Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Pewarta Api Kasih
  • Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Tujuh Tahun dan Solidaritas Umat
  • Hadiri Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Bupati Malaka Tekankan Pentingnya Solidaritas Umat dan Pembangunan SDM
  • Tahbiskan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Uskup Atambua Ajak Umat Membangun Kekudusan Hidup
  • Umat Paroki Kotafoun Bersukacita Mendapatkan Gereja Baru
  • Setia dalam Kepercayaan
  • Berjaga dalam Kesetiaan
  • Syukur 40 Tahun Romo Alo Kosat, Uskup Atambua Urai Ketahanan Imamat dalam Kesetiaan yang Total
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita»Hadiri Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Bupati Malaka Tekankan Pentingnya Solidaritas Umat dan Pembangunan SDM
Berita

Hadiri Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Bupati Malaka Tekankan Pentingnya Solidaritas Umat dan Pembangunan SDM

Pentahbisan Gedung Gereja Santa Sesilia Kotafoun
Sponsored By: Komsos Keuskupan Atambua Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026No Comments11 Mins Read
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kotafoun, KeuskupanAtambua.org — Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH, mengapresiasi semangat solidaritas umat Katolik Paroki Santa Sesilia Kotafoun yang berhasil menyelesaikan pembangunan gedung gereja melalui kerja sama, pengorbanan, dan partisipasi berbagai pihak.

Apresiasi tersebut disampaikan dalam sambutannya pada perayaan pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun yang dipimpin Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Selasa (20/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Malaka menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan rumah ibadat harus diikuti dengan perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia, pembinaan generasi muda, serta pemeliharaan fasilitas gereja secara berkelanjutan.

Perayaan pentahbisan gereja tersebut dihadiri ribuan umat Katolik, para imam, diakon, frater, suster, serta sejumlah pejabat pemerintah. Hadir pula perwakilan Gubernur Nusa Tenggara Timur, unsur pemerintah Kabupaten Malaka, Belu, dan Timor Tengah Utara, anggota DPRD Provinsi NTT dan kabupaten, serta para tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Stefanus Bria Seran mengungkapkan kegembiraannya menyaksikan keberhasilan umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun menghadirkan sebuah gedung gereja yang representatif setelah melalui proses pembangunan selama bertahun-tahun.

Menurut dia, keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat sesungguhnya memiliki potensi besar untuk membangun berbagai fasilitas pelayanan publik dan keagamaan apabila memperoleh pendampingan serta kepemimpinan yang mampu menggerakkan partisipasi bersama.

Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Pastor Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Romo Baltasar Seran, Pr, yang dikenal dengan sapaan Romo Bala, atas kepemimpinannya dalam mendampingi umat selama proses pembangunan berlangsung.

Bupati Malaka menilai bahwa Romo Bala telah menunjukkan kemampuan menggerakkan umat untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga pembangunan gereja dapat diselesaikan dengan baik.

Menurut dia, pengalaman pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun memberikan pembelajaran penting mengenai kekuatan partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan.

Ia mengakui bahwa masyarakat memiliki sumber daya yang dapat dihimpun dan dikembangkan untuk kepentingan bersama. Namun, potensi tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan, mengembangkan kerja sama, serta menggerakkan keterlibatan masyarakat secara konsisten.

Dalam kaitan tersebut, Bupati Malaka menilai bahwa keberhasilan Romo Bala bersama umat dapat menjadi contoh mengenai bagaimana kepemimpinan pastoral mampu menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan komunitas.

Selain memberikan apresiasi terhadap keberhasilan pembangunan, Stefanus Bria Seran juga menyoroti laporan pertanggungjawaban yang disampaikan Ketua Panitia Pembangunan dan Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Manuel.

Ia mengaku terkesan dengan penyampaian laporan yang memuat proses pembangunan, sumber-sumber penerimaan dana, serta berbagai bentuk dukungan yang diberikan umat dan para donatur.

Menurut dia, laporan pertanggungjawaban tersebut menunjukkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana yang dihimpun dari masyarakat.

Bupati Malaka bahkan menilai bahwa praktik pelaporan yang dilakukan panitia dapat menjadi contoh bagi penyelenggaraan pembangunan, termasuk dalam lingkungan pemerintahan.

