keuskupanatambua.org, -Credit Union Kasih Sejahtera (CUKS) telah memasuki usia ke-14 tahun ini. Bersamaan dengan ulang tahun ini, diresmikan pula Kantor Pusat Pelayanan CU Kasih Sejahtera yang baru.
Dalam rangka perayaan ulang tahun dan peresmian Kantor, maka ada beberapa rangkaian acara yang telah dirancang oleh panitia. Rangkaian acara itu berlangsung selama tiga hari, mulai dari acara adat hari pertama, acara seminar dan bedah buku pada hari kedua dan ditutup dengan perayaan Ekaristi dan peresmian kantor pada hari ketiga.
Kamis, 19 Agustus 2021 ada acara seminar dan bedah buku yang bertempat di Auditorium lantai empat gedung baru kantor Pusat Credit Union Kasih Sejahtera. Meskipun masih dalam situasi pandemi tetapi acara tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Mulai dengan cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh, dan menjaga jarak yang telah diatur di ruang seminar. Bahkan setiap peserta diwajibkan untuk melakukan Rapid Test di depan pintu masuk gedung setelah acara selesai. Acara seminar dan bedah buku sungguh padat. Mulai dengan seminar yang berlangsung secara virtual dengan nara sumber Rm. Dr. Fredy Rante Taruk, Pr imam projo Keuskupan Agung Makassar yang sekaligus merupakan ketua CARINA KWI.
Dalam Seminar virtual yang sempat terganggu dengan padam listrik, Romo Fredy menekankan banyak hal terutama menyoal tentang CU Kasih Sejahtera. Tema Seminar adalah CU Kasih Sejahtera Menjadi CU Berbasis Pemberdayaan Komunitas dengan Standar Access Branding untuk Kesejahteraan Anggota. Tema ini sangat menarik karena membahas standar yang mesti dipenuhi oleh sebuah CU atau Kopdit agar bisa dinilai sehat baik dari segi keuangan, managemen, dan anggotanya. Romo Fredy cukup antusias memberikan masukan sekaligus kritikan kepada CU KS agar menjadi CU yang bisa mencapai standar access branding. Pertama-tama Romo Fredy mengapresiasi CU Kasih Sejahtera yang telah bertumbuh dengan cepatnya di wilayah Keuskupan Atambua. Masuknya CUKS di Keuskupan Atambua tidak lepas dari keprihatianan Gereja terhadap umatnya dimana kemiskinan menjadi sangat akrab. Gereja berupaya melalui CU untuk memberdayakan ekonomi umat yang tidur. Tujuan utamanya adalah membawa umat kepada kesejahteraan lahir batin. Menurut Romo CU yang berafiliasi dengan Gereja umumnya lahir dari rahim PSE. Karena itu CU bertujuan menyejahterakan anggotanya baik secara sosial maupun ekonomi. Untuk sampai pada tujuan itu maka tata pengelolaan CU harus dilakukan secara professional sesuai dengan standar Access Branding. Basis pengelolaannya ada pada pemberdayaan anggota dalam Komunitas.
CU dan Gereja Katolik erat kaitannya karena terus mendapat perhatian di paroki-paroki dan PSE Keuskupan termasuk Keuskupan Atambua. Mengapa CU mendapat dukungan Gereja itu karena tiga alasan menurut Romo Ketua CARINA KWI ini. Alasan pertama adalah alasan ekonomi yaitu ekonomi yang berkeadilan. Alasan kedua adalah alasan sosial yaitu solidaritas, nilai, modal sosial, budaya, dan komunitas hidup bersama. Alasan ketiga adalah alasan pembangunan berkelanjutan sebagai lokomotif pemberdayaan yaitu peningkatan pendapatan dan perbaikan berbagai aspek kehidupan menuju kesejahteraan bersama.
Access Branding yang dimaksud adalah sebagai alat ukur dan merupakan sebuah pilihan kompetitif untuk pelayanan yang lebih prima. Pertanyaanya, apa yang harus diukur. Yang diukur adalah kesehatan dan persaingan di pasar dalam hal ini kualitas Credit Union itu sendiri. Di dalamnya ada juga indikator-indikator untuk mengukur dengan melihat pada perspektif keuangan CU, perspektif anggota, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Dalam diskusi yang dibagi dalam dua sesi juga ada perbincangan yang hangat. Diskusi dipandu oleh moderator Romo Gregorius Sainudin Dudy, Pr. Dalam menanggapi pertanyaan dari para peserta seminar Romo Fredy kembali menegaskan peran penting dari CU dimana CU mengangkat orang lebih tinggi, mengangkat orang melihat realitas dan menarik orang melalui kelompok diskusi dan mencari solusi. Solusi itu dari masyarakat itu sendiri tetapi CU harus menemani mereka. Karena itu CU harus bisa menemukan metode pendampingan masyarakat yang cocok. CU harus memberdayakan karena itu harus lebih banyak turun dan berjumpa dengan masyarakat. Harus ada pembagian presentasi kantor dan di lapangan secara jelas. Para staf dan managemen bukan orang kantoran yang hanya duduk dan melayani kredit tetapi harus lebih dari itu yaitu turun langsung ke masyarakat dan berjumpa dengan mereka. Perjumpaan yang terus-menerus akan mengubah dan mempunyai daya memberdayakan. Ada pembagian waktu yang jelas, 50 persen waktu digunakan untuk berjumpa dengan masyarakat dan 50 persen lagi untuk urusan administrasi di kantor.
