keuskupanatambua.org,- Mengawali tahun Pastoral 2021, Keuskupan Atambua mengadakan raker lintas komisi demi efektivitas kerja, Senin(11/01/2021). Raker ini dipimpin langsung oleh Yang Mulia Uskup Dominikus Saku yang dihadiri semua Ketua Komisi, Sekretaris dan para Deken se- Keuskupan Atambua.

Raker ini bertujuan untuk mendengarkan refleksi atau evaluasi para ketua Komisi atas work from home (wfh) pastoral selama tahun 2020 dan memberikan usul saran  atau rencana pastoral apa yang hendak dilakukan pada tahun 2021 di tengah situasi Covid-19 ini.

Seperti biasa, raker dibuka dengan doa dan menyebutkan visi-misi dan slogan Keuskupan Atambua. Dilanjutkan dengan pengantar refleksi oleh Vikjen, P. Vinsentius Wun, SVD  selaku Pelaksana Harian Puspas Keuskupan Atambua. Selanjutnya penyampaian refleksi dari masing-masing Ketua Komisi atau sekretaris komisi.

Dari refleksi yang disampaikan para ketua Komisi terlihat jelas bahwa pandemi ini telah membawa dampak perubahan besar di banyak segi kehidupan terutama dalam hubungan dengan pelayanan di bidang pastoral. Banyak kegiatan yang telah terkalender pada tahun 2020 tidak bisa dilaksanakan. Umat juga dibawa ke sebuah babak baru dalam berliturgi antara lain misa online dan ibadat sabda tanpa imam di rumah masing-masing.

”Di tengah pandemi Covid-19 ini kegiatan-kegiatan liturgi dirayakan teristimewa dalam keluarga-keluarga, misa online dan ibadah-ibadah” begitu yang disampaikan Rm. Eman Kiik sebagai Sekretaris Komisi Liturgi. Sementara itu dari Komisi Keluarga melihat bahwa pandemi ini membawa sesuatu yang positif karena ternyata dengan pandemi ini semangat untuk kembali ke keluarga dan dekat kembali dengan keluarga tidak surut.

“Semangat untuk hidup keluarga di tengah pendemi tidak surut walaupun di mana-mana banyak tantangan dan kesulitannya sendiri-sendiri”, ujar Rm. Sipri Tes Mau, Sekretaris Komisi Keluarga Keuskupan Atambua.

Uskup Domi: “Covid-19 membawa perubahan besar dalam karya pastoral” (foto dok.pribadi)

Sementara itu dalam refleksi dan arahannya, Uskup Domi kembali menyentil bahwa secara kuantitas banyak kegiatan pastoral 2020 tidak berjalan sebagaimana yang telah direncanakan dan terkalender. Inilah tantangan bagi Keuskupan ini untuk kembali mempertanyakan apakah selama ini kita sudah memiliki arah pastoral yang benar. Bagi Bapak Uskup, situasi Covid ini merupakan kesempatan bagi kita yang biasanya sibuk untuk duduk dan diam supaya kita tahu bersimpuh di depan Tuhan dan kita dibantu untuk bisa ke dalam diri kita sendiri karena kegiatan formal legal bisa menjadikan kita tidak berjumpa dengan diri kita sendiri.

“Untuk saya, ini adalah yang penuh rahmat sekaligus tantangan karena hal tersulit adalah untuk mempunyai waktu supaya duduk bersimpuh di hadapan Tuhan, bertemu dengan Tuhan, dan diajak untuk masuk ke dalam diri sendiri”, lanjutnya. Ada tiga hal yang menjadi catatan Bapa Uskup yaitu pertama covid ini mengajarkan kita untuk duduk dan diam untuk berjumpa dengan Tuhan dan kembali ke dalam diri sendiri. Kedua, Covid ini mengarahkan kita untuk melihat apa yang seharusnya kita buat agar apa yang telah kita rumuskan dalam kata-kata yang bagus tidak terjerumus ke dalam bahaya hanya menjadi kata-kata kosong. Ketiga, Covid ini mengembalikan kita ke dunia yang lebih luas yaitu kembali ke alam dan ke dalam hubungan kita dengan sesama di mana kita perlu berjarak untuk kembali melihat sejauh mana kualitas hubungan kita dengan sesama selama ini terjalin.

Rapat kerja lintas komisi ini berlangsung baik dan tetap menerapkan protokol covid-19. Raker diakhiri dengan berkat Bapa Uskup bagi semua pelayan pastoral.***OK

Kontributor: Oktovianus Klau
Foto-foto  : Rm.Ino Nahak (Komsos KA)
Editor      : Yosef M.L Hello

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here