UMAT KATOLIK BERSIAP MEMASUKI BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2020

0
652
Sosok Perempuan di bawah pohon Gandarusa dan kecapi tergantung, pohon salib dengan latar belakang kubur kosong (lih. Buku BKSN 2020, LBI)

KEUSKUPANATAMBUA.ORG, –Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2020 ini, kita akan merenungkan tema umum: “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas”, dengan teks Kitab Suci acuan utama : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan Kasih Allah kepada kita” (I Yoh 4: 16). (Lembaga Biblika Indonesia – Komisi Kitab Suci Keuskupan Atambua).

MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS IMAN DAN IDENTITAS (Gagasan Pendukung)

Berkaitan dengan tema ini, beberapa hal penting perlu kita pahami:
I. Identitas

Identitas adalah: kesadaran akan siapa diri kita dan kesadaran itu mempengaruhi bagaimana kita menjalani kehidupan, bagaimana kita bertindak atau berperilaku, bersikap dan berbicara. Kita sebagai orang Katolik dituntut untuk menjalani kehidupan ini, dengan berperilaku dan berbicara sebagai pengikut Kristus yang beriman Katolik.
Kenyataan membuktikan bahwa tidak semua orang Katolik menunjukkan identitasnya sebagai orang Katolik. Banyak yang mengalami krisis identitas sebagai orang Katolik. Ada yang sudah dibaptis dan mengaku diri Katolik tetapi tidak memahami iman Katolik. Akibatnya, tidak mengetahui bagaimana hidup sebagai orang Katolik dan tidak berani mengaku sebagai orang Katolik di hadapan orang banyak. Ada yang tidak lagi percaya kepada Tuhan walaupun sudah menerima baptisan. Ada yang percaya akan adanya Tuhan tetapi tidak hidup menurut kepercayaan itu. Ada juga yang tidak peduli akan identitasnya sebagai orang Katolik, lalu menjalani kehidupan semata-mata mengikuti kesenangan ragawi dan sama sekali tidak berpikir tentang makna dan tujuan hidup. Ada juga yang meninggalkan Gereja Katolik karena tidak memahami keyakinan Katolik dan melihat tampaknya ajaran dari agama/Gereja lain lebih baik dan lebih masuk di akalnya. Walaupun demikian, kita tetap menjumpai Umat Katolik yang setia mempertahankan iman dan identitas sebagi orang Katolik.
Berhadapan dengan kenyataan ini, kita diarahkan untuk belajar dari pengalaman umat Israel di tempat pembuangan dan pengalaman murid Yesus Kristus, ketika ditinggalkan Yesus.

II. Krisis Iman Dan Identitas Umat Israel Di Babel

Di zaman Perjanjian Lama Umat Allah pernah menghadapi krisis besar yang menyangkut iman mereka akan Allah dan identitas mereka sebagai Umat Pilihan. Krisisini terjadi ketika kerajaan mereka dikalahkan oleh kerajaan lain dan negeri mereka dihancurkan. Iman mereka goyah dan identitas merekan yaris musnah.Tetapi,nyatanya mereka dapat mempertahankan iman mereka dan dapat menjaga identitas mereka.