Pertanyaannya, apakah CU-CU atau Kopdit sudah menyejahterakan anggota? Percuma bila CU mempunyai banyak uang tetapi anggota tidak meminjam di CU, atau bila kredit lalai tinggi maka CU atau Kopdit tidak berhasil membina kejujuran anggotanya. Romo Fredy menambahkan bahwa CU-CU tidak sehat karena tidak mulai dari TP-TP nya. TP tidak sehat karena Kombas-Kombas tidak sehat. Masyarakat jujur apabila dibina di dalam komunitas. “Makanya penting berjumpa dan bertemu dengan masyarakat atau anggota agar semakin bagus. Itulah standar access branding yang paling utama dari CU atau Kopdit.” Lanjutnya. Harus ada tim work yang kuat dan disiplin yang tinggi agar semua itu bisa jalan. Managemen harus mempunyai mindset pemberdayaan dan harus menjadi contoh bagi anggota dan bukan hanya sibuk dengan administrasi di kantor. Pemberdayaan hanya bisa jalan apabila ada perjumpaan, ada kepuasan anggota (member satisfaction).
Rm. Fredy sebagai ahli Credit Union menuturkan bahwa untuk mencapai Access Branding itu tidak gampang, penuh perjuangan karena ada banyak kriteria dan syarat yang harus dipenuhi. Namun beliau terus mendorong agar Credit Union Kasih Sejahtera Atambua juga bisa mengikuti Access Branding. “Saya harap kalian jangan lama-lama lagi ya”, katanya memberi semangat kepada Dewan Pengurus CU-KS.
Setelah seminar, panitia menayangkan sebuah video yang berisi kilas sejarah CUKS . Mulai dari awal mula gagasan untuk mendirikan sebuah CU di Atambua, berlanjut ke pembentukan Tim Kalimantan dan sampai pada pendirianya dan berlanjut hingga sekarang. Video ini berisi pula kesaksian-kesaksian mulai dari Bapak Uskup Emiritus Anton Pain Ratu, Romo Urbanus Hala sebagai direktur CU yang pertama dan diakhiri dengan ucapan selamat dan beberapa penegasan dan masukan dari Mgr. Dominikus Saku, Pr. Video ini juga meliput tentang KP-KP yang tersebar hampir merata di seluruh wilayah Keuskupan Atambua serta kesaksian dari para anggota yang telah merasakan manfaat dari menjadi anggota CU Kasih Sejahtera. Kisah sukses dari Kombas-kombas yang ada dengan berbagai pemberdayaan yang telah berlangsung.
Sesi tiga adalah Bedah Buku. Moderator Rm. Lucius Tae, Pr memimpin jalannya acara ini dengan pengantar singkat dari penulis dan juga bedah buku dengan dua narasumber yaitu Rm. Dr. Theodorus Asa Siri, Pr dan Bapak Dr. Anton Bele.
Seminar didahului dengan penjelasan secara ringkas isi buku Credit Union Kasih Sejahtera Kenderaan Menuju Sejahtera. Buku ini seharusnya terbit saat CUKS merayakan ulang tahunnya yang ke10. Namun karena ada pertimbangan satu dua hal maka sampai usia yang ke 14 baru diterbitkan dan launcing-nya bertepatan dengan peresmian kantor Pusat CU KS di Atambua. Buku setebal 340 halaman itu diterbitkan oleh Bajawa Press Yogyakarta pada April 2021 dan dibedah oleh 2 orang Ahli yaitu Dr. Bele Antonius, M.Si, Ahli Sosiologi Pembangunan dan Rm. Dr. Theodorus Asa Siri: Ahli Sosiologi dan ASG.
Buku ini terdiri dari 5 bab. Mulai dari pengisahan kembali sejarah Credit Union dari mula-mula di Jerman sampai akhirnya masuk ke Atambua, mengenangkan kembali orang-orang yang telah berjasa sebagai peletak dasar atau fondasi terbentuknya CUKS, perkembangan CUKS dari rat ke rat, Komunitas Basis sebagai ikon CUKS, dan komitmen dan harapan para aktivis dan anggota CUKS.
