SVD Timor ini, umat bersama pastor paroki Nela harus membuktikan diri bahwa paroki ini memiliki jumlah umat yang besar dan berada di pintu gerbang menuju Kota Atambua, Kota Perbatasan.

Peletakkan Batu Pertama oleh P. Vikjen KA

Sketsa tampilan Gereja Paroki Nela yang baru dilihat dari depan (Doc. Panitia)

Menurut perencanaan awal, Gereja baru ini sedianya akan dibangun selama paling lambat 2 tahun sehingga dapat dipakai pada perayaan 50 tahun paroki yakni 1 April 2021. Namun manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Sebagaimana kita ketahui, pada awal tahun 2020, dunia dihantam dengan pandemi Corona Virus sehingga seluruh perencanaan sejak awal tidak dapat berjalan maksimal. Dengan demikian pembangunan masih harus dilanjutkan usai Covid-19 ini. Kita berharap dengan bantuan Tuhan dan doa Santo Antonius dari Padua, serta kerjasama yang baik panitia dan para tukang yang terlibat langsung, pembangunan gereja baru paroki dapat diselesaikan paling lambat pada tahun 2023.
Dengan doa yang tak kunjung putus, umat Paroki Santo Antonius Padua Nela terus berharap kiranya Tuhan berkarya melalui para donatur dan penderma sebagaimana diajarkan oleh Santo Arnoldus Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah (SVD) bahwa kita bekerja saja, uang ada di saku para penderma. Mudah-mudahan segala sesuatu yang telah direncanakan dengan baik dan teratur oleh panitia direstui Tuhan berkat bantuan doa Santo Antonius Padua sehingga semuanya menjadi indah pada waktunya (bdk. Pkh 3: 18).

Rencana Perayaan Yubileum 50 Tahun

Dalam rangka perayaan Yubileum 50 tahun berdirinya paroki, ada beberapa agenda kegiatan telah digariskan bersama dalam rapat Dewan Pastoral Paroki (Minggu, 11/4-2021), yakni: pertama, Seminar dan launching buku “Santo Antonius Padua: Orang Kudus yang Sakti dan Pelindung Paroki yang Saleh” yang ditulis dan dipersembahkan khusus oleh Bapak Yosef M.L. Hello, S.Pd.M.Hum; kedua, Novena agung Santo Antonius Padua (tanggal 4-12 Juni); ketiga: Usaha penggalian dana untuk pembangunan Gereja yang baru; dan keempat: Misa syukur 50 tahun paroki pada tanggal 13 juni 2021.

Untuk itu telah terbentuk sebuah panitia pelaksana Perayaan Yubileum 50 tahun paroki dengan ketuanya: Ibu Yasintha Rinjani Bria, S.Pi.M.Si. Pastor Paroki, Pater Ireneus Boli Lolan, SVD menyambut gembira rencana DPP tersebut dan terutama untuk merayakan pesta Santo Antonius Padua, katanya:
“Santo Antonius Padua adalah salah satu orang kudus ajaib yang oleh banyak umat beriman dijadikan sebagai pelindung dan pendoa bagi paroki dan sekolah. Kita kagum dan bangga kepada orang kudus ajaib ini karena kata dan perbuatan yang dia miliki. Sesungguhnya kekaguman dan kebanggaan kita itu tidak hanya sebatas pada luapan emosional belaka yang bisa sirnah oleh rutinitas hidup harian, tetapi lebih dari itu menumbuhkan suatu semangat iman untuk meniru kepribadian dan cara hidup yang dia miliki”, demikian Pater Iren dalam Kata Pengantar Buku Santo Antonius Padua itu.

Karena itulah umat paroki Nela bersiap-siap untuk meraya-riakan Pesta Yubileum 50 Tahun berdirinya paroki dengan pelindung Santo Antonius Padua.***(Kontributor: Sekretariat Paroki Nela)

Acara peletakkan Batu Pertama pembangunan Gereja baru oleh Vikjen KA, P. Vincentius Wun SVD: “Hanya satu kali letakkan batu!” (Foto Doc. Panitia)

Editor : Yosef M.L. Hello

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here