Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Setia dalam Kepercayaan
  • Berjaga dalam Kesetiaan
  • Syukur 40 Tahun Romo Alo Kosat, Uskup Atambua Urai Ketahanan Imamat dalam Kesetiaan yang Total
  • Syukur 40 Tahun Imamat: Romo Alo Kosat Ungkap Peran Keluarga dan Pentingnya Hidup Disiplin serta Sikap Tegas
  • Harta Bukan Jaminan Hidup Kekal
  • Berikanlah kepada Allah dan Berikanlah kepada Kaisar
  • Tobat Harus Menyata dalam Perilaku
  • Ret-Ret Gelombang V Usai, Peserta Pulang Membawa Semangat Baru
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita Keuskupan Atambua»Syukur 40 Tahun Imamat: Romo Alo Kosat Ungkap Peran Keluarga dan Pentingnya Hidup Disiplin serta Sikap Tegas
Berita Keuskupan Atambua

Syukur 40 Tahun Imamat: Romo Alo Kosat Ungkap Peran Keluarga dan Pentingnya Hidup Disiplin serta Sikap Tegas

Sponsored By: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaPusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 19, 2026No Comments6 Mins Read
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

MANIKIN, — KeuskupanAtambua.org – Merayakan 40 tahun perjalanan imamatnya, Romo Aloysius Kosat, Pr, mengungkapkan bahwa kesetiaan dalam panggilan hidup sebagai imam tidak terlepas dari peran keluarga, dukungan masyarakat, serta nilai-nilai kedisiplinan dan kerja keras yang diwariskan orangtua sejak masa kecil. Kesaksian tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Misa Syukur Panca Windu Imamat yang berlangsung di Manikin–Maubam, Senin (19/10/2026).

Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, dan dihadiri banyak imam, diakon, suster, frater, serta ribuan umat. Hadir pula Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Malaka, Wakil Bupati Timor Tengah Utara, Kamillus Elu, serta perwakilan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Prisila Q. Parera, selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, Romo Alo mengenang peristiwa tahbisan imam pada 19 Oktober 1986. Ia menyebutkan bahwa pada hari bersejarah tersebut terdapat tujuh orang yang menerima tahbisan imamat. Menurut kesaksiannya, ketujuh imam tersebut masih hidup dan tetap setia menjalani panggilan imamat hingga memasuki usia pengabdian 40 tahun.

Bagi Romo Alo, perjalanan empat dasawarsa dalam imamat bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan pengalaman panjang tentang kesetiaan, pengorbanan, dan penyelenggaraan Tuhan yang bekerja melalui banyak orang.

Atas dasar kesadaran itulah, ia memilih merayakan syukur 40 tahun imamatnya di kampung halaman. Keputusan tersebut memiliki makna tersendiri karena kesatuan keluarga di kampung halamannya, diakuinya dengan sangat; telah mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan dan pertumbuhan panggilannya sejak masa muda.

Romo Alo mengisahkan bahwa ketika dirinya menjalani pendidikan di Seminari Menengah, partisipasi keluarga kampung halamannya dalam semangat persatuan menunjukkan kepedulian melalui semangat gotong royong. Mereka bekerja bersama, termasuk mengerjakan sawah, untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju imamat tidak hanya ditopang oleh perjuangan pribadi atau keluarga inti, tetapi juga oleh solidaritas masyarakat yang bersedia memberikan tenaga dan perhatian demi keberlangsungan pendidikan seorang calon imam.

Karena itu, perayaan syukur di kampung halaman sekaligus menjadi ungkapan terima kasih kepada masyarakat yang telah mengambil bagian dalam sejarah panggilannya. Kesetiaan imamat yang dirayakan hari ini, menurut kesaksiannya, memiliki akar dalam pengalaman kebersamaan dan pengorbanan banyak orang.

Selain mengenang dukungan masyarakat, Romo Alo memberikan perhatian khusus terhadap peran kedua orangtuanya dalam pembentukan kepribadian dan karakter hidupnya.

Ia mengungkapkan bahwa sang ayah mewariskan nilai kerja keras, semangat pantang menyerah, ketertiban, kedisiplinan, dan kejujuran. Dalam mendidik anak-anak, ayahnya dikenal memiliki pendekatan yang tegas, bahkan terkadang keras. Namun, di balik pendekatan tersebut terdapat tujuan pembentukan karakter yang jelas.

