
MAUBAM – KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua menegaskan bahwa ketahanan dalam menjalani panggilan imamat tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang mengemban tugas pelayanan, tetapi terutama oleh kesetiaan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus melayani di tengah berbagai tantangan kehidupan. Penegasan tersebut disampaikan Uskup dalam perayaan Ekaristi syukur 40 tahun imamat Romo Alo Kosat, Pr, yang berlangsung di Maubam, Senin (19/10/2026). Melalui pengantar Ekaristi dan sambutannya, Uskup mengangkat kesaksian hidup Romo Alo sebagai contoh ketekunan seorang imam yang menjalani panggilan dengan penuh kesetiaan, sekaligus mengajak para imam dan umat untuk memaknai imamat sebagai panggilan pelayanan, bukan kekuasaan.

Mengawali perayaan Ekaristi, Uskup Atambua mengajak seluruh umat yang hadir untuk menempatkan perayaan 40 tahun imamat Romo Alo dalam kesadaran iman yang mendalam. Menurut Uskup, empat dasawarsa perjalanan imamat merupakan rentang waktu yang memiliki makna penting, terutama apabila dipahami dalam terang sejarah keselamatan.

Uskup menghubungkan angka 40 dengan perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun menuju Tanah Terjanji. Dalam tradisi iman, perjalanan tersebut tidak sekadar menggambarkan lamanya waktu yang dilewati, tetapi juga pengalaman pergumulan, pembentukan, pemurnian, dan kesetiaan di tengah berbagai tantangan.

Pemaknaan tersebut, menurut Uskup, menjadi relevan untuk memahami perjalanan imamat Romo Alo Kosat yang telah mencapai usia 40 tahun. Selama rentang waktu tersebut, seorang imam tentu mengalami berbagai dinamika kehidupan, mulai dari kegembiraan dan keberhasilan pelayanan hingga kesulitan, penderitaan, serta tantangan yang menuntut keteguhan dalam menjalani panggilan.

Karena itu, perayaan 40 tahun imamat tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai peringatan atas pencapaian usia tahbisan. Lebih jauh, perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan kesetiaan yang terus dipertahankan di tengah perubahan situasi dan tuntutan pelayanan Gereja.

Dalam konteks ini, Uskup menempatkan kesetiaan Romo Alo sebagai kesaksian penting tentang ketahanan dalam kehidupan imamat. Kesetiaan tersebut tidak terlepas dari kesediaan untuk terus menjalankan tugas perutusan, meskipun perjalanan pelayanan tidak selalu berlangsung dalam keadaan yang mudah.

Salah satu penekanan mendasar yang disampaikan Uskup ialah bahwa seorang imam dipanggil bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Imamat, menurut Uskup, tidak boleh dipahami sebagai kedudukan yang memberikan kekuasaan atas orang lain, tetapi sebagai panggilan untuk menghadirkan kasih dan pengabdian kepada sesama.

Uskup menilai bahwa semangat tersebut telah diperlihatkan Romo Alo melalui perjalanan hidup dan pelayanannya. Kesaksian Romo Alo sekaligus menjadi ajakan bagi para imam untuk terus membangun kesadaran bahwa panggilan imamat menuntut sikap sebagai pelayan, bukan penguasa.

Untuk mempertegas pesan tersebut, Uskup mengingatkan kembali peristiwa Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan tersebut menjadi gambaran tentang kepemimpinan yang bertumpu pada kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani.