Hancurnya Yerusalem

Pada tahun 605 SM Nebukadnezar, raja Babel, mengalahkan Mesir sehingga menguasai wilayah Siria dan Palestina (2Raj. 24:1; Yer. 46:2-28). Karena itu, Yehuda yang sebelumnya takluk kepada Mesir, menaklukkan diri kepada Babel dan selama tiga tahun membayar upeti pada Babel. Selama tiga tahun ini Babel dan Mesir masih berada dalam situasi perang. Yoyakim memberontak terhadap Babel dengan mengharapkan bantuan dari Mesir, tetapi bantuan yang diharapkan itu tak kunjung datang. Pada bulan Desember 598 SM pasukan Babel menyerang dan mengepung Kota Yerusalem. Dalam pengepungan itu Yoyakim meninggal dan digantikan oleh Yoyakhin, anaknya.Yoyakhin (2Raj. 24:8-17) menyadari bahwa pasukan Yehuda tidak akan sanggup menghadapi serbuan Babel.
Yoyakhin mengambil keputusan yang dapat menyelamatkan negeri dan rakyatnya. Pada bulan Maret 597 SM Yoyakhin bersama ibunya, para pegawai, dan pembesarnya menyerahkan diri ke tangan Nebukadnezar. Raja bersama keluarganya diangkut sebagai orang buangan ke Babel. Dalam pembuangan ini tercatat 10.000 orang tawanan (panglima dan tentara) dan semua tukang dan pandai besi (bdk. Yer. 52:28). Hanya orang-orang lemah ditinggalkan di negeri itu (2Raj. 24:8-17). Semua harta benda yang ada di Bait Allah dan di istana raja diangkut ke Babel.

Krisis Kaum Buangan

Pengalaman pembuangan menghadapkan orang Yehuda pada masalah yang serius. Masa pembuangan menjadi masa yang sulit bagi mereka untuk mempertahankan identitas sebagai sebuah  bangsa.  Kerajaan  mereka  sudah  dihancurkan  dan  dikuasai orang asing, sementara raja, keluarganya, orang-orang terkemuka bangsa itu, bahkan rakyat, ditawan dan dibuang di tanah asing. Lebih dari itu, Bait Allah yang menjadi pusat kehidupan keagamaan mereka telah dihancurkan.    Dalam pemahaman zaman itu semua ini menunjukkan bahwa YHWH, Allah mereka, telah dikalahkan oleh dewa/i Babel. Orang Yehuda sudah kehilangan harapan karena negeri mereka telah hancur dan mereka sendiri tinggal sebagai orang buangan di negeri asing, jauh dari tanah air mereka dan “jauh” dari YHWH. Tidak ada pengharapan bagi mereka untuk bebas dan kembali ke tanah air mereka sendiri. Babel terlalu kuat bagi mereka dan sebaliknya, mereka terlalu lemah untuk melawan Babel. YHWH, yang menurut mereka sudah dikalahkan dewa-dewa Babel, tidak mampu bangkit melawan  mereka  untuk  membebaskan umat-Nya.  Mereka  hidup  di tanah asing, jauh tersembunyi dari YHWH, sementara Ia tidak berkuasa untuk membebaskan mereka dan mengembalikan hak mereka sebagai bangsa yang merdeka.

III. YHWH, Allah Pencipta

Dalam situasi krisis nabi Yehezkiel memberi harapan bahwa Allah akan menyelamatkan mereka: Allah akan membuka kubur-kubur mereka dan membangkitkan mereka, lalu membawa mereka kembali ke Tanah Israel. Saat YHWH melakukan semua ini, mereka kan mengetahui “Akulah YHWH” (Yeh. 37:12-13). YHWH menunjukkan Dia adalah yang hidup dan berkuasa, yang dapat melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ia sama sekali tidak dikalahkan oleh dewa-dewi Babel, bahkan sanggup menunjukkan kuasa-Nya di wilayah kekuasaan dewa-dewi Babel. Jika mengetahui siapa YHWH, Allah yang mereka sembah, orang Israel akan memahami diri mereka sendiri. Mereka adalah umat yang percaya kepada Allah yang Mahakuasa, yang sanggup melakukan hal-hal yang mustahil di mata manusia.
Nabi Yesaya mengatakan: Allah Israel, adalah Allah yang hidup dan berkuasa. Dia adalah satu-satu Allah, dan tidak ada yang lain. YHWH menjadikan langit dan bumi dan menciptakan manusia (Yes. 45:12). Karena itu, Dia berkuasa atas semua manusia dan perjalanan sejarah manusia di atas bumi. Lebih lanjut nabi menyampaikan secara panjang lebar bagaimana Allah sedang bekerja menggerakkan sejarah. Ia sedang menggerakkan Koresh, raja Persia, untuk membebaskan orang Israel dari pembuangan Babel. Allah yang Mahakuasa itu menggunakan Koresh untuk melakukan kehendak-Nya, yaitu membawa orang Israel kembali ke tanah air mereka dan mendirikan kembali Bait Allah (Yes. 44:28).

