Perayaan Misa Penerimaan jubah para frater TOR Lo’o Damian angkatan XXXII (Foto: Oka)

Keuskupanatambua.org – Bertepatan dengan hari Raya Santa Perawan Maria yang dikandung tanpa noda hari ini (Rabu, 8/12/2021), ada 72 frater Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian Emaus menerima jubah, pakaian rohani yang menandakan suatu babak baru bagi perjalanan panggilan mereka ke depannya. Para fater TOR yang hari ini menerima jubah merupakan frater angkatan ke-32 dari rumah pembinaan TOR Lo’o Damian Emaus. Pakaian rohani ini diterimakan kepada ke-72 frater oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr, Uskup Atambua. Dalam bingkai tema besar “Belajar Taat Seperti Bunda Maria” ke-72 frater dengan mantap menerima dan mengenakan baju rohani ini dalam suasana yang kidmat.

Mereka telah memulai pembinaan di TOR Emaus sejak Juli 2021. Setelah bergelut dengan berbagai kegiatan rohani selama hampir 5 bulan, hari ini mereka diperkenankan untuk menerima pakaian rohani, jubah yang menandai perjalanan mereka yang panjang menuju imamat suci. Mereka yang berjumlah 72 orang ini berasal dari tiga keuskupan yaitu Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Weetebula dengan rincian sebagai berikut 29 frater dari Keuskupan Agung Kupang, 36 frater dari Keuskupan Atambua, dan 7 frater dari Keuskupan Weetebula.

Dalam homilinya Uskup Domi memberikan pesan yang cukup tegas kepada para frater agar mereka tetap setia di jalan panggilan ini. Pembinaan di tahun orientasi rohani Lo’o Damian Emaus berlangsung kurang lebih 10 bulan. Dalam pembinaan itu, menurut Mgr. Domi, doa tidak sekedar doa seperti Seminari Menengah. Di TOR sudah mulai dilatih doa Brevir, Lectio Divina, dan doa-doa yang lebih mendalam ditambah dengan pembinaan keutamaan imamat yang lain.

Selanjutnya dalam refleksinya lebih lanjut dalam terang bacaan-bacaan suci hari ini, Bapak Uskup menggambarkan masa dari bulan Juli hingga 8 Desember hari ini sebagai masa kejatuhan Adam dan Hawa atau yang dinamakan kejatuhan dalam dosa yang diungkapkan dengan perasaan malu karena mereka telanjang.

“Para frater selama lima bulan itu secara rohani Anda telanjang. Lewat kegiatan-kegiatan rohani dan doa-doa, para frater dihantar untuk menyadari ketelanjangan secara rohani di hadapan Tuhan. Tidak ada jaminan keselamatan, dan jauh dari Tuhan”, katanya. “Perjalanan menuju imamat suci masih panjang. Dalam perjalanan itu tidak dipungkiri bahwa banyak tantangan dan cobaan yang akan terus mengganggu”, Demikian Uskup Domi.

Mereka (ke-72 orang frater) diberi pakaian rohani untuk langkah lebih lanjut ke tahbisan imamat. Allah menganugerahi kita dengan karunia imamat yang terkait dengan satu hal tetapi diungkapkan lewat beberapa istilah. Pertama adalah kekudusan atau kesucian. Lambang kesucian atau kekudusan itu adalah jubah putih. Yang kedua diungkapkan juga dengan kesempurnaan hidup yang merupakan karunia atau rahmat cuma-cuma dari Tuhan. Selain itu juga diungkapkan dengan keselamatan.

“Begitu menerima jubah seorang frater, bruder, dan suster telah mengenakan jubah berarti dia harus menghayati kekudusan, kesucian, dan keselamatan yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah dengan cuma-cuma ” lanjutnya.

Misa penerimaan jubah ini berlangsung hampir dua jam. Banyak umat yang hadir dalam perayaan hari ini dengan tetap memperhatikan prokes.

Para Frater TOR mengenakan jubah yang baru diterima sedang berarak menuju depan altar perayaan misa (Foto: Oka)

Praeses TOR Loo Damian, RD. Yustus Ati Bere dalam sambutannya menyampaikan pujian dan syukur karena hari ini kita telah merayakan pesta Santa Perawan Maria yang dikandung tanpa noda. Menurutnya, angkatan ini sebenarnya berjumlah 79 tetapi yang akhirnya datang ke TOR Lo’o Damian Emaus ini hanya 73 frater. Dari 73 frater ini satu orang telah memilih jalan lain sehingga hari ini yang menerima jubah 72 orang. Mereka telah mengalami banyak proses di TOR lewat kegiatan-kegiatan rohani dan olah fisik.

Selanjutnya dalam amanatnya, Bapak Uskup kembali menegaskan agar orang tua mendukung para frater dengan doa, bukan dengan foto-foto. Bersyukur karena Gereja Nusa Tenggara Timur tidak pernah kekurangan panggilan. Dalam Sinode yang sedang berlangsung dari tahun 2021 hingga 2023 Keuskupan Atambua bersama Keuskupan Agung Kupang dan Weetebula mendapat tugas untuk merefleksikan tema tentang tanggung jawab untuk karya misi. Pertama ada dua jenis misi yaitu misi ad extra dan misi ad intra. Menurut Uskup Domi, dari ketiga keuskupan di Nusa Tenggara bagian Selatan ini meskipun panggilan melimpah tetapi kita masih tetap kekurangan imam dan suster. Kita salah gunakan rahmat karena rahmat itu seringkali tidak bertumbuh dan berkembang. Kedua, panggilan yang subur selalu berkaitan dengan kemiskinan. Kita masih miskin secara ekonomis. Karena itu, beliau menandaskan agar menjadikan doa sebagai bagian dari hidup kita sehingga pelayanan para imam dan biarawan/i juga memberikan nilai agar nilai perkembangan yang sejati dapat mewarnai panggilan di wilayah ini.

Uskup Domi juga berterima kasih kepada para Romo pembina dan juga keluarga besar Emaus yang telah mempersiapkan para frater sehingga acara penerimaan jubah hari ini berjalan dengan baik. “Semoga jubah ini semakin menguatkan panggilan dan menambah semangat dalam doa dan hal-hal kerohanian lainnya”, pesannya kepada para frater.

Profisiat untuk ke 72 frater angkatan ke-32 dari rumah pembinaan para frater TOR Lo’o Damian Emaus – Lalian Tolu.

Laporan/Penulis: Okto Klau                 Editor: Yosef Hello

SHARE