Browsing: Uncategorized

Oleh karena itu, membina dialog terbuka menuntut disiplin intelektual yang jelas yakni bahwa berpikir tanpa verifikasi akan melahirkan prasangka, dan berdiskusi tanpa keterbukaan akan bermuara pada penghakiman. Asumsi adalah dugaan yang menunggu klarifikasi; sebaliknya, prasangka adalah dugaan yang menolak klarifikasi. Bagi prasangka, klarifikasi tidak lagi relevan, karena kesimpulan telah ditetapkan sejak awal.

Beliau mengaitkan pesan-pesan itu dengan tema umum pertemuan, yakni OMK Berziarah: Cerdas dalam Iman, Sejahtera dalam Hidup, dan Bergembira Memikul Salib. Ziarah iman orang muda bukanlah perjalanan tanpa arah, melainkan proses yang memerlukan kebijaksanaan dan ketekunan. OMK yang beriman tetapi tidak cerdas akan mudah terseret dalam arus yang salah. OMK yang cerdas tetapi tidak beriman akan kehilangan pusat yang memberi makna hidup. Keduanya harus berjalan seiring agar hidup orang muda tidak kehilangan arah.

Moto tahbisan yang ia pilih, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:10), menjadi pusat refleksi panggilannya. Kerendahan hati baginya bukan kelemahan, tetapi kekuatan sejati. Dalam jatuh dan bangun, dalam studi maupun dinamika komunitas, ia belajar untuk selalu merendahkan hati di hadapan Tuhan yang memanggil dan menyertai. Moto itu bukan sekadar kutipan Kitab Suci, tetapi cermin seluruh hidupnya—jalan pengosongan diri agar Allah sendiri yang mengisinya dengan kasih dan rahmat.