
Homili Eksegetis Minggu Biasa ke-XV, Tahun Liturgi C, 13 Juli 2025 – KeuskupanAtambua.org- Siapakah Sesamaku Manusia?” Tanya Ahli Taurat Itu… Jawab Yesus: Belajarlah dari Orang Samaria Itu – Inspirasi Homili Eksegetis | Minggu, 13 Juli 2025 – Oleh: Rm. Yudel Neno, Pr
Pertanyaan Klasik dan Jawaban Radikal
Dalam Injil Lukas 10:25–37, seorang ahli Taurat berdiri untuk mencobai Yesus dengan sebuah pertanyaan klasik: “Apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Ketika Yesus meminta dia mengutip isi hukum Taurat, ia menjawab dengan tepat: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Tetapi sang ahli Taurat belum puas. Ia bertanya lagi, “Siapakah sesamaku manusia?”—sebuah pertanyaan yang menggambarkan kecenderungan manusia membatasi kasih.
Yesus menjawab dengan cara yang sangat radikal—bukan dengan definisi, melainkan dengan narasi: Kisah tentang Orang Samaria yang baik hati.
Untuk memahami kedalaman jawaban Yesus, kita perlu menempatkannya dalam terang Kitab Ulangan 30:10–14 dan Kolose 1:15–20. Ketiganya memberi perspektif eksistensial, moral, dan teologis atas siapa sesama kita dan bagaimana seharusnya kita mengasihi mereka.
Teks Ulangan 30:10–14: Kedekatan Firman dan Pilihan Eksistensial
Teks ini merupakan bagian dari Tradisi Deuteronomis yang khas dengan ciri-ciri: Penekanan pada kesetiaan kepada Taurat, Pilihan antara berkat dan kutuk,
Sentralisasi ibadah, Gaya bahasa didaktis-retoris, dan Ajaran moral yang bersifat profetis.
Puncaknya adalah ayat 14: “Firman itu sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” redaksi ini berisi ajakan yang kuat agar umat Israel tidak mencari-cari kebenaran jauh ke langit atau ke seberang laut, karena Firman sudah berada di dalam hidup sehari-hari mereka.
Dalam terang Perjanjian Baru, pernyataan ini sejalan dengan Injil Yohanes 1:14—Firman telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Maka, kesetiaan terhadap Firman bukan soal hafalan, melainkan relasi konkret dan tindakan nyata. Pilihan sikap ini memberi dasar moral untuk mengenali sesama dan bertindak demi mereka.
Teks Kolose 1:15–20: Kristus sebagai Model Belas Kasihan yang Mutlak
Dalam surat Kolose, Paulus memadukan dua hakekat Kristus yakni Hakekat transenden, ketika ia menyebut Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan” dan Hakekat imanen, ketika Kristus hadir sebagai manusia dan menjadi yang sulung dari segala ciptaan.
Ungkapan “gambar Allah” memiliki akar dalam Kitab Kejadian dan menegaskan bahwa Yesus bukan bukan diciptakan, tetapi dilahirkan dari Allah. Hal ini menjelaskan bahwa kemanusiaan Kristus berbeda dari manusia biasa. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia.
Relasi perikoresis antara Kristus dan BapaNya memperlihatkan kasih yang saling melingkupi. Kasih ini menjadi pola dasar bagi kita yang adalah gambar Allah. Maka, tindakan mengasihi sesama bukan sekadar kewajiban, melainkan pencerminan dari relasi kasih Allah sendiri.
Teks Lukas 10:25–37: Narasi tentang Kasih yang Menyeberang Batas
Kisah ini bermula dari motivasi tersembunyi sang ahli Taurat—ingin menjebak Yesus. Namun Yesus tidak masuk ke dalam jebakan itu. Ia justru menantang si penanya untuk membaca kembali hukum dengan hati yang jernih. Ahli Taurat mampu mengutip hukum kasih dengan benar, tetapi ia gagal dalam menghidupi substansinya.
Pertanyaannya yang kedua, “Siapakah sesamaku?”, menjadi peluang bagi Yesus untuk menjungkirbalikkan eksklusivisme agama dan sosial. Ia menampilkan tokoh Samaria—yang secara sosial dan religius distigmatisasi oleh orang Yahudi—sebagai tokoh utama belas kasihan.
Bandingkan: (1) Imam dan Lewi—dua tokoh religius dari Yudea (Yerusalem ke Yerikho), yang mestinya menjadi teladan belas kasih, justru mengabaikan korban penderitaan. (2) Orang Samaria—yang secara sosial dipinggirkan, justru menjadi model kasih yang radikal. Ia melihat, tergerak oleh belas kasihan, mendekat, merawat, mengangkat ke atas keledainya, membawa ke penginapan, dan membiayai perawatan.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh Orang Samaria itu menunjukkan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada simpati, tetapi bertumbuh menjadi empati dan aksi nyata. Bahkan, kebaikan itu bukan sekali saja, melainkan terus berlipat ganda. Ia menolong dengan minyak (lambang pengurapan) dan anggur (lambang pengorbanan Kristus)—dua unsur yang menunjuk pada dimensi liturgis dan pengurbanan Yesus sendiri.
Belas Kasihan: Inti dari Identitas Kristiani
Yesus mengakhiri narasi-Nya dengan pertanyaan balik: “Siapakah menurutmu sesama dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Dan ahli Taurat, dengan jujur, menjawab: “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Jawaban ini adalah pengakuan moral dan spiritual bahwa sesama bukan ditentukan oleh etnis, agama, atau wilayah, melainkan oleh tindakan belas kasih yang melintasi sekat-sekat sosial.
Dengan demikian, belajarlah dari orang Samaria itu, karena di dalamnya terang tampak bahwa kasih sejati adalah tindakan konkret yang menyembuhkan dan merangkul yang terluka. Orang Samaria itu adalah cermin dari Kristus sendiri—yang melintasi batas dosa manusia untuk menyelamatkan dan mengangkat kita.
Firman yang Dekat, Kasih yang Terlaksana
Firman Tuhan dalam Ulangan menyatakan bahwa Firman itu dekat. Surat Kolose menyatakan bahwa Kristus adalah wajah Allah yang nyata dan hadir. Injil Lukas menunjukkan bahwa kasih kepada sesama adalah jalan menuju hidup kekal.
Jadi, siapakah sesamaku manusia?—Sesamamu adalah siapa saja yang membutuhkan belas kasihmu. Dan bagaimana caraku menjadi sesama bagi orang lain?—Dengan bertindak seperti Orang Samaria itu: melihat, tergerak hati, mendekat, dan bertindak.
Mari kita tidak berhenti hanya menghafal hukum kasih. Mari melakukannya. Karena kasih, jika tidak dilaksanakan, hanyalah ide kosong. Tetapi kasih yang dilaksanakan, menyelamatkan.