Dr. Anton Bele dalam bedah buku ini menganjurkan agar buku ini dipadukan dengan buku Atambua Eden yang di dalamnya menjelaskan tentang proyek besar keuskupan Atambua. Menurut Anton Bele, Umat Keuskupan ini tidak perlu pergi mencari eden di Malaysia, Papua atau Sumatera karena sesungguhnya eden itu ada di Atambua. Salah satu sarana yang disiapkan oleh Keuskupan Atambua adalah CUKS. Menurut bapak Anton CUKS juga merupakan pelayanan pastoral yang sejalan dengan dasar Gereja Universal dan Gereja Lokal, KA. Penekanan pelayanannya pada Kombas sangat cocok dengan situasi umat KA. Dr. Anton Bele, selain memberikan catatan kritis juga memberikan beberapa pikiran untuk semakin melengkapi gagasan-gagasan yang ada dalam buku. Beliau mengemukakan 4 fondasi yang harus diperhatikan para anggota CU KS yaitu Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani. Ada juga 5 hal yang harus dijalankan dalam hidup yang disingkat 3S2B yakni Sembahyang, Sabda dan Sakramen serta Belajar dan Bekerja. Selain itu mantan anggota DPRD Prop. NTT ini menyebut juga 6 modal dasar (6 A) yakni Agama, Alam, Adat, Aturan, Anggaran dan Air. Melalui CUKS enam modal ini dikembangkan secara bersama dimana salah satunya melalui Komunitas Basis (Kombas).
Untuk itu Anton Bele meminta penulis untuk menempatkan juga buku Atambua Eden yang ditulis oleh Uskup Dominikus Saku sebagai bacaan utama.
Sementara itu Rm. Dr. Theo Asa Siri menggunakan pisau sosiologi untuk membedah buku yang diberi judul: Credit Union Kasih Sejahtera Kendaraan Menuju Sejahtera Berbasis Komunitas, Profesional dan Terpercaya. Ia menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penulis bapak Yosef M.L. Hello yang meskipun dalam tugas dan kesibukan yang padat sebagai Sekretaris Umum Puspas dan sebagai kepala keluarga masih menyempatkan diri menulis. Ini tidak gampang. Sosiolog dan sekaligus Ketua STP St. Petrus Keuskupan Atambua di Kefa itu menyoroti buku ini dari bagian judul cover, isi hingga akhir. Menurutnya kata yang paling tepat adalah “Museum”. Romo Theo juga mengeritik tidak adanya keterangan yang berhubungan dengan waktu dan tempat diambilnya foto-foto yang ada di dalam buku. Menurutnya kata kenderaan ini bisa sangat bernuansa Kapitalis dan menjurus kepada penindasan bila mengacu pada kritik sosiolog Antony Giddens pada Karl Marx tentang Kapitalisme. Ia mengajukan agar kalau memungkinkan kata kenderaan dapat diganti dengan kata Museum.
Penulis menanggapi semua kritik dan saran dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada lembaga pemberdayaan ekonomi umat atau masyarakat Keuskupan Atambua yakni Credit Union Kasih Sejahtera yang telah memperkenankannya menuliskan kembali sejarahnya.
“Terhadap koreksi dan input yang baik ini saya sebagai penulis buku ini merasa sangat bersyukur karena diperkaya dengan pikiran-pikiran baru dan menarik. Tentu saja selain sebagai penulis, saya adalah seorang katekis. Sabda Tuhan, Sakramen dan Sembahyang tidak boleh ditinggalkan lantaran selalu mengutamakan tugas-tugas dunia yakni Belajar dan Bekerja, ” kata Yosef Hello. Ia melanjutkan, sebab dua hal ini menurut Anton Bele akan ditinggalkan di dunia alias di pintu kubur. Hanya 3S saja yang akan dibawah ke dunia seberang. Sedangkan terhadap kata museum yg dianjurkan Romo Theodorus untuk menggantikan kata kendaraan, menurut penulis rupanya tidak bisa diterima begitu saja. Sebab credit union adalah sarana atau alat yang dipakai oleh anggota untuk mencapai tujuannya yaitu sejahtera. Museum tidak bisa dijadikan sarana kesejahteraan. Kendaraan atau mobil bisa ditumpangi 360-an ribu anggota menuju tujuan. Yos Hello meminjam kata-kata Bapak Uskup Domi bahwa yang memiliki tujuan itu adalah penumpang atau anggota, maka CU sebagai kendaraan dengan sopirnya yaitu para pengurus bertugas untuk mengantarkan anggota/ penumpang masing-masing ke tujuannya yaitu sejahtera.
“Peristiwa hari ini semakin menguatkan cita-cita saya untuk menulis dan menulis seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Tur bahwa menulis adalah upaya meninggalkan jejak. Yang penting tulis, tulis dan tulis suatu saat pasti berguna, ” katanya lebih lanjut.
Penulis juga mengucapkan terimakasih untuk masukan dan catatan yang berguna. Semoga pada edisi kedua banyak hal bisa ditulis dan dilengkapi.
Hadir dalam acara Seminar dan launcing buku ini antara lain, Bapa Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku; Ketua Pengurus PUSKOPCUINA periode 2021-2023, Bapak Marselus Sunardi, S.Pd dan utusan-utusan dari beberapa Kantor Pelayanan (KP) di Atambua. Sementara itu dari KP Kefamenanu, KP Betun, KP Insana, KP Pantura dan beberapa CU Primer yang berada di bawah Puskopcuina juga mengikuti acara secara daring.**

Keterangan Foto: Dok. Pribadi yang diambil saat kegiatan berlangsung (Kamis, 19 Agustus 2021)
Penulis: Okto Klau
Editor : Yosef Hello