Ia menegaskan bahwa setiap kegiatan pembangunan yang menggunakan dana dari berbagai sumber perlu disertai pertanggungjawaban yang jelas agar masyarakat mengetahui bagaimana kontribusi mereka dikelola dan dimanfaatkan.

Menurut dia, transparansi bukan hanya berkaitan dengan penyampaian angka penerimaan dan pengeluaran, melainkan juga menjadi sarana membangun kepercayaan antara pengelola kegiatan dan masyarakat yang memberikan dukungan.

Karena itu, ia menyampaikan penghargaan kepada panitia pembangunan yang telah memberikan laporan secara terbuka dalam perayaan pentahbisan tersebut.

Dalam sambutannya, Stefanus Bria Seran juga menghubungkan keberhasilan pembangunan gereja dengan pengalaman spiritual yang pernah diperolehnya ketika bertugas di Kabupaten Sumba Timur.

Ia mengenang sebuah perayaan gerejawi di Waingapu ketika mendengarkan homili seorang uskup mengenai makna persembahan manusia kepada Tuhan.

Dalam homili tersebut, menurut dia, disampaikan refleksi mengenai perjalanan bangsa Israel yang membangun tempat peribadatan selama perjalanan menuju Tanah Terjanji.

Bangsa Israel digambarkan mempersembahkan segala sesuatu yang terbaik dari milik mereka untuk membangun tempat yang layak bagi perjumpaan dengan Allah.

Refleksi tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Stefanus Bria Seran karena mengajarkan bahwa penghormatan kepada Tuhan seharusnya diwujudkan melalui kesediaan memberikan yang terbaik.

Menurut dia, semangat serupa tampak dalam perjuangan umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun yang membangun gereja melalui kontribusi bersama meskipun menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi.

Ia menilai bahwa kesederhanaan hidup umat tidak menghalangi mereka untuk memberikan sumbangan terbaik bagi pembangunan rumah ibadat.

Sebaliknya, keterbatasan tersebut justru menjadi ruang untuk memperlihatkan kekuatan solidaritas dan kesediaan berkorban demi kepentingan bersama.

Bupati Malaka mengungkapkan bahwa keberhasilan pembangunan gereja tersebut menjadi pengalaman yang menguatkan keyakinannya mengenai besarnya potensi masyarakat apabila diarahkan pada tujuan yang jelas.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengenang proses awal pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun yang melibatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Malaka.

Menurut dia, pada 2018 Romo Bala datang menemuinya untuk menyampaikan rencana pembangunan gedung gereja baru karena bangunan lama dinilai tidak lagi memadai untuk menampung kebutuhan umat.

Dalam pertemuan tersebut, Romo Bala menjelaskan bahwa pembangunan baru dapat dimulai setelah panitia memiliki kesiapan dana awal sesuai dengan persyaratan yang diberikan Uskup Atambua.

Stefanus Bria Seran kemudian menanyakan jumlah dana yang telah dihimpun umat. Setelah mengetahui bahwa umat telah mengumpulkan dana mendekati Rp.500 juta, ia menyatakan kesediaan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan sebesar Rp500 juta.

Dengan tambahan tersebut, dana awal pembangunan dapat mencapai sekitar Rp.1 miliar sehingga panitia memiliki dasar keuangan yang lebih kuat untuk mengajukan rencana pembangunan kepada Uskup Atambua.

Bupati Malaka menjelaskan bahwa keputusan memberikan bantuan tersebut diambil ketika Kabupaten Malaka masih berada dalam tahap awal pembangunan sebagai daerah otonom baru.

Pada masa itu, menurut dia, pemerintah daerah menghadapi berbagai kebutuhan pembangunan yang harus dibiayai melalui anggaran daerah.

Meskipun demikian, ia menilai bahwa pembangunan fasilitas keagamaan merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat yang patut memperoleh perhatian pemerintah.

Karena itu, dukungan sebesar Rp.500 juta diberikan untuk membantu umat mewujudkan pembangunan gereja yang telah direncanakan.