Menurut Romo Alo, ketegasan ayahnya diarahkan untuk mendidik anak-anak agar tidak rakus, tidak saling berebut, serta tidak mengambil atau merampas sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Nilai-nilai tersebut membentuk kesadaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan pengendalian diri, penghormatan terhadap hak sesama, serta tanggung jawab dalam setiap tindakan.

Sementara itu, dari sang ibu, Romo Alo mewarisi nilai kesederhanaan, kerendahan hati, dan semangat melayani. Ibunya menghadirkan teladan hidup yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi, tetapi menunjukkan kepedulian melalui kesediaan membantu dan melayani orang lain.

Dua corak pendidikan keluarga tersebut, yakni ketegasan dan kedisiplinan dari ayah serta kesederhanaan dan kerendahan hati dari ibu, menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kepribadian Romo Alo.

Kesaksian ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan karakter seseorang tidak berlangsung secara tiba-tiba. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga sejak masa kecil dapat menjadi landasan yang menentukan sikap dan tanggung jawab seseorang dalam menjalani panggilan hidupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Romo Alo juga menguraikan sejumlah motto yang menjadi pedoman dalam perjalanan imamatnya.

Motto tahbisannya berbunyi, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Motto tersebut mengungkapkan sikap penyerahan diri kepada kehendak Allah sebagai dasar dalam menjalani panggilan dan pelayanan.

Sikap tersebut menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi. Bagi seorang imam, kesetiaan terhadap panggilan menuntut kesediaan untuk terus-menerus menyesuaikan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, termasuk ketika berhadapan dengan pengalaman yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Selanjutnya, Romo Alo menyebut motto emas, “Biarlah Dia semakin besar dan saya semakin kecil.” Ungkapan tersebut menegaskan pentingnya kerendahan hati dalam kehidupan dan pelayanan seorang imam.

Melalui motto itu, perhatian diarahkan bukan kepada keunggulan atau kebesaran pribadi seorang pelayan, melainkan kepada kemuliaan Tuhan yang menjadi pusat seluruh karya pelayanan.

Adapun motto Panca Windu Imamatnya berbunyi, “Bukan dilayani, melainkan melayani.” Motto ini menjadi penegasan terhadap hakikat imamat sebagai panggilan untuk mengabdikan diri bagi Tuhan dan sesama.

Ketiga motto tersebut memiliki hubungan yang erat. Penyerahan diri kepada kehendak Allah menjadi dasar panggilan, kerendahan hati menjadi sikap yang menyertainya, sedangkan pelayanan menjadi wujud konkret dari penghayatan panggilan tersebut.

Bertolak dari nilai-nilai itu, Romo Alo turut membagikan pengalaman panjangnya dalam mendidik dan mendampingi generasi muda, terutama melalui kehidupan berasrama.

Ia mengakui bahwa dalam menjalankan tanggung jawab pendidikan, dirinya dikenal sebagai pribadi yang keras, tegas, bahkan tidak jarang dinilai kasar. Namun, di tengah penilaian tersebut, banyak anak justru tetap memiliki keinginan untuk masuk dan menjalani pendidikan di asrama yang dibinanya.

Pengalaman itu disebutnya sebagai kenyataan yang menarik sekaligus mengherankan.

“Aneh tapi nyata,” ungkap Romo Alo ketika mengenang pengalaman tersebut.

Ia kemudian memperkenalkan sejumlah orang yang pernah memperoleh pendidikan dan pendampingannya. Menurut kesaksiannya, dari lingkungan pembinaan tersebut lahir banyak pribadi yang kemudian menjalani berbagai bentuk pengabdian, baik sebagai imam, suster, maupun pejabat dalam kehidupan masyarakat.

Romo Alo melihat perjalanan hidup para mantan anak didiknya sebagai bagian dari pengalaman yang memperlihatkan pentingnya pendidikan karakter dan pembinaan yang dilakukan secara konsisten.

Kendati demikian, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pembentukan kepribadian tidak cukup hanya diukur dari ketegasan seorang pendidik, tetapi terutama dari nilai-nilai kehidupan yang berhasil ditanamkan dan kemudian diwujudkan oleh mereka yang dididik.

