
Opini – KeuskupanAtambua.org – Belajar Komunikasi yang Berkarakter – Oleh Magdalena Tae Sanam
Seseorang dapat berbicara panjang lebar, tetapi belum tentu memberi ruang bagi orang lain untuk didengarkan. Dalam percakapan sehari-hari, kita kadang lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada memahami maksud lawan bicara. Pengalaman belajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, membuat saya mulai menyadari bahwa cara kita berkomunikasi memperlihatkan cara kita memperlakukan sesama.
Saya adalah mahasiswi semester pertama yang menyukai puisi dan cerita pendek. Ketika memilih tempat kuliah, saya berharap menemukan lingkungan yang membantu saya mengembangkan minat menulis. Harapan itu membawa saya bergabung dengan Ilmu Komunikasi Unwira. Di sini, saya mulai belajar bahwa kemampuan menyusun kata perlu disertai kesediaan memahami orang yang akan membaca atau mendengarnya.
Pada awalnya, saya menganggap komunikasi sebagai sesuatu yang mudah karena setiap hari kita berbicara. Namun, setelah mulai mendalaminya, saya melihat bahwa kebiasaan berbicara tidak otomatis membuat seseorang mampu berkomunikasi dengan baik. Ada pesan yang tidak dipahami sebagaimana dimaksudkan. Ada pula percakapan yang meninggalkan rasa tersinggung karena orang yang berbicara kurang memperhatikan perasaan pendengarnya.
Keinginan untuk selalu didengarkan, misalnya, dapat membuat kita memotong pembicaraan. Sikap seperti ini mempersempit kesempatan untuk saling memahami. Persoalannya terletak pada kurangnya kesediaan mendengarkan dan kecenderungan mendominasi percakapan. Karena itu, belajar komunikasi juga menuntut keberanian memeriksa kebiasaan diri sendiri.
Bagi saya, komunikasi yang berkarakter tampak dalam tindakan sederhana: membiarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya, bertanya ketika belum memahami, serta menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan.
Mendengarkan tidak mengharuskan kita menyetujui setiap pendapat. Kita tetap dapat bersikap kritis sambil menghormati orang yang memiliki pandangan berbeda.
Di ruang kuliah, sikap tersebut perlu dilatih melalui diskusi. Mahasiswa yang lancar berbicara dapat belajar memberi kesempatan kepada teman yang masih ragu. Mereka yang belum percaya diri juga perlu mendapat ruang untuk mencoba. Dosen memiliki peran penting dalam membangun suasana belajar yang membuat mahasiswa berani bertanya tanpa takut dipermalukan ketika keliru.
Saya merasakan bahwa lingkungan belajar yang mendukung membantu saya menjadi lebih percaya diri. Motivasi para dosen dan kebersamaan dengan teman-teman memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang sebelumnya belum berani saya tunjukkan.
Meski demikian, sebagai mahasiswa baru, saya masih perlu banyak belajar, terutama untuk menyampaikan gagasan secara jelas dan mendengarkan dengan lebih sabar.
Tanggung jawab berkomunikasi juga berlaku ketika kita menyampaikan informasi. Pesan yang diteruskan tanpa diperiksa dapat menimbulkan salah paham. Sebelum membagikan informasi, kita perlu mencari sumbernya dan membaca isinya secara utuh.
Jika kebenarannya belum jelas, menunda membagikannya merupakan pilihan yang bertanggung jawab. Kepercayaan orang lain patut dijaga, termasuk melalui pesan singkat dan unggahan di media sosial.
Minat saya pada puisi dan cerita pendek memberi makna yang lebih luas melalui pembelajaran ini. Menulis mengajak saya memperhatikan pengalaman manusia dan memilih kata dengan cermat.
Sebuah tulisan sebaiknya memberi pembaca ruang untuk memahami gagasan penulis. Saya ingin terus mengembangkan bakat tersebut sambil belajar menerima kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki karya.
Di program studi ini, saya mengenal semboyan “Jikomers: One Body, One Team, One Family”. Saya memahaminya sebagai ajakan untuk bertumbuh bersama. Semangat kekeluargaan itu perlu hadir dalam keseharian, misalnya ketika mahasiswa saling membantu memahami materi dan menghargai kemampuan yang berbeda.
Rasa bangga terhadap kampus akan semakin bermakna jika disertai sikap yang membuat sesama merasa diterima.
Bagi saya, sebagai anak muda yang belajar di Nusa Tenggara Timur, pembentukan karakter dalam berkomunikasi merupakan bekal untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Kebiasaan mendengarkan dapat dimulai dari keluarga dan pertemanan. Dari lingkungan terdekat itulah kita belajar membahas perbedaan tanpa merendahkan orang lain.
Perjalanan kuliah saya masih panjang. Saya berharap dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menulis dan berbicara dengan baik, sekaligus bersedia dikoreksi.
Harapan itu perlu saya kerjakan setiap hari, mulai dari memberi perhatian ketika seseorang sedang berbicara. Di situlah pelajaran komunikasi yang berkarakter mulai saya jalani.
Editor – Yudel Neno