Ia mengungkapkan bahwa selama proses pembangunan berlangsung, dirinya beberapa kali mengunjungi Paroki Santa Sesilia Kotafoun dan mengikuti perkembangan pekerjaan melalui komunikasi dengan Romo Bala.

Kunjungan tersebut memberinya kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan konstruksi serta memahami berbagai kebutuhan yang masih dihadapi panitia.

Menurut dia, pembangunan gereja yang dilakukan secara bertahap memperlihatkan adanya kesungguhan umat dalam memanfaatkan dana dan dukungan yang diperoleh.

Dalam sambutannya, Bupati Malaka juga menyoroti pentingnya perencanaan pembangunan gedung gereja berdasarkan pertumbuhan jumlah umat.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan umat Katolik dapat diamati melalui berbagai indikator pastoral, antara lain jumlah pasangan yang menerima Sakramen Perkawinan, jumlah anak yang dibaptis, penerima Komuni Pertama, serta umat yang menerima Sakramen Penguatan atau Krisma.

Menurut dia, data-data tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkirakan kebutuhan fasilitas peribadatan dalam jangka panjang.

Karena itu, pembangunan gereja tidak seharusnya hanya didasarkan pada kebutuhan sesaat, tetapi perlu mempertimbangkan perkembangan jumlah umat pada masa mendatang.

Ia mengajak para pastor untuk membangun gedung gereja yang memiliki kualitas konstruksi baik, kokoh, dan mampu digunakan dalam waktu panjang.

Bupati Malaka bahkan mengemukakan harapan agar gedung gereja yang dibangun dapat bertahan hingga 100 tahun.

Menurut dia, perencanaan pembangunan yang berorientasi jangka panjang akan membantu umat menghindari kebutuhan membangun kembali gedung gereja dalam waktu yang relatif singkat.

Dengan demikian, sumber daya yang tersedia pada masa mendatang dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan lainnya.

Dalam hubungan tersebut, Stefanus Bria Seran menegaskan bahwa setelah pembangunan gedung gereja diselesaikan, perhatian umat dan para pastor perlu diarahkan secara lebih serius pada pengembangan sumber daya manusia.

Menurut dia, keberadaan gedung gereja yang baik harus diikuti dengan pembinaan umat yang berkualitas, terutama dalam bidang pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan generasi muda.

Ia menilai bahwa pembangunan fasilitas fisik dan pengembangan kualitas manusia merupakan dua tanggung jawab yang saling melengkapi.

Gedung gereja menyediakan tempat bagi umat untuk beribadat dan memperoleh pembinaan rohani, sedangkan pengembangan sumber daya manusia memungkinkan nilai-nilai iman diwujudkan dalam kehidupan sosial.

Karena itu, ia mengajak para pastor untuk terus memberikan perhatian terhadap pendidikan dan pembinaan umat agar keberhasilan pembangunan gereja menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Bupati Malaka juga menekankan pentingnya menumbuhkan panggilan menjadi imam dan anggota hidup bakti.

Ia mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk memberikan dukungan kepada anak-anak yang menunjukkan ketertarikan terhadap panggilan imamat maupun kehidupan membiara.

Menurut dia, pertumbuhan jumlah umat dan perkembangan pelayanan Gereja harus diimbangi dengan ketersediaan tenaga pastoral yang memadai.

Ia mengungkapkan kegembiraannya setiap kali menerima undangan untuk menghadiri perayaan tahbisan imam karena peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Gereja terus memperoleh tenaga baru untuk melanjutkan pelayanan.

Bupati Malaka menilai bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan yang mendukung tumbuhnya panggilan religius.

Karena itu, orang tua diharapkan memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenal kehidupan imamat dan membiara serta mendampingi mereka dalam menentukan pilihan hidup.

Ia juga menyinggung pentingnya meningkatkan perhatian terhadap panggilan hidup membiara bagi perempuan.

Dengan mengangkat pengalaman keluarga dan sejumlah peristiwa tahbisan maupun kaul kekal yang pernah diikutinya, ia mengajak umat untuk tidak hanya berbangga terhadap keberhasilan pembangunan fisik gereja, tetapi juga terhadap lahirnya panggilan-panggilan baru dari tengah keluarga Katolik.

