
Kotafoun, KeuskupanAtambua.org— Ketua Panitia Pembangunan dan Pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun, Manuel, mengungkapkan bahwa penyelesaian pembangunan gedung gereja yang ditahbiskan Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, pada Selasa (20/10/2026), merupakan hasil perjuangan panjang selama kurang lebih tujuh tahun melalui sistem swakelola, partisipasi finansial umat, dukungan pemerintah daerah, serta kontribusi berbagai pihak. Pembangunan yang dimulai pada 19 Oktober 2019 tersebut menjadi salah satu wujud nyata solidaritas umat Katolik Paroki Santa Sesilia Kotafoun dalam menghadirkan sarana peribadatan yang representatif untuk mendukung pertumbuhan iman dan pelayanan pastoral.

Hal tersebut disampaikan Manuel ketika membacakan laporan pertanggungjawaban panitia dalam rangkaian perayaan pentahbisan gedung gereja yang berlangsung di Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Perayaan tersebut dihadiri ribuan umat Katolik, para imam, diakon, frater, suster, serta sejumlah pejabat pemerintah. Hadir pula Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, bersama jajaran pemerintah daerah, perwakilan Gubernur Nusa Tenggara Timur, anggota DPRD Provinsi NTT Agustinus Nahak, serta para tamu undangan dari Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

Dalam laporannya, Manuel menjelaskan bahwa pembangunan gedung gereja dilatarbelakangi oleh pertumbuhan jumlah umat Katolik di Paroki Santa Sesilia Kotafoun yang terus mengalami perkembangan. Kondisi tersebut menuntut tersedianya fasilitas peribadatan yang lebih memadai, aman, dan nyaman untuk mendukung penyelenggaraan liturgi, pelayanan sakramen, serta berbagai kegiatan pembinaan iman umat.

Menurut dia, kebutuhan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pembentukan panitia pembangunan pada 2017 berdasarkan keputusan pastor paroki. Panitia diberi tanggung jawab untuk menyusun perencanaan, menggalang dana, melaksanakan pekerjaan konstruksi, hingga menyediakan berbagai perlengkapan yang diperlukan dalam gedung gereja.

Sementara itu, untuk mempersiapkan penyelenggaraan pentahbisan, pada 2025 dibentuk kepanitiaan yang secara khusus bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian persiapan perayaan.

Manuel menjelaskan bahwa pembangunan fisik gereja secara resmi dimulai pada 19 Oktober 2019, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua.

Sejak saat itu, pembangunan berlangsung secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan panitia dan ketersediaan sumber daya. Seluruh pekerjaan dilaksanakan melalui sistem swakelola yang melibatkan umat bersama para pekerja bangunan serta pihak-pihak yang memberikan dukungan teknis.

Menurut Manuel, pilihan menggunakan sistem swakelola memperlihatkan keterlibatan langsung umat dalam seluruh proses pembangunan. Umat tidak hanya menjadi penerima manfaat dari gedung gereja yang dibangun, tetapi juga mengambil bagian dalam menyediakan sumber daya dan mendukung pelaksanaan pekerjaan.

Dalam proses tersebut, panitia juga memperoleh pendampingan teknis dari seorang konsultan bernama Fred yang membantu pelaksanaan pembangunan.

Salah satu aspek penting yang disampaikan Manuel berkaitan dengan sistem penggalangan dana yang melibatkan seluruh keluarga Katolik di wilayah paroki.

Panitia menerapkan mekanisme sumbangan wajib pembangunan gereja dengan mempertimbangkan kategori keluarga umat. Keluarga petani memberikan kontribusi sebesar Rp.200.000 per tahun, sedangkan keluarga pegawai negeri sipil memberikan kontribusi sebesar Rp.500.000 per tahun.

Selain sumbangan wajib tersebut, panitia mengembangkan gerakan solidaritas bulanan melalui kontribusi Rp.2.000 per jiwa bagi keluarga petani dan Rp.5.000 per jiwa bagi keluarga pegawai negeri sipil.

