Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Beriman Teguh pada Kristus
  • Uskup Atambua Ajak Umat Jadikan Perarakan Ina Maria sebagai Momentum Pembaruan Iman dan Kedamaian Keluarga
  • Memahami Tiga Keadaan Gereja dalam Persekutuan hal Kudus dan para Kudus
  • Mulai Bahagia di Dunia, Sempurna di Surga
  • Yang Tinggi dan Yang Rendah
  • Uskup Atambua Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Format EVAPERCA
  • Dua Siswa Seminari Lalian Tembus Lima Besar Turnamen Catur Belu Open 2026
  • Immaculata Band Seminari Lalian Unjuk Kemampuan di Youthfest 2026
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita Dekenat»Uskup Atambua Ajak Umat Jadikan Perarakan Ina Maria sebagai Momentum Pembaruan Iman dan Kedamaian Keluarga
Berita Dekenat

Uskup Atambua Ajak Umat Jadikan Perarakan Ina Maria sebagai Momentum Pembaruan Iman dan Kedamaian Keluarga

Sponsored By: Komsos Keuskupan AtambuaKomsos Keuskupan AtambuaNovember 1, 2026No Comments6 Mins Read
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

MALAKA — KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, mengajak seluruh umat Katolik di Dekenat Malaka untuk menjadikan Perarakan Besar Ina Maria Nai Feto Malaka sebagai momentum pembaruan iman, pendalaman hubungan pribadi dengan Allah, serta penguatan kehidupan keluarga yang dilandasi semangat doa, kasih, pengampunan, dan kedamaian. Ajakan tersebut disampaikan dalam homili Misa Penutupan Perarakan Besar Ina Maria Nai Feto Malaka yang berlangsung di pelataran Gua Tubaki, Paroki Santa Maria Fatima Betun, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Perayaan Ekaristi tersebut menjadi puncak perjalanan rohani umat Katolik dari 20 paroki di Dekenat Malaka, Keuskupan Atambua, setelah selama dua bulan mengadakan perarakan patung Bunda Maria dari satu paroki ke paroki lainnya. Perjalanan iman ini menjadi salah satu perayaan devosional yang diselenggarakan setiap dua tahun dan melibatkan berbagai unsur umat dalam semangat kebersamaan, doa, dan persaudaraan.

Dalam homilinya, Uskup Atambua menegaskan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria tidak boleh berhenti pada kemeriahan perayaan, tetapi harus berbuah dalam pembaruan kehidupan iman, pertobatan, ketaatan kepada kehendak Allah, dan kesediaan melayani sesama. Menurut Uskup, Maria merupakan teladan kehidupan beriman karena seluruh hidupnya diarahkan kepada Allah. Kesediaannya menerima kehendak Tuhan menjadi contoh bagi umat beriman untuk membangun kehidupan yang berlandaskan iman, pengharapan, dan kasih.

“Marilah kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus di bawah doa-doa Bunda Maria,” ajak Uskup Atambua.

Lebih lanjut, Mgr. Dominikus mengingatkan bahwa tujuan akhir kehidupan manusia adalah keselamatan dalam Kristus. Karena itu, setiap bentuk devosi harus membantu manusia semakin mengenal Kristus dan semakin setia melaksanakan kehendak-Nya. Penghormatan kepada Maria tidak pernah menggantikan kedudukan Kristus sebagai satu-satunya Penyelamat, tetapi justru mengarahkan umat untuk semakin dekat kepada-Nya.

“Kita percayakan hidup kita kepada Tuhan supaya ditebus, disempurnakan, dan dibawa kepada keselamatan kekal,” tegasnya.

Uskup juga mengajak umat untuk tidak membatasi penghormatan kepada Bunda Maria hanya pada kegiatan seremonial selama Bulan Maria pada Mei dan Bulan Rosario pada Oktober. Devosi kepada Maria hendaknya menjadi bagian dari kehidupan iman yang terus bertumbuh sepanjang tahun. Dengan demikian, keberhasilan sebuah perarakan rohani tidak semata-mata diukur berdasarkan banyaknya peserta atau kemeriahan penyelenggaraan, tetapi terutama melalui perubahan sikap dan perilaku umat setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam kaitan dengan pembaruan iman tersebut, Uskup Atambua memberikan perhatian khusus terhadap kehidupan keluarga yang kerap menghadapi berbagai persoalan akibat kurangnya komunikasi yang sehat, ketidakmampuan mengendalikan emosi, serta kebiasaan menggunakan perkataan yang melukai sesama. Menurutnya, kedamaian dalam keluarga tidak tercipta dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan melalui kesabaran, kerendahan hati, kemampuan mengendalikan perkataan, dan kesediaan untuk saling mengampuni.