Umat Pilihan Allah

Pemahaman tentang Allah yang hidup dan berkuasa itu, membuat orang Israel sadar akan identitas mereka. Mereka adalah Umat yang percaya kepada YHWH, satu-satunya Allah. Kesadaran akan identitas mereka inilah yang menyatukan kaum buangan dan dengan berbagai cara menegaskan bahwa mereka tidak seperti bangsa-bangsa lain yang ada di sekitar mereka. Untuk mempetahankan identitas mereka sebagai Umat pilihan Allah, para pemimpin Israel seperti para imam melakukan dua hal:

  1. Menciptakan praktik-praktik keagamaan yang baru untuk menggantikan praktik ibadah yang tidak dapat mereka kerjakan lagi. Misalnya, upacara kurban digantikan dengan ibadah
    kelompok (sinagoga): umat berkumpul untuk berdoa dan membaca Kitab Suci.
  2. Memberikan arti baru pada praktik keagamaan yang sudah ada. Hari Sabat dan sunat, yang sudah menjadi kebiasaan di antara orang Yahudi, diangkat menjadi tanda yang memberikan ciri khas kepada anggota umat pilihan Allah.

IV. Krisis Iman Dan Identitas Para Murid Yesus

Dalam Perjanjian Baru krisis yang menyangkut iman dan identitas dialami oleh para rasul Yesus, ketika Yesus ditangkap, disalibkan, dan mati di kayu salib. Mulanya mereka begitu yakin tentang siapa Yesus dan menaruh harapan mereka kepada-Nya. Tetapi, kematian Yesus membuat keyakinan mereka terhadap Yesus hancur dan harapan mereka kepada-Nya musnah. Penampakan Yesus yang telah bangkit memberikan kepada mereka sebuah kejelasan tentang siapa sesungguhnya Yesus dan hal ini membuat mereka memahami identitas mereka.

Kematian Sang Mesias

Para murid yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang akan mendirikan kembali Kerajaan Israel dan akan memerintah sebagai raja. Semua orang Yahudi akan tinggal dalam kesejahteraan di bawah pemerintahan Yesus, Sang Mesias. Namun dalam kenyataan, Yesus wafat di salib. Kematian Yesus di salib membuat para rasul kehilangan harapan, semangat, takut dan bingung. Mereka tidak dapat menerima kenyataan ini, karena apa yang terjadi dengan Yesus sama sekali tidak seperti yang mereka pikirkan. Orang yang mereka anggap sebagai Mesias, yang akan menjadi raja Israel itu, mati dengan cara yang sangat menyedihkan. Mereka bersembunyi dan tinggal di suatu ruangan yang terkunci karena takut kepada para pemuka Yahudi yang terlibat dalam pembunuhan Yesus (Yoh. 20:19).

Kebangkitan Yesus

Peristiwa kebangkitan Yesus membuat para rasul berubah, mereka memperoleh kembali kehidupan mereka. Mereka menjadi sadar siapa sebenarnya Yesus yang mereka ikuti. Bagi para murid kebangkitan Yesus itu membuktikan bahwa Dia adalah Anak Manusia. Ketika Yesus masih berkarya dan mengajar berulang kali Ia menyatakan bahwa Anak Manusia akan tinggal dalam rahim bumi selama tiga hari tiga malam (Mat. 12:40), tetapi akan dibangkitkan dari antara orang mati (Mat. 17:9). Setelah Petrus menyampaikan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, tiga kali Yesus menyatakan kepada para murid-Nya bahwa Anak Manusia akan menderita, dibunuh, dan bangkit dari kematian (Mrk. 8:31-9:1; Mrk. 9:30-32; Mrk. 10:32-34). Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa apa yang dikatakan mengenai diri-Nya itu benar. Ia sungguh-sungguh telah mati, tetapi bangkit dari antara orang mati.

