
Kupang, KeuskupanAtambua.org – Profil dan Refleksi Frater Yakobus Adrianus Atolan Bauk yang akan Ditahbiskan menjadi Diakon – Motto ; “Rendahkanlah Dirimu di Hadapan Tuhan” (Yakobus 4:10)
Dalam keheningan pagi yang dibasahi embun rahmat, suara lembut yang menggetarkan jiwa kembali terdengar—bukan suara asing, melainkan suara yang dikenali oleh hati yang telah belajar mendengarkan. Bisikan lembut namun menggugah hati: “Marilah dan lihatlah” (Yoh. 1:39). Bukan sekadar ajakan, melainkan panggilan untuk melangkah keluar dari diri, untuk tinggal bersama dan menjadi serupa dengan Dia yang memanggil. Panggilan ini perlahan namun pasti meresap dalam batin seorang anak dari Halilulik, yang kini dikenal sebagai Fr. Yakobus Adrianus Atolan Bauk—atau akrab disapa Fr. Jecky.
Fr. Jecky lahir pada 25 Juli 1997, bertepatan dengan pesta liturgi St. Yakobus Rasul. Maka tidak mengherankan jika nama Yakobus diberikan sebagai pelindung dan penuntun panggilannya. Ia adalah anak sulung dari delapan bersaudara, buah kasih pasangan Emanuel Bauk dan Maria Alupan. Keluarga sederhana ini kaya akan iman dan pengorbanan. Ayahnya adalah seorang katekis tangguh yang mengabdi selama 33 tahun di Paroki Roh Kudus Halilulik. Ia dikenal karena kesetiaannya berjalan masuk-keluar hutan, menyeberangi sungai, dan menembus badai demi menabur firman Tuhan. Sang ibu, meski hanya berpendidikan dasar, memiliki banyak keterampilan: menjahit, menenun, memasak, dan memimpin komunitas doa. Dari keduanya, Fr. Jecky belajar bahwa hidup bukan soal memiliki banyak, melainkan memberi sebanyak mungkin dari yang sedikit.
Lingkungan di mana Fr. Jecky tumbuh merupakan ladang subur bagi iman. Rumah mereka berdekatan dengan gereja. Ia terbiasa berinteraksi dengan para imam dan suster serta terlibat aktif dalam hidup liturgis. Dibaptis saat bayi, menerima Komuni Pertama dan Krisma di usia kanak-kanak, ia terus tumbuh dalam irama hidup Gereja dan tradisi Katolik. Meskipun awalnya belum menyadari panggilannya sebagai imam, kasih Tuhan tak pernah absen dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDK Halilulik, lalu dilanjutkan ke SMPK Hati Tersuci Maria Halilulik. Di sinilah benih panggilannya bertumbuh semakin kuat. Ia aktif sebagai misdinar, pelatih koor, bahkan melatih rekan-rekan misdinar sejak kelas IV SDK. Pengalaman melayani sejak dini menumbuhkan keberanian dan kepemimpinan yang kelak menjadi kekuatannya.
Pada tahun 2012, ia memutuskan masuk ke Seminari Menengah Lalian. Keputusan ini bukan perkara mudah. Ayah dan ibunya sempat diam dan cemas. Namun di balik keheningan itu tersembunyi restu yang dalam, karena mereka percaya Tuhan akan menyempurnakan karya yang telah dimulai-Nya. Di Seminari Lalian, Fr. Jecky menghadapi medan formasi yang keras dan disiplin. Banyak teman seangkatannya yang mundur, tetapi ia memilih bertahan. Semboyan “keluar dari diri” menjadi prinsip hidup yang ia hidupi sepenuh hati. Ia dipercaya menangani keamanan, memimpin kerja tangan, bahkan mendapat julukan “kaka nekat bodoh”—istilah akrab di antara teman seangkatannya. Dalam tantangan, ia belajar tentang kesetiaan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam memikul tanggung jawab.
Panggilan itu terus dibentuk dalam Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Seminari Lo’o Damian Emaus. Relasinya dengan Tuhan semakin mendalam. Pengalaman nyaris tidak menerima jubah karena alasan akademik menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Di sanalah ia belajar bahwa panggilan bukan soal kelayakan, tetapi soal ketaatan dan kerelaan untuk dibentuk. Dari pengalaman itu lahirlah ungkapan yang terus dipegangnya hingga kini: “Sekarang dan selama-lamanya,” sebagai bentuk penyerahan total kepada Tuhan yang setia menyertai.
