
MENA, 11 Agustus 2025 – KeuskupanAtambua.org – Umat Paroki Santa Filomena Mena merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31 berdirinya Paroki bertepatan dengan Hari Pelindung Paroki, Santa Filomena. Perayaan puncak berlangsung pada Senin, 11 Agustus 2025, di Gereja Paroki Santa Filomena Mena, dipimpin oleh Pastor Paroki, Rm. John Seran Nahak, Pr, bersama ketiga Pastor Pembantu, yakni Rm. Dius Nahas, Pr, Rm. Dens Nabu, Pr, dan Rm. Yudelfianus Neno, Pr.

Misa dihadiri oleh para frater, suster, Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Keuangan Paroki (DKP), agen pastoral, para guru, dan anak-anak sekolah.

Dalam khotbahnya, Rm. John menegaskan bahwa hidup Santa Filomena yang masih berusia belasan tahun namun menolak menikah adalah kesaksian iman besar bagi umat kristiani, khususnya Umat Paroki Mena. Ia mengakui literatur tentang Santa Filomena memang sedikit, namun kepribadiannya yang teguh membaktikan diri kepada Allah harus menjadi inspirasi. Semboyan Pax Te Cum (Damai Sertamu) yang lekat dengan Santa Filomena, menurutnya, patut menjadi semangat umat dalam membangun kehidupan damai di tengah karya pastoral.

Mengutip bacaan Injil tentang pembayaran pajak, Rm. John mengingatkan pentingnya menegakkan keadilan dengan memberi kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya dan kepada kaisar apa yang menjadi haknya. Ia menekankan bahwa kemuliaan hidup tidak diukur dari jabatan atau harta, melainkan dari daya guna dan kebermanfaatan bagi banyak orang.

Dalam sambutannya, Ketua DPP, Bapak Lukas Usboko, menyampaikan bahwa perayaan tahun ini berlangsung lebih sederhana tanpa perlombaan maupun pertandingan seperti tahun-tahun sebelumnya karena fokus diarahkan pada kelanjutan pembangunan gedung gereja. Ia mengajak seluruh umat untuk bersinergi, berperan aktif, dan setelah perayaan ini, bersama-sama membicarakan secara serius proses pembangunan. “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” tegasnya.

Pastor Paroki, Rm. John Seran, juga kembali mengajak umat untuk bekerja sama demi kelanjutan pembangunan gereja. Ia menegaskan pentingnya keterbukaan komunikasi. “Jika ada soal, datanglah bicara dengan kami, bukan bicara tentang kami,” ujarnya. Perayaan ini menjadi momentum memperkuat kebersamaan umat dalam iman dan karya nyata membangun rumah Allah.

Oleh Yudel Neno, Pr
