
KeuskupanAtambua.org – SMPK Don Bosco Atambua menanggung koor Misa kedua Minggu Paskah V di Paroki Santa Filomena Mena, Minggu, 3 Mei 2026. Perayaan Ekaristi yang dihadiri umat paroki dan anak-anak sekolah itu dipimpin Kepala SMPK Don Bosco Atambua, Rm. Kris Falo, Pr., didampingi Pastor Pembantu Paroki Mena, Rm. Yudel Neno, Pr.

Rombongan SMPK Don Bosco Atambua yang hadir terdiri atas para guru, suster, orangtua, serta sekitar 100 siswa-siswi. Kehadiran mereka bukan hanya untuk mengambil bagian dalam pelayanan liturgi, melainkan juga menjadi bagian dari pembinaan mental, keterampilan, dan semangat misioner peserta didik.
Dalam sambutannya seusai Misa, Rm. Kris Falo menyampaikan terima kasih kepada Pastor Paroki Santa Filomena Mena, Rm. Yohanes Seran Nahak, Pr., yang telah memperkenankan keluarga besar SMPK Don Bosco Atambua merayakan Ekaristi bersama umat di pusat paroki.

Menurut Rm. Kris, keterlibatan siswa-siswi dalam koor lintas paroki memiliki tujuan misioner. Anak-anak dilatih untuk berani tampil, memiliki pengalaman publik, serta membentuk mental yang kuat dalam pelayanan Gereja.

“Kedatangan kami untuk menanggung koor ini tentu memiliki tujuan misioner. Anak-anak perlu memiliki mental tampil dan jam terbang untuk membentuk mental publik,” ujar Rm. Kris.
Ia menjelaskan, pelayanan koor di sejumlah paroki telah menjadi komitmen sekolah. Komitmen itu diputuskan bersama dalam rapat dengan para orangtua murid. Karena itu, sekolah terus mendorong siswa-siswi agar tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga bertumbuh dalam iman, seni, disiplin, dan keberanian melayani.
Rm. Kris juga menyampaikan bahwa SMPK Don Bosco Atambua saat ini memiliki lebih dari 50 guru dan tenaga kependidikan, serta sekitar 800 siswa-siswi. Dengan jumlah yang besar itu, pihak sekolah tetap berkomitmen menjaga kualitas pendidikan, pembinaan karakter, dan pengembangan keterampilan peserta didik.
Sementara itu, Rm. Yudel Neno, Pr., menyampaikan apresiasi atas penampilan koor SMPK Don Bosco Atambua. Menurut dia, para siswa tampil dengan sangat baik, didampingi para guru, terutama para guru seni budaya dan guru senior, Bapak Lusi Fatin.
“Mereka luar biasa,” kata Rm. Yudel di hadapan umat, para guru, orangtua, dan anak-anak yang hadir.
Rm. Yudel menilai, penampilan para siswa menunjukkan proses pembinaan yang serius. Koor, dirigen, pemain biola, pemain kajon, pemain gitar, pemain organ, hingga pengiring musik lainnya semuanya adalah siswa. Mereka bernyanyi dengan tata vokal yang baik, serasi, dan menghadirkan nuansa musik yang liturgis.
Menurut Rm. Yudel, para siswa tampil seperti orang dewasa. Mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan bermusik, tetapi juga mental pelayanan yang kuat di hadapan umat.
Ia pun mengajak umat, para guru, orangtua, dan anak-anak yang hadir untuk belajar dari siswa-siswi SMPK Don Bosco Atambua. Menurut dia, anak-anak perlu diberi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat, sekaligus dilatih berani keluar dari zona nyaman.
Rm. Yudel juga mendorong anak-anak dari wilayah Paroki Mena yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMPK Don Bosco Atambua agar memiliki semangat belajar dan niat misioner. Pendidikan di luar wilayah paroki, katanya, dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pengalaman, membentuk kemandirian, dan menambah “jam terbang” dalam pembinaan diri.
Usai perayaan Ekaristi, rombongan SMPK Don Bosco Atambua melanjutkan kegiatan rekreasi ke kawasan Perbatasan Wini. Di tempat itu, salah satu siswa kelas VIIB, Carolus Kristian Fatin, menyampaikan pengalamannya dalam belajar musik.

Carolus mengaku dapat memainkan organ dan piano berkat bimbingan Bapak Lusi Fatin. Ia terbiasa memainkan sejumlah lagu klasik dan lagu rohani, seperti Ave Maria karya Schubert, Ave Maria karya Gounod, Ave Verum karya Mozart, Panis Angelicus, serta sejumlah lagu berat lainnya. Ia juga mengatakan mampu membaca not balok dan memainkan gitar klasik.
Kehadiran SMPK Don Bosco Atambua di Paroki Santa Filomena Mena menjadi pengalaman iman sekaligus pembinaan karakter bagi para siswa. Melalui pelayanan koor, para siswa belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam keberanian melayani, bekerja sama, dan memberi diri bagi Gereja serta sesama.
oleh Romo Yudel Neno, Pr