“Semoga hati kita dingin,” ungkap Uskup Atambua ketika mengajak umat untuk membangun ketenangan batin dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Ungkapan tersebut menjadi ajakan agar setiap orang belajar mengendalikan emosi. Hati yang dikuasai kemarahan akan mudah mendorong seseorang untuk membalas perkataan orang lain, sedangkan hati yang tenang memungkinkan manusia mengambil keputusan secara lebih bijaksana. Karena itu, kehidupan keluarga yang damai harus dimulai dari kemampuan setiap anggotanya untuk mengendalikan diri, menghormati sesama, dan mengedepankan kasih dalam komunikasi sehari-hari.

Uskup kemudian menekankan pentingnya mengembangkan keseimbangan antara perkataan, doa, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Dia yang bicara kurang, berdoa lebih baik. Dia yang bicara kurang, kerja lebih baik,” pesannya.

Melalui pernyataan tersebut, Uskup mengingatkan bahwa kehidupan kristiani tidak hanya dibangun melalui banyaknya nasihat atau perkataan, tetapi terutama melalui ketekunan berdoa dan kesediaan melakukan tindakan yang bermanfaat bagi sesama. Dalam konteks kehidupan keluarga, pesan ini menjadi sangat relevan karena banyak persoalan muncul ketika anggota keluarga lebih mudah menyampaikan kemarahan daripada membangun komunikasi yang penuh kasih.

Uskup juga mengingatkan umat agar menjauhkan diri dari kebiasaan yang merusak keharmonisan keluarga, termasuk penyalahgunaan minuman beralkohol, kebiasaan memaki, serta perilaku yang dapat menimbulkan pertengkaran. Sebaliknya, kehidupan keluarga hendaknya dibangun melalui doa bersama, komunikasi yang santun, tanggung jawab, dan kesediaan untuk saling membantu.

Dalam homilinya, Uskup turut mengangkat pengalaman kehidupan keluarga yang menemukan jalan perdamaian melalui doa dan penyerahan diri kepada Tuhan di hadapan Bunda Maria. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan doa memiliki kekuatan spiritual untuk membantu manusia mengatasi persoalan, membuka hati terhadap pengampunan, serta membangun kembali hubungan yang mengalami keretakan.

Bunda Maria dan Santo Yosef dihadirkan sebagai teladan kehidupan keluarga yang dibangun di atas iman, kesetiaan, tanggung jawab, dan ketaatan kepada kehendak Allah. Melalui teladan Keluarga Kudus Nazaret, umat diharapkan mampu mengembangkan kehidupan keluarga yang tidak mudah dikuasai kemarahan, tetapi senantiasa memberikan ruang bagi pengertian, pengampunan, dan cinta kasih.

Dalam perspektif kehidupan menggereja, pesan Uskup Atambua tersebut memiliki hubungan yang erat dengan makna Perarakan Besar Ina Maria Nai Feto Malaka. Perjalanan patung Bunda Maria selama dua bulan melewati 20 paroki bukan sekadar kegiatan devosional yang mempertemukan umat dalam suasana doa, melainkan juga sebuah kesempatan pastoral untuk memperbarui kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas.

Kehadiran patung Bunda Maria di tengah komunitas-komunitas umat secara simbolis mengingatkan setiap keluarga bahwa Maria merupakan teladan iman yang selalu mengarahkan manusia kepada Kristus. Karena itu, penghormatan kepada Bunda Maria harus memperoleh kelanjutannya dalam kehidupan konkret, terutama melalui ketekunan berdoa, kesediaan saling mengampuni, semangat pelayanan, dan tanggung jawab membangun kedamaian.

