Unio Imam Projo Memperkuat Persaudaraan
Ketua Unio Keuskupan Atambua, Romo Sindus Tae sedang membawakan materi dalam rekoleksi umum di Aula Biara Nenuk, Rabu (11/9/2019)

Di sela waktu rekoleksi umum para imam yang berkarya di Keuskupan Atambua (KA), bertempat di aula biara Santo Yoseph Nenuk, (Rabu, 11/9/2019) diadakan pertemuan para imam Projo. Pokok bahasan yang diangkat tentang upaya memperkuat tali persaudaraan sebagai rekan seimamat. Ketua unio KA, Romo Rosindus Tae, Pr melihat nilai persaudaraan sebagai tali pengikat kebersamaan untuk saling mendukung dalam karya pastoral.
Pertemuan ini terkesan penuh kasih dan sukacita. Materi singkat yang dibawakan Romo Sindus menghantar para imam untuk melihat rekan kerjanya sebagai saudara. Ia berpesan agar sebagai rekan imam dalam satu komunitas jangan berjuang sendiri tapi perlu membangun kerja sama penuh persaudaraan. “Berbicara tentang persaudaraan tidak semata like dan dislike tapi pada semangat saling mendukung dalam karya pastoral,” katanya dalam pertemuan tatap muka tersebut.

Unio Imam Projo Memperkuat Persaudaraan
Para peserta Rekoleksi umum si aula Biara Nenuk, Rabu (11/9/2019)

Ketika mengangkat tentang masalah persauadaan, secara lugas ia membeberkan agar di antara para imam senior dan junior perlu membangun positive thingking. Langkah ini sebagai bentuk memperdalam penghayatan imamat suci. “Bicara soal imamat tidak dilihat dalam kaca mata jabatan tapi nilai persaudaraan sejati. Pelayanan menjadi faktor penting untuk digaungkan bukan kehormatan dan mengejar kekuasaan. Kita saling mengoreksi satu sama lain sebagai saudara. Berterus terang satu sama lain. Di sini nilai sangat mulia dan menyelamatkan,” tandasnya.

Dialog dan saling membagi pengalaman pastoral oleh para imam senior semakin mempertajam upaya penting merajut makna persaudaraan. Romo Agustinus Berek, Pr salah satu imam senior memaknai pertemuan ini sebagai langkah tepat untuk kita saling berbagi perngalaman berpastoral serta saling meneguhkan satu sama lain. Baginya jika dalam hidup berkomunitas tidak saling mengasihi satu sama lain, apa artinya cinta kasih jika tidak dibuktikan dalam pengalaman praktis. “Pikiran saya sangat sederhana. Jika dalam hidup bersama sebagai rekan imam dan tidak saling memaafkan satu sama lain, bagaimana kita bisa berkotbah tentang cinta kaih bagi umat?,” tuturnya singkat namun sangat menyentuh nurani.

Saling mengoreksi dalam persaudaraan ini disambut penuh sukacita oleh para imam. Bahkan semua mengaplaus jika ada ungkapan curahan hati yang lugas dan spontas tentang suka duka yang dialami dari beberapa imam. Kekompakan dalam membangun persudaraan menjadi kata kunci dalam tugas pewartaan. Semua yang hadir sangat mengapresiasi berjalanannya pertemuan ini. “Inilah dinamika dalam hidup berkomunitas. Saling mengingatkan satu sama lain sebagai bentuk membangun persaudaraan sejati,” kata Romo Yanto Bere yang kini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Betun ini.* (Romo Ino)

SHARE