Tahun 2017, Fr. Jecky melanjutkan studi filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Di sana, ia menimba ilmu dan merenungkan makna terdalam tentang manusia, dunia, dan Allah. Baginya, filsafat bukan hanya teori, tetapi jalan menuju kebenaran. Ia menyadari bahwa imam harus menjadi “jawaban”, bukan “masalah” bagi Gereja. Maka, kebenaran itu harus dihidupi, bukan sekadar dijaga.
Setelah menyelesaikan studi filsafat, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Lalian (2021–2023). Sebagai alumni dan kini menjadi pembina, ia bertanggung jawab besar untuk menjadi saudara dan panutan bagi para seminaris muda. Ia menjalani peran sebagai guru, sahabat, dan gembala kecil. Dalam refleksi, ia menyadari bahwa kedisiplinan yang menjadi kekuatannya terkadang dapat melukai relasi. Ia pun belajar mengembangkan keberanian kreatif, berkomunikasi terbuka, dan membangun komunitas bukan hanya dengan peraturan, tetapi dengan hati.
Pada 2023, Fr. Jecky kembali ke Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang untuk mendalami teologi. Di sinilah ia melanjutkan formasi dalam empat dimensi: spiritual, intelektual, personal, dan pastoral. Doa harian, Ekaristi, pengakuan dosa, adorasi, serta Kitab Suci menjadi napas hidupnya. Ia menghayati keheningan bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai tempat perjumpaan dengan Allah yang membentuk dan menyembuhkan. Ia menyadari bahwa kemampuan intelektual mesti disertai dengan hati nurani yang jernih. Maka, berpikir sistematis harus berjalan seiring dengan kerendahan hati di hadapan misteri iman.
Dalam formasi manusiawi, ia terus menumbuhkan relasi yang sehat dan bermakna, menjadi man for others, hadir bukan sekadar sebagai pemimpin, tetapi sebagai saudara dan sahabat. Pelayanan pastoral menjadi ruang nyata untuk menguji seluruh aspek formasi. Melalui pelayanan liturgi, kunjungan umat, asistensi Natal dan Paskah, ia makin mengerti bahwa panggilan ini bukan miliknya, tetapi milik Tuhan yang dipercayakan kepadanya.
Dalam seluruh proses panggilannya, Fr. Jecky menghayati tiga nasihat Injili: ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Bagi dia, ketaatan bukan hanya soal menjalankan perintah, tetapi kesediaan untuk mencari dan mengikuti kehendak Allah. Kemiskinan bukan sekadar tidak memiliki, tetapi hidup dalam kesederhanaan dan sikap berbagi. Kemurnian (selibat) bukan sekadar pilihan, tetapi pernyataan cinta yang tak terbagi kepada Tuhan.
Moto tahbisan yang ia pilih, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:10), menjadi pusat refleksi panggilannya. Kerendahan hati baginya bukan kelemahan, tetapi kekuatan sejati. Dalam jatuh dan bangun, dalam studi maupun dinamika komunitas, ia belajar untuk selalu merendahkan hati di hadapan Tuhan yang memanggil dan menyertai. Moto itu bukan sekadar kutipan Kitab Suci, tetapi cermin seluruh hidupnya—jalan pengosongan diri agar Allah sendiri yang mengisinya dengan kasih dan rahmat.
Seperti mengayuh sepeda di tanjakan, Fr. Jecky terus menjaga keseimbangan dan ketekunan—dua sahabat yang menemaninya sejak awal. Ia tahu, perjalanan ini belum berakhir. Namun satu hal yang pasti: ia melangkah dengan hati yang direndahkan, agar Tuhan sendirilah yang meninggikannya.
Ditulis oleh:
Fr. Nahazon da Costa, Tingkat III
Diedit oleh:
Rm. Yudelfianus Fon Neno, Pr
Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang
Dalam rangka Tahbisan Diakon, Sabtu, 31 Mei 2025
Oleh: Mgr. Dominikus Saku, Pr – Uskup Atambua
