
As-Manulea, Malaka – Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti Stasi Santo Paulus As-Manulea, Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Senin, 30 Juni 2025. Umat Allah berkumpul dalam perayaan Ekaristi meriah untuk memperingati 50 tahun imamat Rm. Emanuel Hane, Pr. Misa syukur ini dipimpin langsung oleh Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, dengan homili dibawakan oleh Rm. Herman Nurak Hane, Pr. Lebih dari 70 imam, para bruder, suster, frater, serta ratusan umat hadir menyemarakkan momen istimewa ini.
Sebelum perayaan dimulai, Rm. Eman tampil di hadapan altar untuk melantunkan doa penyerahan diri kepada Allah. Seusai doa, Uskup Atambua mengenakan cincin emas kenangan 50 tahun imamat kepada sang Yubilaris sebagai simbol kesetiaan dalam panggilan suci.

Dalam homilinya, Rm. Herman menegaskan bahwa seorang imam bukan sekadar pewarta, tetapi pembuka harta karun surga, menggemakan semangat St. Yohanes Maria Vianney. Ia menekankan pentingnya kesadaran akan keterbatasan diri dan sikap rendah hati dalam pelayanan, bukan mengejar sorotan atau popularitas. Menurutnya, panggilan imamat Rm. Eman lahir dari inspirasi dan dorongan almarhum guru tercinta, Bapak David Bere.

Ketua Panitia, Bapak Gabriel Keun, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rm. Eman adalah imam perdana Paroki Santa Sesilia Kotafoun, serta putra sulung dari pasangan Bapak Yoseph Neno dan Mama Wilhelmina Abuk. Ia dikenang sebagai imam senior yang membanggakan dan membawa sukacita bagi umat. Selain sebagai gembala umat, Rm. Eman juga telah mengabdi sebagai pendidik selama 31 tahun—sebuah bentuk dedikasi yang layak diteladani.

Sekretaris Daerah Kabupaten Malaka, Bapak Ferdy Un Muti, yang hadir mewakili Bupati Malaka sekaligus keluarga besar Yubilaris, turut menyampaikan apresiasi atas pengabdian Rm. Eman. “Beliau kini berusia 79 tahun, 10 bulan, dan 2 hari, dengan masa imamat yang genap 50 tahun dan 2 hari. Pemerintah sangat mendukung karya dan pelayanan Gereja demi kesejahteraan umat,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Rm. Emanuel Hane mengenang hari pentahbisannya pada 28 Juni 1975. Ia mengisahkan perjalanan imamatnya dengan nada syukur dan reflektif. Moto tahbisan awalnya, “Semoga Aku dapat Mewartakan Nama-Mu”, kemudian diubah saat merayakan pesta perak menjadi “Marilah dan Kamu Akan Melihatnya”. Melalui kisahnya, ia mengajak umat untuk tetap setia dalam panggilan Tuhan yang penuh misteri namun indah.

Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, dalam sambutan penutupnya, menegaskan pentingnya menghargai keindahan dan kemuliaan hidup imamat. “Sekali imam, tetap imam. Hidup Rm. Eman adalah saksi nyata semangat itu,” katanya. Ia juga mengenang kerasnya perjuangan dalam menempuh pendidikan calon imam pada masa Rm. Eman muda, sembari mengajak umat untuk menjaga bumi dengan bijak: “Bumi cukup untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk kerakusan satu orang.”

Uskup lalu menyerahkan hadiah kepada Rm. Eman yang dibungkus dalam sebuah selendang penuh makna.

Sebagai salah satu cendera mata perayaan 50 Tahun Imamat, Panitia memberikan kepada semua Imam yang hadir sebuah buku kecil berjudul 50 Tahun Mengabdi: Kilau Mutiara dari Taman Imamat Romo Emanuel Hane, Pr., Lic. Lit. Buku ini dirampungkan dan diedit oleh Romo Yudelfianus Neno, Pr., yang menghimpun renungan-renungan singkat Romo Emanuel Hane, Pr., yang selama bulan Januari hingga Juni 2025 telah ia bagikan dalam grup Unio Keuskupan Atambua.

Yang istimewa, penyusunan buku kecil ini dilakukan tanpa sepengetahuan Sang Yubilaris, sehingga kehadirannya menjadi kejutan yang mengharukan. Buku ini menjadi ungkapan syukur sekaligus penghargaan atas ketekunan dan kesetiaan Romo Emanuel Hane dalam menabur inspirasi iman lewat kata-kata sederhana namun penuh makna.

Syukur 50 tahun imamat ini menjadi momen berharga untuk meneguhkan kembali makna panggilan sebagai jalan pelayanan yang rendah hati dan setia. Kehidupan Rm. Emanuel Hane, Pr menjadi inspirasi bagi para imam muda dan umat Allah untuk terus menghidupi semangat panggilan dalam terang Kristus, Sang Gembala Sejati.
Oleh Panitia Perayaan
Editor : Rm. Yudel Neno, Pr
