
Renungan Serial, KeuskupanAtambua.org – Mengelola Kelekatan Emosional dan Memperdalam Relasi Spiritual – oleh Rm. Yudel Neno, Pr

Renungan
Dalam psikologi, dikenal istilah attachment atau kelekatan emosional, yakni ikatan batin yang wajar dalam hubungan antarmanusia. Kelekatan yang sehat membuat seseorang merasa aman, diterima, dan mampu bertumbuh. Namun, apa jadinya ketika kedekatan berubah menjadi ketergantungan? Orang dapat kehilangan kebebasan untuk mengambil keputusan karena takut ditinggalkan, mencari persetujuan, atau ingin menguasai orang yang dikasihinya. Bagi seorang imam, di sinilah kedewasaan afektif diuji: mampu mengasihi dengan tulus tanpa terikat secara berlebihan. Kedekatan dengan keluarga dan sahabat tentu bernilai, bahkan dapat menguatkan panggilan. Akan tetapi, setiap relasi perlu diarahkan kepada Kristus agar kasih tidak menyempit pada seseorang, melainkan menjangkau semakin banyak orang.
Inilah yang ditegaskan Yesus dalam Injil hari ini. Ketika meminta murid-Nya “membenci” ayah, ibu, keluarga, bahkan nyawanya sendiri, Yesus tidak sedang mengajarkan kebencian. Dalam cara bertutur semitis, ungkapan tajam itu menegaskan pilihan yang utama: kasih kepada Kristus harus mendahului segala ikatan lainnya. Jadi, keluarga tetap dikasihi, tetapi tidak boleh menggantikan kedudukan Tuhan. Dua perumpamaan tentang orang yang membangun menara dan raja yang menghadapi peperangan menggarisbawahi perlunya menghitung konsekuensi secara matang sebelum menjadi murid. Memikul salib berarti siap menanggung pengorbanan karena setia mengikuti-Nya. Melepaskan segala milik berarti bebas dari harta dan rela berbagi. Dalam pelayanan, tuntutan ini mencakup keberanian melepaskan sikap posesif terhadap orang terdekat.
Pada peringatan Santo Karolus Boromeus hari ini, kebebasan itu menjadi nyata. Meski berasal dari keluarga bangsawan, ia memilih kesederhanaan dan menggunakan kekayaannya untuk membantu orang miskin. Ketika wabah melanda Milan, ia hadir untuk membantu mereka yang kelaparan dan mendampingi orang sakit. Dari mana keberanian ini berasal? Dari persatuannya dengan Kristus yang dipelihara melalui doa, Ekaristi, dan pertobatan. Teladannya menegaskan bahwa kedalaman spiritual tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi melahirkan kasih yang berani berkorban.
Karena itu, bagi kita semua, terutama para imam, kebebasan batin bukan berarti menjauhi manusia, melainkan menyediakan diri sepenuhnya bagi pelayanan. Semakin Kristus menjadi pusat hidup, semakin luas pula ruang kasih kita bagi sesama.
Niat
Mengenali kelekatan yang menghambat kebebasan batin dan menatanya melalui doa serta refleksi yang jujur. Selanjutnya memperluas pelayanan dengan menyediakan waktu dan perhatian bagi mereka yang membutuhkan, termasuk di luar lingkaran terdekat saya.
Doa
Tuhan Yesus, murnikanlah hatiku agar setiap hubungan bertumbuh dalam kebebasan dan kasih-Mu. Ajarlah aku mengutamakan Engkau, memikul salib, serta mempersembahkan waktu dan milikku bagi sesama. Semoga teladan Santo Carolus Boromeus meneguhkan kesetiaanku untuk melayani dengan rendah hati dan tanpa pilih kasih. Amin.
Editor – Yosef Hello, Published by Yudel Neno

