
Renungan Serial – KeuskupanAtambua.org – Berjaga dalam Kesetiaan – oleh Rm. Leo Nahas, Pr

Renungan
Tuhan Yesus sering menggambarkan hidup orang percaya seperti seorang hamba yang sedang menunggu tuannya pulang dari pesta. Belum diketahui kapan tuannya akan pulang; bisa tengah malam ataupun bisa dini hari. Oleh sebab itu sikap yang diminta adalah: berjaga-jagalah. Berjaga bukanlah berarti tidak tidur sama sekali; tetapi hidup dalam persiapan dan kesetiaan setiap hari.
Ada tiga sikap orang yang berjaga dalam kesetiaan. Pertama; Tetap berikat pinggang dan menyalakan pelita. Pada zaman Yesus, orang yang berikat pinggang berarti orang yang siap untuk bekerja dan bergerak. Pelita yang menyala berarti ada terang dan tidak hidup di dalam kegelapan. Berjaga dalam kesetiaan berarti: hidup dalam siap sedia: tidak santai dalam dosa dan tidak menunda untuk berbuat baik. Kesetiaan bukan hanya di hari Minggu tetapi Senin sampai Sabtu; saat tidak ada orang yang melihat.
Kedua; Hidup seperti orang yang menanti tuannya. Seorang hamba yang setia hidup dengan kesadaran : tuanku akan kembali. Banyak orang Kristiani hidup seolah-olah Tuhan masih lama datangnya sehingga hidup sembarangan. Orang yang berjaga hidup dalam pengharapan. Ia bekerja, melayani dan menjaga kekudusan karena ia tahu tuannya pasti akan kembali.
Ketiga; Ada berkat bagi yang didapati berjaga. Luar biasa! Tuan yang seharusnya dilayani, justru berbalik melayani hambanya yang setia. Kesetiaan kita yang kecil hari ini tidak akan sia-sia di mata Tuhan. Tuhan melihat air mata, doa dan jerih lelah kita. Tuhan tidak meminta kita menjadi hebat, Tuhan meminta kita menjadi setia.
Niat
Hari ini saya mau berusaha melayani tanpa pamrih kepada anggota keluarga dan komunitasku yang paling kecil!
Doa
Tuhan Yesus, Engkau mengajarkan bahwa kesetiaan yang kecil tidak akan sia-sia di mataMu. Bantulah aku untuk melakukan hal-hal kecil namun dengan cinta yang besar. Amin
Editor – Yosef Hello – Published by Yudel Neno