Dalam perspektif teologis, perarakan tersebut sekaligus memperlihatkan identitas Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang sedang berziarah menuju kepenuhan keselamatan dalam Kristus. Maria, sebagai Bunda Gereja, menjadi teladan sekaligus pendamping perjalanan iman tersebut. Kesetiaan Maria kepada kehendak Allah mengajarkan bahwa perjalanan iman selalu menuntut keterbukaan terhadap rahmat, kerendahan hati untuk bertobat, dan keberanian untuk memperbarui kehidupan.

Dengan demikian, pembaruan iman dan kedamaian keluarga merupakan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan. Iman yang sungguh-sungguh dihayati harus menghasilkan buah dalam kehidupan keluarga, sedangkan keluarga yang dibangun di atas doa dan kasih menjadi tempat pertama bagi pertumbuhan serta pewarisan iman kristiani. Devosi kepada Bunda Maria kehilangan kedalaman maknanya apabila tidak disertai usaha nyata untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.

Pesan Uskup Atambua ini memperoleh makna khusus karena disampaikan pada puncak perarakan Bunda Maria yang telah berlangsung selama dua bulan di wilayah Dekenat Malaka. Selama perjalanan tersebut, umat dari berbagai paroki memperoleh kesempatan untuk berdoa bersama, membangun persaudaraan, memperdalam penghayatan iman, dan memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus.

Karena itu, Uskup berharap agar umat tidak hanya kembali dari Gua Tubaki dengan pengalaman mengikuti sebuah perayaan besar, tetapi juga membawa komitmen untuk memperbaiki kehidupan pribadi dan keluarga masing-masing. Penghormatan kepada Bunda Maria hendaknya menjadi dorongan bagi setiap orang untuk semakin tekun berdoa, semakin bijaksana dalam berbicara, semakin sabar menghadapi persoalan, serta semakin terbuka untuk membangun perdamaian.

Penutupan Perarakan Besar Ina Maria Nai Feto Malaka dengan demikian bukanlah akhir dari perjalanan spiritual umat, melainkan awal dari komitmen baru untuk menghidupi nilai-nilai iman yang telah direnungkan bersama Bunda Maria. Perjalanan patung Maria dari satu paroki ke paroki lainnya telah berakhir, tetapi perjalanan iman umat harus terus berlangsung dalam keluarga, komunitas, dan seluruh medan kehidupan sehari-hari.

Melalui perayaan penutupan tersebut, umat Katolik dari 20 paroki di Dekenat Malaka kembali diingatkan bahwa penghormatan yang sejati kepada Bunda Maria bukan hanya terungkap melalui doa, nyanyian, dan perarakan, melainkan terutama melalui kehidupan yang semakin berpusat pada Kristus, keluarga yang semakin damai, serta kesediaan menghadirkan kasih dan pengampunan di tengah masyarakat.

oleh Yudel Neno. Sumber berita ; Audio Youtube Komsos Keuskupan Atambua

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Tujuh Tahun dan Solidaritas Umat

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Hadiri Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Bupati Malaka Tekankan Pentingnya Solidaritas Umat dan Pembangunan SDM

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Tahbiskan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Uskup Atambua Ajak Umat Membangun Kekudusan Hidup

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Umat Paroki Kotafoun Bersukacita Mendapatkan Gereja Baru

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Perkuat Rohani dan Pemahaman tentang Ina Maria Nai Feto Malaka, Panitia Perarakan Gelar Rekoleksi dan Seminar

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 8, 2026

Tutup BKSN, Deken Belu Utara Tegaskan BKSN Ditutup tetapi Kitab Suci Harus Terbuka Terus Sepanjang Hayat

October 1, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Beriman Teguh pada Kristus

Sponsor: Komsos Keuskupan AtambuaNovember 2, 2026

Uskup Atambua Ajak Umat Jadikan Perarakan Ina Maria sebagai Momentum Pembaruan Iman dan Kedamaian Keluarga

Sponsor: Komsos Keuskupan AtambuaNovember 1, 2026

Memahami Tiga Keadaan Gereja dalam Persekutuan hal Kudus dan para Kudus

Sponsor: Komsos Keuskupan AtambuaNovember 1, 2026

Mulai Bahagia di Dunia, Sempurna di Surga

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua November 1, 2026

Yang Tinggi dan Yang Rendah

Sponsor: Komsos Keuskupan AtambuaOctober 31, 2026

Uskup Atambua Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Format EVAPERCA

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 30, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?