Menurut dia, kehadiran imam dan anggota hidup bakti merupakan bagian penting dari kesinambungan pelayanan Gereja.

Selain menyoroti pembangunan sumber daya manusia, Stefanus Bria Seran mengingatkan umat agar menjaga dan merawat gedung gereja yang baru ditahbiskan.

Ia menegaskan bahwa gedung gereja merupakan aset umat yang harus dipelihara secara berkelanjutan.

Para pastor dapat mengalami perpindahan tugas sesuai dengan kebutuhan pelayanan Gereja, tetapi umat akan tetap menggunakan fasilitas tersebut dari generasi ke generasi.

Karena itu, tanggung jawab pemeliharaan gereja tidak dapat hanya dibebankan kepada pastor paroki atau pengurus tertentu.

Seluruh umat perlu memiliki kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan, keamanan, serta kondisi bangunan agar tetap dapat digunakan dalam jangka panjang.

Bupati Malaka mengulangi harapannya agar Gedung Gereja Santa Sesilia Kotafoun dapat bertahan hingga 100 tahun.

Menurut dia, keberhasilan membangun gedung yang kokoh harus diikuti dengan sistem pemeliharaan yang baik agar nilai investasi dan pengorbanan umat tidak hilang akibat kurangnya perhatian terhadap perawatan bangunan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan perhatian terhadap pemanfaatan gedung gereja lama.

Stefanus Bria Seran mengingatkan agar bangunan lama tidak dibongkar hanya karena umat telah memiliki gedung gereja baru.

Menurut dia, bangunan tersebut masih memiliki nilai guna yang dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai aktivitas umat dan masyarakat.

Ia mengusulkan agar gedung lama dimanfaatkan sebagai aula atau fasilitas serbaguna untuk kegiatan pembinaan generasi muda, pertemuan umat, serta berbagai aktivitas sosial lainnya.

Bupati Malaka menilai bahwa pembangunan fasilitas baru seharusnya menambah jumlah dan kualitas sarana pelayanan yang tersedia, bukan sekadar menggantikan bangunan lama yang sebenarnya masih dapat digunakan.

Karena itu, ia mengajak para pastor dan pengurus paroki untuk mengembangkan pola pemanfaatan aset secara efektif.

Menurut dia, kebiasaan membongkar bangunan lama setiap kali membangun fasilitas baru dapat mengurangi manfaat pembangunan karena tidak menghasilkan penambahan sarana yang dapat digunakan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa prinsip tersebut juga diterapkannya ketika memberikan perhatian terhadap pembangunan fasilitas gerejawi di wilayah Kabupaten Malaka.

Dalam sambutannya, Bupati Malaka turut menyinggung dukungan pemerintah daerah terhadap pembangunan sejumlah gedung gereja lainnya.

Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Malaka pernah memberikan bantuan sebesar Rp2,5 miliar untuk pembangunan gereja di pusat Dekenat Malaka.

Menurut dia, bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penyediaan fasilitas keagamaan bagi masyarakat.

Ia juga menyinggung pembangunan fasilitas gerejawi di Kamanasa yang memperoleh perhatian pemerintah daerah.

Meskipun pemerintah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, Stefanus Bria Seran menyatakan bahwa kebutuhan pembangunan sarana keagamaan tetap perlu dipertimbangkan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dan mekanisme penganggaran yang berlaku.

Ia menjelaskan bahwa dukungan pemerintah diberikan melalui proses administrasi dan penganggaran, termasuk mekanisme hibah yang membutuhkan persetujuan serta kelengkapan dokumen sesuai ketentuan.

Dalam kaitan tersebut, Bupati Malaka menegaskan bahwa pembangunan fasilitas keagamaan merupakan bagian dari upaya mendukung kebutuhan masyarakat.

Ia juga mengapresiasi peran para pastor yang dinilainya memiliki kontribusi penting dalam mendukung pembangunan dan kehidupan kemasyarakatan.

Menurut dia, para pastor tidak hanya menjalankan pelayanan keagamaan, tetapi juga memiliki pengaruh dalam pembinaan masyarakat, pengembangan pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial.

