
ATAMBUA, KeuskupanAtambua.org – Sebanyak 34 imam Keuskupan Atambua mengakhiri kegiatan ret-ret Gelombang V yang berlangsung sejak Minggu (11/10/2026) hingga Jumat, 16 Oktober dan akan sayonara pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan pembinaan rohani yang dibimbing oleh Rm. Sipri Senda, Pr, ini menjadi kesempatan bagi para imam untuk memperbarui semangat hidup dan pelayanan melalui permenungan Kitab Suci dengan pendekatan Lectio Divina. Tema yang menyertai seluruh perjalan rohani ini adalah Panggilan dan Perutusan para Murid dalam Perjanjian Baru.

Selain memperdalam kehidupan spiritual, ret-ret ini juga menegaskan pentingnya keterbukaan terhadap koreksi diri, pemeliharaan persaudaraan imamat, serta tanggung jawab moral dalam pelayanan pastoral.

Berbeda dari pendekatan ret-ret yang lebih banyak diisi dengan pemaparan materi, kegiatan kali ini memberikan ruang yang cukup luas bagi para peserta untuk mengolah pengalaman hidup dan panggilan imamat secara pribadi. Tokoh-tokoh Kitab Suci dijadikan sebagai sumber inspirasi sekaligus cermin untuk menilai kembali kualitas hidup dan pelayanan para imam.

Kesan mendalam atas pendekatan tersebut disampaikan oleh salah seorang imam senior Keuskupan Atambua, Rm. Sindus Tae, Pr, mewakili para Peserta Ret-Ret, dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Sipri Senda, Pr – Pembimbing Ret-ret. Dalam penyampaian kesannya, ia mengapresiasi keterbukaan dan ketegasan materi yang dibawakan oleh pembimbing ret-ret.

Rm. Sindus mengawali kesannya dengan mengenang pengalaman pembinaan rohani ketika mengikuti Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Ritapiret, Flores, bersama almarhum Rm. Anton Naben, saat itu. Menurut dia, pendekatan yang digunakan Rm. Sipri memiliki kesamaan dengan pesan yang pernah ditekankan Rm. Anton Naben, yakni menjadikan Kitab Suci sebagai sarana untuk mengoreksi diri.
“Gunakan Kitab Suci untuk mengoreksi diri,” demikian pesan Rm. Anton Naben yang kembali dikenang Rm. Sindus dalam kesempatan tersebut.
Menurut Rm. Sindus, keberanian menghadirkan tokoh-tokoh Kitab Suci sebagai bahan permenungan sesungguhnya merupakan undangan untuk menilai kembali perilaku dan sikap hidup seorang imam. Dengan demikian, Kitab Suci tidak berhenti sebagai bahan bacaan dan pengetahuan, tetapi menjadi kekuatan pembaruan yang menyentuh kehidupan konkret. Ia juga menilai bahwa materi yang disampaikan selama ret-ret memiliki karakter keterusterangan yang kuat.

Berbagai persoalan kehidupan imamat yang pada masa sebelumnya cenderung tersembunyi atau kurang dibicarakan secara terbuka, kini dihadirkan sebagai bagian dari proses refleksi bersama. Bagi Rm. Sindus, keterusterangan tersebut justru memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam membangun kehidupan imamat yang semakin matang.
Selain mengapresiasi pendekatan permenungan, Rm. Sindus menekankan pentingnya persaudaraan imamat yang dibangun di atas dasar kasih dan keberanian untuk saling mengingatkan.
Menurut dia, koreksi terhadap kehidupan seorang imam tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk permusuhan atau tindakan merendahkan martabat pribadi. Sebaliknya, kesediaan untuk mengoreksi dan menerima koreksi merupakan bagian penting dari persaudaraan yang autentik.
Persaudaraan yang dilandasi cinta kasih, katanya, menuntut keberanian untuk menyampaikan teguran secara langsung dan pribadi, bukan membicarakan kekurangan sesama di belakangnya.
Dalam konteks kehidupan para imam sebagai satu kesatuan korps, Rm. Sindus mengingatkan bahwa setiap imam memiliki tanggung jawab moral untuk memperhatikan kehidupan sesamanya.
Ia menilai bahwa persoalan yang dialami seorang imam tidak semata-mata berdampak pada pribadi bersangkutan, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan umat terhadap kehidupan dan pelayanan para imam secara keseluruhan.
Karena itu, solidaritas antarsesama imam perlu diwujudkan melalui perhatian, pendampingan, serta keberanian memberikan nasihat yang membangun.
Rm. Sindus juga menyinggung tantangan kehidupan sosial dewasa ini, terutama berkaitan dengan kemerosotan etika publik. Dalam situasi tersebut, para imam dituntut untuk semakin memperhatikan sikap, perilaku, dan cara membangun relasi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan pastoral. Menurut dia, cara seorang imam bergaul dan menempatkan diri di tengah masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesaksian hidupnya.
Lebih jauh, Rm. Sindus memandang seluruh rangkaian permenungan yang disampaikan oleh Rm. Sipri sebagai bentuk penyertaan dan kebaikan Tuhan bagi para imam.
Ia meyakini bahwa Tuhan dapat menggunakan seorang pembimbing ret-ret sebagai sarana untuk menyampaikan teguran, nasihat, dan ajakan pembaruan kepada para peserta.
Meskipun materi disampaikan secara terus terang, keterusterangan itu justru dipahami sebagai ungkapan kebaikan Tuhan yang menghendaki pertumbuhan hidup para imam.
Rm. Sindus juga memberikan apresiasi terhadap pengaturan waktu selama kegiatan berlangsung. Menurut dia, ret-ret terasa ringan karena para peserta memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan refleksi pribadi.
Baginya, ret-ret bukan sekadar agenda pembinaan rohani, melainkan kesempatan berahmat untuk kembali bertemu, mempererat persaudaraan, dan memperbarui komitmen panggilan.
“Kami pulang dan membawa sesuatu untuk setahun ini,” ungkapnya, menggambarkan harapan agar seluruh pengalaman rohani yang diperoleh selama ret-ret terus dihidupi dalam perjalanan pelayanan berikutnya.