Empat bacaan Kitab Suci yang akan kita renungkan untuk melihat kebenaran tentang Allah dan identitas orang beriman di hadapan-Nya:
I. 1 Yohanes 4, 7-21 : Allah Adalah Kasih

Ajakan Untuk Mengasihi (ay 7-12)

Yohanes mengajak umatnya untuk saling mengasihi. Kasih itu bukan soal kata, melainkan perbuatan (1Yoh 3:18). Orang yang mengasihi memiliki dua ciri yakni: menghendaki orang yang dikasihinya berbahagia dan berani berkurban demi orang yang dikasihinya. Kasih yang demikian itu, nampak dalam diri orang Samaria yang baik hati yang rela menolong orang yang dirampok.
Kasih menjadi tanda apakah seseorang mengenal Allah atau tidak. Setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah, tetapi siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, karena Allah adalah Kasih dan setiap orang yang mengasihi mengambil bagian dalam Kasih Allah. pernyataan Allah adalah Kasih mengandung arti bahwa Allah tidak hanya mengasihi atau memiliki kasih, tetapi Allah adalah Kasih itu sendiri. Segala aktivitas Allah adalah tindakan kasih.

Bersatu Dengan Allah (ay 12-16)

Allah telah mencurahkan Roh Kudus kepada kita dan dengan bantuan Roh Allah, kita dapat mengetahui bahwa Allah tinggal di dalam diri kita (1Yoh 3:24). Dengan demikian kita memiliki jaminan bahwa kita berada dalam Allah dan Allah di dalam kita. Pernyataan kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita, mengungkapkan persatuan kita dengan Allah. Kita yang bersatu dengan Allah memandang segala sesuatu menurut pandangan Allah. kita bertindak dan berkata selalu menurut kehendak Allah.
Allah tinggal dalam diri kita yang percaya pada Yesus sebagai Anak Allah dan kitayang percaya ini menerima hidup baru yakni hidup dalam Allah. Allah tinggal dalam diri kita dan membuat kita sanggup mengasihi sesama seperti Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

Percaya Pada Hari Penghakiman (ay 17-21)

Kasih Allah akan sempurna dalam diri kita, bila kita berani percaya pada hari penghakiman. Jika kita merasa dikasihi Allah dan telah mengasihi sesama dalam kehidupan, kita tidak takut menghadap pengadilan Allah. kita siap dinilai oleh Allah, karena semua yang kita lakukan dalam dunia, kita lakukan karena kita mengasihi Allah. pertemuan kita dengan Allah pada hari penghakiman membuat kita tidak takut karena pada saat itulah Allah akan mengatakan bahwa kita adalah orang benar di hadapan-Nya. Orang yang takut menghadapi pengadilan Allah, itu berarti ia tidak mengasihi Allah dan sesama dalam kehidupan ini.

II. Matius 25, 31-46: Yesus Anak Manusia

Suasana Di Tempat Penghakiman (ay 31-33)

Pada akhir zaman, Kristus Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Ia bersemayam di atas takhta, maka dapat dikatakan bahwa Ia adalah seorang Raja (ay 34). Pernyataan pada ayat 31 mengingatkan kita pada Anak Manusia yang dilihat oleh Daniel (Dan 7:13-14); ia melihat seorang seperti Anak Manusia menerima kuasa dan kemuliaan dalam Kerjaan yang abadi. Penginjil Matius menunjukkan bahwa Anak Manusia yang dinubuatkan Daniel itu adalah Yesus Kristus. Ia memegang kuasa atas Kerjaan Allah dan pada akhir zaman, Ia menggunakan kuasa-Nya untuk menentukan siapa yang layak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kepada Yang Di Sebelah Kanan (ay 34-40)

Anak Manusia yang juga adalah Raja menyebut mereka yang ditempatkan di sebelah kanan-Nya sebagai “orang-orang yang diberkati oleh Bapa”. Ia juga mengatakan bahwa mereka akan menerima Kerajaan yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Mereka layak menerimanya karena mereka telah melakukan kebaikan-kebaikan kepada Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang miskin dan menderita.Ada enam kebaikan yang disebutkan dalam Injil yang dikelompokan menjadi tiga. Pertama memberi makan kepada orang yang lapar dan minum kepada orang yang haus. Kedua memberi tumpangan kepada orang asing dan pakaian kepada orang yang telanjang. Ketiga, melawat orang sakit dan mengunjungi orang-orang yang dipenjarakan.

