
Mgr. Dominikus Saku: Berjalan Bersama hal sulit
keuskupanatambua.org, – Dari Katedral Santa Maria Imaculata Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku akan membuka secara resmi Sinode Para Uskup Sedunia Tingkat Keuskupan Atambua, Minggu, 17 Oktober 2021.
Dalam rapat singkat antara Bapak Uskup bersama Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (Vikjen), P. Vincentius Wun SVD dan Sekretaris Umum Puspas Keuskupan Atambua, Bapak Yosef Hello, (Sabtu,16/10-2021), Bapak Uskup mengemukakan rencana misa pembukaan yang telah disiapkan oleh Komisi Liturgi Keuskupan Atambua, dalam hal ini, Sekretaris KomLit, Rm. Emanuel Kiik Mau, Pr.
Dalam pertemuan persiapan itu, Bapak Uskup Domi menegaskan tentang tema Sinode para Uskup yaitu “Panggilan Untuk Berjalan Bersama Demi Terwujudnya Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, Misi”.
Menurut, Uskup Keuskupan Atambua keempat itu, Berjalan bersama itu sesuatu yang paling sulit dilakukan karena tidak semua Keuskupan di semua benua bisa melakukannya.
“Rupanya ‘Journey Together‘ dirasakan sebagai sesuatu yang paling sulit dilakukan karena itu Sri Paus Fransiskus hendak mengembalikan disiplin Gereja di bawah satu gembala”, demikian Bapa Uskup Dominikus. Menurutnya, hal yang menyatakan bahwa kita selalu berjalan bersama sebagai Gereja adalah melakukan atau memberikan laporan tahunan dari paroki-paroki ke keuskupan dan dari keuskupan-keuskupan ke Roma. “Segala laporan tahunan itu penting untuk dilaporkan sebab itulah yang menunjukkan bahwa kita berjalan bersama. Laporan penerimaan Permandian (extractum), Krisma, Perkawinan, perminyakan, pengakuan dosa dan pelaksanaan sakramen lainnya yang selalu diminta setiap tahun itu, hendaknya dilaporkan secara berjenjang dengan disiplin mulai dari tingkat paroki ke keuskupan dan dari keuskupan kepada gereja sejagat di Roma untuk diketahui. Sekali lagi itulah yang menunjukan bahwa kita sebagai Gereja Berjalan Bersama”, tandas Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI itu.
Selain itu, mendengarkan mereka yang selama ini tidak pernah bersuara, yang diminta oleh Paus untuk dilakukan pada sinode kali ini perlu kita lakukan, terutama dengan kelompok-kelompok petani;kaum perempuan; anak-anak, remaja, kaum muda dan mahasiswa; mereka di penjara; para pimpinan agama dan gereja; para eks TKI/TKW; kelompok THS/THM, Perguruan Kera Sakti dan PSHT; serta kelompok para Kepala Desa. Kita perlu mendengarkan mereka termasuk harapan mereka yakni “Apa yang mereka harapkan dari Gereja untuk dilakukan?
Selanjutnya Bapak Uskup bersama Vikjen dan Sekretaris Umum merencanakan proses persiapan sinode ini di tingkat Keuskupan Atambua.
“Kita perlu membuat jadwal bersama untuk sosialisasi di tingkat dekenat. Misalnya kita lakukan selama dua hari di sana. Hari pertama kita buka dengan Misa dan hari kedua kita diskusi atau mendengarkan harapan mereka. Dan selanjutnya, tugas para Imam dan utusan itu yang akan meneruskannya kepada umat di paroki-paroki”, kata Bapak Uskup.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Paus Fransiskus mengundang seluruh Gereja untuk terlibat dalam Sinode ini.
“Jalan Sinodalitas ini yang diharapkan oleh Allah dari Gereja Milenium ke-3, perjalanan yang mengikuti pembaharuan Gereja sebagaimana direkomendasikan oleh Konsili Vatikan II”. Paus juga mengajak Gereja sejagat untuk merefleksikan bersama perjalanan bagaimana menghidupi persekutuan, mewujudkan partisipasi dan membuka diri untuk bermisi. Untuk itu beberapa hal ditegaskan Paus, yakni:
“Tetap terbuka terhadap hal-hal tak terduga; memberi kesaksian tentang Kasih Allah; mendengarkan mereka yang selama ini terpinggirkan; menghargai kekayaan dan keragaman karunia dan karisma demi kebaikan komunitas dan masyarakat; mengeksplorasi cara-cara partisipatif dan keratif dalam pewartaan Injil; menguji bagaimana tanggung jawab dan kekuasaan dijalankan dalam Gereja; menjadi komunitas yang dapat diandalkan dalam dialog sosial, rekonsiliasi, persaudaraan dan persahabatan sosial yang inklusif; dan memperbaharui hubungan dengan komunitas denominasi dan agama lain dan kelompok-kelompok dalam masyarakat”.
Sinode Para Uskup Sedunia ini dilakukan dengan proses sebagai berikut:
1. Minggu, 17 Oktober 2021 : Perayaan Pembukaan di Tingkat Keuskupan
2. Oktober 2021 sampai dengan Maret 2022: Sinode Persiapan di Tingkat Keuskupan masing-masing.
3. April 2022 : Sintesis Gereja Indonesia
4. September 2022: Instrumentum Laboris 1: Dokumen Kerja sebagai bahan pertemuan tingkat kontinental
5. Maret 2023: Sidang gerejani Tingkat Kontinental
6. Juni 2023: Instrumentum Laboris 2
7. Oktober 2023: Sidang Sinode Gerejani Sedunia di Roma. ***

Penulis : Yosef M.L. Hello; Editor : Okto Klau