Sementara itu, pembimbing ret-ret, Rm. Sipri Senda, Pr, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Uskup Atambua dan Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk membimbing kegiatan ret-ret dalam dua gelombang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam proses refleksi bersama.
Rm. Sipri menjelaskan bahwa materi yang disajikan selama ret-ret sesungguhnya merupakan bahan permenungan yang sederhana. Pendekatan yang digunakannya bertumpu pada metode Lectio Divina, yakni pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara mendalam untuk menemukan relevansinya bagi kehidupan.
Menurut dia, pendekatan tersebut tidak hanya bermanfaat dalam konteks pembinaan rohani pribadi, tetapi juga dapat menjadi bantuan berharga bagi para imam dalam mempersiapkan khotbah dan mengembangkan pelayanan pewartaan. Melalui metode ini, para imam diajak untuk kembali kepada sumber utama kehidupan dan pewartaan mereka, yakni Kitab Suci.
Rm. Sipri juga menegaskan pentingnya pengaturan waktu dalam kegiatan ret-ret. Kesempatan untuk berada dalam keheningan dan melakukan permenungan secara pribadi dinilainya sebagai bagian yang sangat menentukan dalam proses pengolahan diri. Ia melihat bahwa kesaksian hidup sejumlah imam senior turut memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan imamat. Pengalaman dan ketekunan mereka menjadi sumber inspirasi yang memperkaya proses refleksi bersama.
Secara khusus, Rm. Sipri mengapresiasi suasana keheningan yang terbangun selama berlangsungnya ret-ret gelombang V. Menurut dia, keheningan yang dijaga oleh para peserta merupakan hal positif karena memungkinkan setiap pribadi memasuki proses refleksi secara lebih mendalam.
Baginya, ret-ret merupakan waktu yang kaya untuk melakukan pengolahan diri, meninjau kembali perjalanan panggilan, serta memperbarui kesadaran akan tanggung jawab pelayanan.
Rm. Sipri turut menyampaikan terima kasih kepada Direktur Emaus Pastoral Center beserta seluruh pihak yang telah menyediakan akomodasi dan pelayanan konsumsi selama kegiatan berlangsung

Pada kesempatan yang sama, Direktur Emaus Pastoral Center (EPC), Rm. Frederick Oeleu, Pr, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Rm. Sipri Senda atas kesediaannya membimbing para imam dalam kegiatan Ret-Ret Gelombang V.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta yang berjumlah 34 imam atas partisipasi dan kebersamaan selama kegiatan berlangsung.
Selain menyampaikan apresiasi, Rm. Frederick mengajak para imam untuk terus membangun kepedulian terhadap sesama imam, khususnya mereka yang telah memasuki masa purnabakti.
Ia secara khusus mengajak para peserta untuk meluangkan waktu mengunjungi para imam yang tinggal di rumah purnabakti.
Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa persaudaraan imamat tidak berhenti pada kebersamaan dalam kegiatan resmi atau aktivitas pelayanan, tetapi perlu diwujudkan melalui perhatian konkret terhadap sesama, termasuk para imam yang telah menyelesaikan tugas pelayanan aktif.
Dengan berakhirnya Ret-Ret Gelombang V, para imam diharapkan kembali ke tempat pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui.
Pengalaman selama sepekan, terutama melalui permenungan Kitab Suci, keheningan, evaluasi diri, dan perjumpaan persaudaraan, menjadi bekal untuk menjalani tugas pastoral dengan kesadaran dan tanggung jawab yang semakin mendalam.
Pada akhirnya, ret-ret ini tidak hanya meninggalkan sejumlah bahan permenungan, tetapi juga membawa pesan bahwa pembaruan kehidupan imamat perlu berlangsung secara terus-menerus.
Semangat baru yang dibawa pulang para peserta menemukan maknanya ketika keterbukaan untuk dikoreksi, kesetiaan pada Kitab Suci, dan kepedulian terhadap sesama benar-benar diwujudkan dalam kehidupan serta pelayanan sehari-hari.
oleh Rm. Yudel Neno, Pr

