Lalian — KeuskupanAtambua.org – Sebanyak 62 siswa kelas XII SMA Swasta Seminari Lalian mengikuti Ujian Sekolah (US) yang berlangsung pada 13–21 April 2026 di gedung baru SMA Swasta Seminari Lalian. Ujian ini menjadi tahap akhir proses pendidikan para siswa angkatan ke-72 setelah menjalani masa pembinaan selama kurang lebih empat tahun di lembaga calon imam tersebut.

Ujian Sekolah dilaksanakan untuk mengukur perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek, baik kognitif, afektif, motorik, keterampilan, karakter, maupun potensi diri. Selain menjadi sarana evaluasi bagi siswa, ujian ini juga menjadi kesempatan bagi sekolah untuk melihat kualitas proses pendampingan yang telah dilakukan para guru selama masa pendidikan.

Kepala SMA Swasta Seminari Lalian, Rm. Hironimus Masu, Pr., dalam setiap kesempatan sebelum ujian dimulai, selalu menegaskan pentingnya keseriusan para siswa dalam mengikuti Ujian Sekolah. Ia mengingatkan bahwa ujian ini bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan momentum untuk mengukur kualitas diri setelah melewati proses pembinaan di seminari.

“Ujian Sekolah ini menjadi momen untuk mengukur dan melihat kualitas diri yang sudah didampingi kurang lebih empat tahun di lembaga calon imam ini,” demikian penegasan Rm. Hiro kepada para siswa.
Sebanyak 62 peserta ujian menempati empat ruangan. Ruang I diikuti 16 siswa, Ruang II 20 siswa, Ruang III 19 siswa, dan Ruang IV 7 siswa. Setiap ruangan diawasi dua orang guru secara bergantian.

Seluruh proses ujian berlangsung tertib dengan pengawasan yang ketat. Pengawasan tersebut dilakukan untuk menjaga suasana ujian yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan asli para peserta didik.
Ujian Sekolah yang berakhir pada Selasa, 21 April 2026, ditutup dengan foto bersama para guru dan siswa kelas XII. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan bersama orang tua siswa yang hadir untuk menjemput anak-anak mereka.
Suasana penutupan berlangsung haru. Setelah Ujian Sekolah, para siswa kelas XII harus meninggalkan Seminari Lalian, lembaga yang selama beberapa tahun telah menjadi tempat mereka bertumbuh, belajar, dan dibentuk dalam kehidupan bersama.
Pelepasan siswa kelas XII dilakukan secara lebih seremonial dengan kehadiran orang tua. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan para siswa, sekaligus menegaskan bahwa berakhirnya pendidikan di Seminari Lalian bukanlah akhir dari perjuangan.
Fase ini justru menjadi batu loncatan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik di perguruan tinggi maupun dalam tahapan hidup lain yang menuntut ketekunan, kedewasaan, dan semangat juang.
Sekolah berharap Ujian Sekolah ini menjadi proses pembelajaran yang bermakna bagi para siswa kelas XII. Mereka diharapkan terus berjuang meningkatkan berbagai aspek diri agar kelak menjadi pribadi yang unggul, matang, dan berguna bagi Gereja serta masyarakat.
Penulis: Aelredus R. Nahak & Yoseph A. Lopez
Editor: Rm. Yudel Neno