Karena itu, kerja sama antara pemerintah dan tokoh-tokoh agama dinilai penting untuk mendukung pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam bagian akhir sambutannya, Stefanus Bria Seran kembali menyampaikan penghargaan kepada Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, Pater Deken Malaka, Romo Bala, para imam, serta seluruh umat yang telah bekerja sama menyelesaikan pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun.

Ia menilai bahwa gedung gereja yang telah ditahbiskan merupakan hasil pekerjaan yang patut disyukuri dan dijaga bersama.

Menurut dia, keberhasilan tersebut tidak hanya memperlihatkan kemampuan umat dalam menghimpun dana dan menyelesaikan pekerjaan konstruksi, tetapi juga menunjukkan pentingnya kepemimpinan, transparansi, dan tanggung jawab kolektif.

Bupati Malaka juga mengapresiasi kelompok-kelompok paduan suara yang telah mendukung perayaan pentahbisan.

Dengan gaya penyampaian yang diselingi humor, ia memuji penampilan para penyanyi yang dinilainya telah memberikan kontribusi penting terhadap kemeriahan dan kekhidmatan perayaan.

Ia bahkan sempat berdialog dengan anggota paduan suara mengenai keberlanjutan kelompok tersebut setelah perayaan pentahbisan.

Suasana dialog yang berlangsung santai tersebut mendapat perhatian umat dan menjadi salah satu bagian yang menghidupkan suasana sambutan.

Pada akhirnya, sambutan Bupati Malaka dalam perayaan pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun memperlihatkan tiga penekanan utama, yakni pentingnya solidaritas umat dalam pembangunan, transparansi pengelolaan sumber daya, serta pengembangan kualitas manusia setelah pembangunan fasilitas fisik diselesaikan.

Melalui pengalamannya mendukung pembangunan gereja dan menyaksikan keterlibatan umat selama bertahun-tahun, Stefanus Bria Seran menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kemampuan pemimpin menggerakkan partisipasi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun menjadi contoh bagaimana kontribusi umat, pendampingan para imam, dukungan pemerintah, dan keterlibatan berbagai pihak dapat dipadukan untuk mencapai tujuan bersama.

Namun, menurut Bupati Malaka, keberhasilan tersebut harus dilanjutkan dengan tanggung jawab menjaga bangunan, mengembangkan pendidikan, membina generasi muda, dan mendukung pertumbuhan panggilan imamat serta hidup bakti.

Dengan demikian, gedung gereja yang telah ditahbiskan diharapkan tidak hanya menjadi simbol keberhasilan pembangunan, tetapi juga menjadi sarana yang terus mendukung pertumbuhan iman dan peningkatan kualitas kehidupan umat dari generasi ke generasi.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan rumah ibadat memperoleh makna yang lebih luas ketika keberadaannya diikuti dengan pembentukan manusia yang semakin berkualitas, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kehidupan Gereja maupun masyarakat.

oleh Yudel Neno

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Tujuh Tahun dan Solidaritas Umat

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Tahbiskan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Uskup Atambua Ajak Umat Membangun Kekudusan Hidup

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Umat Paroki Kotafoun Bersukacita Mendapatkan Gereja Baru

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Syukur 40 Tahun Romo Alo Kosat, Uskup Atambua Urai Ketahanan Imamat dalam Kesetiaan yang Total

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 19, 2026

Syukur 40 Tahun Imamat: Romo Alo Kosat Ungkap Peran Keluarga dan Pentingnya Hidup Disiplin serta Sikap Tegas

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 19, 2026

Ret-Ret Gelombang V Usai, Peserta Pulang Membawa Semangat Baru

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 16, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Pewarta Api Kasih

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 22, 2026

Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Tujuh Tahun dan Solidaritas Umat

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Hadiri Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Bupati Malaka Tekankan Pentingnya Solidaritas Umat dan Pembangunan SDM

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Tahbiskan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Uskup Atambua Ajak Umat Membangun Kekudusan Hidup

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Umat Paroki Kotafoun Bersukacita Mendapatkan Gereja Baru

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 21, 2026

Setia dalam Kepercayaan

October 21, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?