Bagi Romo Alo, kenyataan bahwa banyak anak didiknya kemudian bertumbuh menjadi pribadi yang mengambil tanggung jawab dalam Gereja dan masyarakat merupakan bagian dari sukacita yang patut disyukuri dalam perjalanan panjang pengabdiannya.

Lebih jauh, Romo Alo menjelaskan bahwa perayaan 40 tahun imamat di kampung halaman juga dimaksudkan sebagai kesempatan untuk mendorong tumbuhnya panggilan hidup membiara dan imamat di kalangan generasi muda.

Melalui perayaan tersebut, ia berharap orang-orang muda semakin terbuka untuk mengenal, mempertimbangkan, dan menanggapi panggilan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian, perayaan syukur imamat tidak berhenti sebagai kegiatan mengenang perjalanan masa lalu, tetapi juga menjadi sarana animasi panggilan yang mengarahkan perhatian kepada masa depan Gereja.

Romo Alo juga menempatkan perayaan tersebut sebagai momentum mempererat hubungan kekeluargaan. Menurutnya, kesempatan ini memungkinkan anggota keluarga besar yang selama ini berada di berbagai tempat untuk kembali bertemu, saling menyapa, dan memperkuat ikatan persaudaraan.

Ia mengapresiasi keterlibatan aktif anggota keluarga besar yang mengambil bagian dalam persiapan maupun pelaksanaan perayaan. Kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah peristiwa syukur dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempersatukan keluarga dan masyarakat.

Melalui seluruh kesaksiannya, Romo Alo memperlihatkan bahwa perjalanan 40 tahun imamat memiliki hubungan erat dengan sejarah kehidupan keluarga, pendidikan karakter, solidaritas masyarakat, dan pengalaman panjang dalam pelayanan.

Nilai kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, kerendahan hati, serta kesediaan melayani menjadi bagian dari warisan kehidupan yang terus dibawanya dalam menjalani panggilan imamat.

Perayaan Panca Windu Imamat di Manikin–Maubam itu pada akhirnya tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas kesetiaan seorang imam selama empat dasawarsa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya peran keluarga dalam pendidikan karakter, semangat gotong royong dalam mendukung panggilan, serta tanggung jawab untuk membentuk generasi muda yang berdisiplin, jujur, dan memiliki semangat pengabdian.

Kesaksian Romo Alo sekaligus menegaskan bahwa nilai sebuah perjalanan imamat tidak hanya terletak pada panjangnya waktu pengabdian, tetapi juga pada kehidupan orang-orang yang disentuh, dididik, dan didampingi sepanjang perjalanan pelayanan tersebut.

oleh Yudel Neno, Pr

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Syukur 40 Tahun Romo Alo Kosat, Uskup Atambua Urai Ketahanan Imamat dalam Kesetiaan yang Total

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 19, 2026

Ret-Ret Gelombang V Usai, Peserta Pulang Membawa Semangat Baru

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 16, 2026

Para Agen Pastoral Paroki St. Paulus Wedomu Mengikuti Sosialisasi Migrasi Aman dan Prosedural dari Komisi KP-PMP Keuskupan Atambua

October 12, 2026

Paroki Katedral Atambua Menggelar Prosesi Tri Harta Iman ke-38

October 12, 2026

TNI, POLRI MERAYAKAN SYUKUR HUT TNI KE 81, RD. YORIS SAMUEL GIRI TEGASKAN TANGGUNG JAWAB PRAJURIT.

October 11, 2026

RD Yoris Samuel Giri Memberi Pesan Kepada Para Pajurit TNI Katolik Untuk Manfaatkan Bulan Rosario untuk Menimba Semangat Baru Dalam Tugas dan Pengabdian

October 3, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Setia dalam Kepercayaan

October 21, 2026

Berjaga dalam Kesetiaan

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 20, 2026

Syukur 40 Tahun Romo Alo Kosat, Uskup Atambua Urai Ketahanan Imamat dalam Kesetiaan yang Total

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 19, 2026

Syukur 40 Tahun Imamat: Romo Alo Kosat Ungkap Peran Keluarga dan Pentingnya Hidup Disiplin serta Sikap Tegas

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 19, 2026

Harta Bukan Jaminan Hidup Kekal

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 19, 2026

Berikanlah kepada Allah dan Berikanlah kepada Kaisar

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 18, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?