
LALIAN — KeuskupanAtambua.org – Para siswa SMA Swasta Seminari Lalian, mulai dari kelas peralihan hingga kelas XI, mengikuti ret-ret tahunan yang berlangsung pada 13–17 April 2026 di Kapela Agung Seminari Lalian. Kegiatan ini diikuti 257 siswa dan dipimpin oleh Rm. Beatus R. S. Moruk, Pr., imam muda Keuskupan Atambua sekaligus formator dan pendamping siswa kelas XI Seminari Lalian.

Retret tahun ini mengusung tema “Cogito ergo sum et vocati ergo sum”. Tema tersebut menjadi dasar refleksi bagi para seminaris untuk masuk ke kedalaman diri, mengevaluasi hidup, memulihkan mental dan emosi, serta memperkuat komitmen panggilan sebagai calon imam.
Kegiatan retret diikuti oleh 84 siswa kelas peralihan, 94 siswa kelas X, dan 79 siswa kelas XI. Retret ini dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Sekolah bagi siswa kelas XII. Selain untuk mendukung suasana ujian agar berjalan tenang dan tertib, kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari formasi kepribadian para seminaris.

Selama retret, para siswa mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, antara lain perayaan Ekaristi, sesi renungan, menonton film inspiratif, doa pagi, doa siang, doa malam, refleksi pribadi, membaca Kitab Suci, meditasi, serta doa pribadi dan bersama. Seluruh kegiatan dilaksanakan dalam suasana hening dan khusyuk.

Keheningan menjadi salah satu penekanan utama dalam retret ini. Para seminaris diajak untuk menghargai makna diam atau silentium sebagai ruang untuk mengenal diri, menata batin, dan membangun kesadaran hidup yang lebih matang.
Retret dibuka pada Senin, 13 April 2026, pukul 17.30 WITA melalui perayaan Ekaristi. Dalam kesempatan itu, Rm. Aldy menekankan pentingnya ajakan “Duc in Altum”, bertolak ke tempat yang dalam. Para seminaris diharapkan berani masuk ke kedalaman diri untuk melakukan introspeksi dan pembaruan hidup.
Tema besar retret kemudian dijabarkan dalam delapan sesi renungan. Melalui sesi-sesi tersebut, para seminaris diajak melihat kembali arti keberadaan diri dalam terang panggilan. Refleksi ini tidak hanya bersifat filosofis, tetapi juga teologis, karena menyentuh kesadaran dasar bahwa hidup seorang seminaris selalu berkaitan dengan panggilan Allah.
Retret ditutup pada Jumat, 17 April 2026, pukul 08.00 WITA dalam perayaan Ekaristi penutupan. Dalam renungannya yang berjudul “Saya Dipanggil, Maka Saya Ada”, Rm. Aldy menegaskan bahwa panggilan hidup harus diberi makna dalam rutinitas harian.
Menurutnya, setiap seminaris perlu menjalani rutinitas dengan kesadaran penuh, melibatkan cipta, rasa, dan karsa. Kesadaran itu menjadi dasar untuk membentuk pribadi yang tekun, matang, dan setia pada tujuan hidup.
“Berjuanglah untuk melakukan dengan sebaik-baiknya apa yang kamu bisa. Apa saja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menjadi berarti di kemudian hari,” demikian pesan yang disampaikan dalam penutupan retret. Rm. Aldy juga mengutip pesan Mater Shifu, “Jika kamu hanya melakukan apa yang kamu bisa, kamu tidak akan pernah menjadi lebih dari dirimu sekarang ini.”
Seluruh rangkaian retret berjalan lancar dan aman. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi para seminaris Seminari Lalian untuk semakin dewasa dalam aspek rohani, emosional, intelektual, dan kepribadian, terutama dalam merawat kesetiaan pada panggilan hidup sebagai calon imam.
Penulis: Adam Natalino Teme & Ogilbertus Hendra Mau Loko
Editor: Rm. Yudel Neno
