Kamis, 29 Oktober 2026 – Pekan Biasa XXX – Tahun A – Rm. Yudel Neno
TETAP BERJALAN DALAM PANGGILAN
| BACAAN SUCI | Ef 6: 10-20
Mzm 144: 1-2.9-10 Luk 13:31-35 |
| AYAT KUNCI
Luk 13: 33 |
“Aku harus meneruskan perjalanan-Ku hari ini, besok dan lusa.” |
RENUNGAN
Ketika orang Farisi memperingatkan bahwa Herodes hendak membunuh-Nya, Yesus menyebut Herodes “serigala kecil” dan tetap berjalan. Dalam Lukas, perjalanan ke Yerusalem bukan perpindahan geografis semata, melainkan jalan taat kepada misi Bapa. Ancaman tidak menentukan arah hidup Yesus; kehendak Allah-lah yang menuntun-Nya.
Ratapan atas Yerusalem memperlihatkan sisi lain ketegasan-Nya. Ia tidak membalas penolakan dengan kebencian, tetapi dengan kerinduan untuk menghimpun, seperti induk ayam menaungi anak-anaknya. Karena itu, keberanian profetis dan belas kasih bukan sikap yang bertentangan. Kebenaran harus diperjuangkan tanpa kehilangan kasih.
Belajar berjalan dalam tuntunan Firman berarti tidak membiarkan ketakutan, tekanan, atau penolakan mengalihkan kita dari panggilan yang benar. Firman memberi arah sekaligus daya tahan. Kita dipanggil melangkah dengan keberanian yang tidak kasar dan kasih yang tidak lemah: teguh pada kebenaran, tetapi tetap membuka ruang bagi rekonsiliasi dan pertobatan.
NIAT
Hari ini aku berniat tetap setia pada panggilan dan kebenaran meski menghadapi tekanan, sambil menjaga keberanian yang lembut dan kasih yang tidak membalas kebencian.
DOA
Tuhan, teguhkanlah langkahku agar tidak mudah dibelokkan oleh ketakutan. Ajarlah aku berani dalam kebenaran dan tetap penuh kasih dalam setiap penolakan. Amin. (RYFN)
Jumat, 30 Oktober 2026, Pekan Biasa XXX – Tahun A – Rm. Leo Nahas
BERBUAT BAIK
| BACAAN SUCI | Flp 1: 1-11
Mzm 111: 1-2.3-4.5-6 Luk 14: 1-6 |
| AYAT KUNCI
Luk 14: 3B |
Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari sabat atau tidak? |
RENUNGAN
Bagi Orang Farisi aturan lebih penting dari belaskasihan. Tetapi bagi Yesus manusia lebih penting dari aturan. Dari sini kita belajar arti berbuat baik yang sesungguhnya. Berbuat baik seringkali diawasi dan disalahpahami. Saat kita mau berbuat baik, tidak semua orang akan bertepuk tangan. Kadang kebaikan kita dicurigai, dikritik dan bahkan dianggap cari muka.
Yesus pun mengalami itu. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena diawasi atau dikritik orang. Berbuat baik bukan untuk menyenangkan penonton tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Berbuat baik janganlah ditunda karena aturan. Orang Farisi berpikir: jangan sembuhkan hari ini, karena hari sabat, tunda besok saja. Ketika Yesus bertanya: diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari sabat atau tidak? Mereka hanya diam, lalu Yesus berkata: siapa di antara kamu yang tidak menarik keluar anaknya atau lembu ya yang terperosok ke dalam sumur pada hari sabat? Betapa sering kita seperti orang Farisi. Kita punya banyak alasan untuk menunda kebaikan. Yesus mengajarkan jika ada kesempatan untuk berbuat baik hari ini, lakukan segerah hari ini. Kasih tidak mengenal kalender. Orang yang tenggelam tidak bisa menunggu sampai besok untuk ditolong.
Hari ini di sekitar kita ada orang yang sakit busung air. Mungkin tetangga yang kesusahan, mungkin ada teman yang butuh didengarkan, dan ada keluarga yang butuh diampuni. Apakah kita akan seperti orang Farisi yang hanya diam dan mengamat-amati? Atau seperti Yesus yang bertindak?
NIAT
Hari ini saya mau membantu saudara atau tetangga atau umatku yang sedang mengalami persoalan dalam keluarganya
DOA
Bapa dalam sorga, hari ini PuteraMu Yesus mengajarkan kami untuk memberikan pertolongan kepada sesama pada waktunya, tidak menunda karena berbagai alasan. Mampukan saya untuk membantu sesama pada waktunya. Amin. (RLN)
Sabtu, 31 Oktober 2026, Pekan Biasa XXX, Tahun A – Rm. Hiro Masu, Pr
YANG TINGGI DAN YANG RENDAH
| BACAAN SUCI | Flp 1: 18b-26
Mzm 42: 2-3.5abcd Luk 14: 1.7-11 |
| AYAT KUNCI
Luk 14: 11 |
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. |
RENUNGAN
Penginjil Lukas hari ini menampilkan pengajaran menarik Tuhan Yesus tentang dua tempat yakni yang paling utama dan yang paling rendah. Dengan itu Yesus mau mengajarkan bahwa kehormatan sejati tidak berasal dari ambisi pribadi tetapi pada sikap bijak yang diletakkan Tuhan dalam diri manusia yakni kerendahan hati.
Kerendahan hati adalah sebuah keutamaan kristiani yang perlu dihidupi oleh setiap orang beriman agar ia dapat menempatkan dirinya secara bijak di hadapan Tuhan dan sesama manusia tanpa melukai martabat dirinya dan orang lain. Maka dalam kehidupan beriman kita, dengan tuntunan sabda Tuhan ini, kita hendaknya tahu menempatkan diri kita secara pantas dan benar tanpa menganggap diri lebih hebat, lebih penting dan lebih viral dari yang lain.
Ingat, di dalam diri yang hebat, penting dan viral itu, terdapat juga celah: ada kekurangan dan keterbatasan. Orang yang sombong selalu ingin didengarkan dan dipandang hebat, ingin didahulukan dalam segala hal dan ingin dilayani. Tetapi orang yang rendah hati akan selalu menempatkan orang lain sebagai subyek yang pantas dihormati. Marilah kita senantiasa berusaha mengembangkan sikap rendah hati dalam hidup kita agar semakin berkelimpahan dalam kebaikan. Maka jadilah manusia beriman yang tahu diri.
NIAT
Hari ini saya akan terus belajar menjadi orang yang tahu diri dan tahu menempatkan diri!.
DOA
Ya Allah, Engkaulah sumber pengetahuan sejati. Engkau mengetahui seluruh diri kami. Bantulah kami agar kami tahu diri dan tahu menempatkan diri dalam kehidupan beriman kami sehingga kami tidak saling merendahkan dengan cara hidup dan tingkah laku kami. Amin (RHM)