Melalui teladan Yesus itu, Uskup mengajak para imam untuk menempatkan pelayanan sebagai dasar dalam menjalankan tanggung jawab pastoral. Dengan demikian, kewibawaan seorang imam tidak terutama dibangun melalui kedudukan atau kekuasaan, melainkan melalui keteladanan hidup dan kesetiaan dalam menjalankan tugas perutusan.
Dalam sambutannya, Uskup Atambua kemudian mengungkapkan penilaian yang lebih personal terhadap karakter dan perjalanan imamat Romo Alo Kosat. Ia menggambarkan Romo Alo sebagai pribadi yang memiliki kekhasan dalam berbicara dan bertindak, tetapi tetap memperlihatkan kualitas kemanusiaan yang kuat.
“Romo Alo ini, suaranya keras, tetapi hatinya selembut salju,” ungkap Uskup Atambua.
Gambaran tersebut memperlihatkan adanya perpaduan antara ketegasan dan kelembutan dalam kepribadian Romo Alo. Menurut Uskup, di balik cara berbicara yang keras terdapat hati yang baik dan sikap yang mencerminkan karakter seorang imam Tuhan.
Uskup juga mengenang Romo Alo sebagai seorang imam yang memiliki keunikan dalam melaksanakan tugas. Keunikan tersebut terutama tampak dalam konsistensi dan kesetiaannya untuk menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Apa pun tugas yang diemban, Romo Alo dinilai selalu berusaha melaksanakannya dengan setia. Sikap tersebut menjadi salah satu kualitas penting yang membuat perjalanan imamatnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi para imam lainnya.
Selain dikenal sebagai pribadi yang tegas dan setia dalam menjalankan tugas, Romo Alo juga dinilai memiliki karakter yang humanis. Dalam pandangan Uskup, dimensi kemanusiaan tersebut merupakan bagian penting dari kesaksian seorang imam yang tidak hanya menjalankan tugas secara formal, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Atas dasar itulah, Uskup menegaskan bahwa kesetiaan Romo Alo selama 40 tahun merupakan rahmat bagi Gereja. Perjalanan panjang tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi atau keluarga, tetapi juga memiliki makna bagi kehidupan Gereja yang terus membutuhkan keteladanan para imam dalam menjalankan panggilan.
Uskup selanjutnya menyampaikan rasa syukur atas peran keluarga dalam membentuk kepribadian dan panggilan Romo Alo. Menurut Uskup, kehidupan keluarga yang sederhana sesungguhnya menyimpan kekayaan nilai dan kebijaksanaan yang sangat besar.
Kesaksian Romo Alo mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari pengetahuan formal atau pengalaman yang luar biasa. Nilai-nilai kehidupan justru dapat bertumbuh melalui pengalaman sederhana dalam keluarga, terutama melalui kerja keras, kedisiplinan, ketekunan, kerendahan hati, serta kesediaan menerima dan menjalankan tanggung jawab tanpa banyak mengeluh.
Dalam konteks tersebut, Uskup menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Romo Alo yang telah mengambil bagian dalam perjalanan panggilannya. Dukungan keluarga dipandang sebagai salah satu unsur penting yang turut menopang kesetiaan seorang imam dalam menjalani tugas perutusan.
Apresiasi juga disampaikan Uskup kepada seluruh pihak yang telah mendukung para imam dalam melaksanakan pelayanan Gereja. Secara khusus, Uskup menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas perhatian dan dukungan yang diberikan, termasuk melalui penyediaan berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan dan pelayanan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Uskup turut menyinggung kondisi wilayah setempat yang dinilai masih membutuhkan perhatian dan sentuhan khusus dari berbagai pihak. Menurut Uskup, kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut memerlukan keterlibatan bersama, baik dari Gereja, masyarakat maupun pemerintah.
Perhatian terhadap wilayah dan masyarakat, dengan demikian, tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja, tetapi membutuhkan tanggung jawab dan kerja sama yang berkelanjutan.
Uskup juga menyampaikan penghargaan kepada Pastor Paroki Maubam, Romo Agus Kau Lake, bersama pastor pembantu, Romo Derry Saba, Pr, atas persiapan yang telah dilakukan sehingga perayaan syukur 40 tahun imamat Romo Alo dapat berlangsung dengan baik.
Menurut Uskup, keterlibatan para pastor, keluarga, umat, dan berbagai pihak dalam mempersiapkan perayaan tersebut merupakan wujud kebersamaan sekaligus ungkapan penghargaan atas perjalanan panjang pelayanan Romo Alo.
Mengakhiri sambutannya, Uskup Atambua menyampaikan harapan agar Romo Alo terus mengalami kegembiraan dalam kehidupan imamat dan persaudaraan. Uskup juga berharap agar kesetiaan yang telah dihidupi selama empat dasawarsa tetap menjadi kekuatan untuk melanjutkan pelayanan pada masa-masa mendatang.
Secara khusus, Uskup mendoakan agar Romo Alo senantiasa dianugerahi kesehatan, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Uskup juga berharap Romo Alo tetap mempertahankan keberanian untuk bersuara sebagai bagian dari tanggung jawab moral seorang imam, agar nilai-nilai penting dalam kehidupan bersama tetap terjaga.
Harapan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ketegasan yang menjadi salah satu ciri kepribadian Romo Alo tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, tetapi perlu terus dihidupi bersama kebijaksanaan, kelembutan hati, dan semangat pelayanan.
Melalui perayaan syukur 40 tahun imamat tersebut, Uskup Atambua mengajak seluruh umat dan para imam untuk melihat perjalanan Romo Alo sebagai kesaksian tentang panggilan yang terus diperjuangkan dalam kesetiaan.
Dengan demikian, empat dasawarsa imamat Romo Alo tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang berbagai pengalaman masa lalu, tetapi juga momentum untuk memperbarui kesadaran bahwa ketahanan imamat menemukan maknanya ketika seorang imam tetap setia, rendah hati, dan bersedia melayani dalam setiap keadaan.
Di tengah berbagai perubahan dan tantangan pelayanan Gereja, kesaksian Romo Alo menjadi pengingat bahwa kesetiaan imamat bukan sekadar kemampuan bertahan selama bertahun-tahun, melainkan kesediaan untuk terus menghidupi panggilan sebagai pelayan Tuhan dan sesama secara total.
oleh Yudel Neno