Kepada Yang Di Sebelah Kiri (ay 41-46)

Orang-orang yang ditempatkan di sebelah kiri Anak Manusia akan “dienyahkan ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk iblis dan malaikat-malaikatnya”. Api yang kekal itu sebenarnya disediakan bagi iblis dan para malaikatnya bukan bagi manusia, namun perbuatan mereka yang di sebelah kiri selama hidup di dunia telah membawa mereka ke tempat itu. Mereka tidak memperhatikan Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang miskin dan menderita.

III. Lukas 5, 1-11 : Orang Berdosa Yang Dipercayakan Oleh Tuhan

Dalam perikop ini, penginjil Lukas menyampaikan tiga hal; pertama, tempat dan pewartaan Yesus (ay 1-3), kedua, penangkapan ikan yang ajaib (ay 4-10a) dan ketiga, panggilan Simon dan orang-orang yang bersama dia (ay 10b-11).

Yesus Mengajar (ay 1-3)

Yesus berdiri di pantai danau Genazaret yang terletak di wilayah Galilea; panjang sekitar 21 km, lebar sekitar 13 km.banyak orang mengerumi-Nya hendak mendengarkan Firman Allah. Orang bayak berdesakan dan tidak ada jarak antara Yesus dengan mereka. Dalam situasi seperti itu, Yesus melihat dua perahu di tepi pantai, lalu naik ke salah satu yang ternyata perahu milik Simon. Yesus duduk di atas perahu itu dan mengajar orang banyak.

Penangkapan Ikan Yang Ajaib (ay. 4-10b)

Peristiwa penangkapan ikanyangdialami oleh Simon dan rekan-rekannya benar-benar di luar dugaannya. Jala yang mereka tebarkan ternyata menangkap sejumlah besar ikan, bahkan, jala itu mulai koyak. Mereka memberi isyarat kepada teman-teman yang berada di perahu lainuntuk membantu menampung ikan yang telah mereka tangkap. Dua perahu penuh dengan ikan sampai hampir tenggelam.
Simon Petrus menyadari bahwa apa yang sedang dialaminya bukanlah peristiwa biasa. Dia dan teman-temannya takjub menyaksikan banyaknya ikan yang mereka tangkap, padahal mereka menebarkan jala pada siang hari, atas perintah seorang guru. Sesampainya di darat, ia mendekati Yesus dan sujud di depan-Nya lalu berkata “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”
Ketika hendak bertolak untuk menebarkan jala, Simon memanggil Yesus dengan sebutan “guru” (Yun. “epistata,” sebutan untuk memanggil orang yang dihormati karena memiliki kuasa). Setelah peristiwa penangkapan ikan ini, Simon memanggilnya “Tuhan.”

Panggilan Simon (ay 10a-11)
Yesus berkata kepada Simon,“Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Yesus memanggil mereka untuk menjadi penjala manusia. “Menjala manusia” merupakan kiasan untuk mencari atau membawa orang menjadi pengikut Yesus. Dalam praktiknya hal ini baru akan mereka lakukan setelah Yesus naik ke surga. Mereka akan memberitakan karya penyelamatan yang dilakukan oleh Kristus kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi. Mereka bahkan harus meninggalkan negeri mereka untuk melaksanakan tugas ini. Agar dapat menjalankan tugas ini, sekarang mereka harus mengikuti Yesus untuk menjalani kehidupan sebagai murid sehingga dapat mengenal Dia dan memahami kehendak-Nya.
Simon dan rekan-rekannya menarik perahu mereka ke darat, lalu meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Mulanya mereka terpesona dengan banyaknya ikan yang mereka tangkap. Tetapi, sekarang mereka terpesona dengan Pribadi yang membuat begitu banyak ikan itu datang kejala mereka. Kesadaran akan Pribadi Yesus inilah yang membuat mereka mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya. Konsekuensinya, mereka meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki: perahu, usaha, keluarga, termasuk hasil tangkapan terbesar yang mereka peroleh selama hidup mereka itu. Mulai saat itu, mereka senantiasa bersama dengan Yesus.

IV. Kisah Para Rasul 2, 37-47 :Persekutuan Orang Beriman

Pewartaan Dan Pembaptisan (ay 37-40)

Orang-orang yang hadir pada hari raya pentakosta terkesan pada karunia lahiriah Roh Kudus dan pada kotbah Petrus tentang perbuatan-perbuatan Allah melalui Yesus. Beberapa orang lalu menanyakan apa yang harus mereka lakukan setelah mendengarkan warta tentang Yesus Kristus itu. Petrus menjawab, “Bertobatlah, ubahlah cara pikir dan tingkah lakumu!” Jika dahulu mereka tidak percaya kepada Yesus dan telah membunuh- Nya, kini mereka diundang untuk percaya kepada Yesus yang telah dibangkitkan Allah itu. Jika percaya kepada-Nya, mereka akan diselamatkan.
Mereka harus mengakui bahwa Yesus yang telah mereka bunuh itu adalah Tuhan dan Kristus. Pengakuan itu secara konkret diwujudkan dengan menerima baptisan dalam nama Yesus Kristus. Berkat pengakuan dan pembaptisan itu mereka memperoleh suatu hubungan baru dengan Yesus yang telah dibangkitkan dan menempatkan diri mereka di bawah kuasa Yesus yang adalah Tuhan dan Kristus. Pembaptisan itu juga menurunkan anugerah Roh Kudus.

Persekutuan Jemaat (ay 41-42)

Orang-orang yang dibaptis (3.000 orang), membentuk Jemaat Perdana di Yerusalem. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Yang dimaksudkan dengan pengajaran para rasul itu adalah pengajaran yang diberikan kepada orang-orang yang baru percaya pada Kristus. Dalam pengajaran itu Kitab Suci ditafsirkan dengan disinari oleh peristiwa Yesus Kristus. Selain itu, mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Ungkapan “memecahkan roti” dalam bahasa Kristiani menunjuk pada Perjamuan Ekaristi (1Kor. 10:16; 11:24; Luk. 22: 19). Persekutuan Gereja perdana diwujudkan secara lebih nyata dalam hal harta milik. Mereka menganggap bahwa “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” Milik pribadi tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri; anggota umat lain, bahkan seluruh umat boleh menggunakannya. Anggota Jemaat yang miskin dan para janda mendapatkan perhatian utama dalam hal ini.

Cara Hidup Jemaat (ay 43-47)

Cara hidup Jemaat yang saling mengasihi dalam satu persekutuan itu menarik perhatian banyak orang dan banyak orang menggabungkan diri dalam persekutuan itu. Jumlah mereka makin bertambah. Dari kenyataan ini mereka melihat bahwa “tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Nyata bahwa kehidupan Jemaat itu menjadi sarana pewartaan iman dan bentuk kesaksian mereka tentang Kristus. Mereka tidak hanya mewartakan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan dan seluruh hidup mereka. Keselamatan para anggota Jemaat Kristiani dalam penghakiman terakhir dijamin oleh Tuhan (Kis. 2:21 dst; bdk. 13:48 dan surat-surat Paulus).

*Gagasan Pendukung ini disarikan dari YM Seto Marsunu (LBI, 2020, hlm. 5-58 oleh Komisi Kitab Suci Keuskupan Atambua.

Editor

Diedit dan dipublikasikan oleh Yosef Hello

SHARE