Gerakan tersebut berlangsung selama kurang lebih enam tahun dan menjadi salah satu sumber pendanaan yang menopang kesinambungan pembangunan.

Menurut Manuel, pola penggalangan dana tersebut memperlihatkan bagaimana pembangunan gereja dilaksanakan melalui keterlibatan kolektif umat berdasarkan kemampuan masing-masing.

Kontribusi yang dihimpun secara berkala memungkinkan panitia melanjutkan pekerjaan pembangunan meskipun ketersediaan dana tidak selalu mencukupi seluruh kebutuhan konstruksi.

Dalam laporan keuangannya, Manuel memaparkan sejumlah sumber penerimaan yang diperoleh panitia selama proses pembangunan.

Sumbangan wajib umat yang dihimpun melalui enam tahap mencapai Rp.1.665.120.000. Sementara itu, gerakan solidaritas bulanan Rp.2.000 dan Rp.5.000 menghasilkan Rp.94.600.000.

Dana pembangunan juga diperoleh melalui derma khusus dalam perayaan Ekaristi sebesar Rp.220.734.000.

Selain itu, kegiatan spontanitas umat, termasuk lelang tiang gereja, kursi, dan kaca patri, berhasil menghimpun dana sebesar Rp.483.976.000.

Kontribusi para donatur tercatat sebesar Rp.264.846.500, sedangkan Pemerintah Kabupaten Malaka memberikan dukungan dana hibah sebesar Rp.500 juta.

Berdasarkan rincian sumber penerimaan yang disampaikan, dana yang berhasil dihimpun dari pos-pos tersebut mencapai Rp.3.229.276.500. Adapun laporan panitia menyebutkan pengeluaran pembangunan per 11 Oktober 2026 sebesar Rp.3.994.508.000.

Perbedaan antara rincian penerimaan dan jumlah pengeluaran tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut berdasarkan dokumen pertanggungjawaban keuangan panitia secara lengkap.

Meskipun demikian, Manuel menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat hanya diukur berdasarkan jumlah dana yang terkumpul. Menurut dia, terdapat banyak kontribusi dalam bentuk tenaga, bahan bangunan, perlengkapan liturgi, serta dukungan teknis yang menjadi bagian penting dari keseluruhan proses pembangunan.
Salah satu bentuk dukungan yang memperoleh perhatian khusus dalam laporan tersebut berasal dari Andreas Sofyandi.

Manuel menjelaskan bahwa Andreas memberikan bantuan berupa berbagai perlengkapan dan fasilitas gereja, antara lain meja altar, mimbar, mimbar bacaan, granit, patung, lampu, sistem tata suara, tabernakel, serta perlengkapan lainnya.
Nilai keseluruhan bantuan tersebut diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.
Menurut Manuel, apabila nilai bantuan barang tersebut diperhitungkan bersama pengeluaran pembangunan, keseluruhan nilai pembangunan dan perlengkapan Gereja Santa Sesilia Kotafoun diperkirakan melampaui Rp.5 miliar.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Andreas Sofyandi atas kontribusi yang memungkinkan penyelesaian berbagai kebutuhan penting gedung gereja.
Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Romo Florens Maxi Un Bria, Pr, yang membantu membangun komunikasi antara panitia dan Andreas Sofyandi.
Manuel mengakui bahwa dukungan tersebut memiliki arti penting karena panitia memiliki keterbatasan dalam menjangkau jaringan donatur di luar wilayah paroki.
Melalui komunikasi dan pendampingan yang dilakukan, panitia akhirnya memperoleh bantuan yang sangat berarti bagi penyelesaian pembangunan dan penyediaan perlengkapan gereja.
Selain bantuan para donatur, Manuel menyoroti kontribusi Pemerintah Kabupaten Malaka yang memberikan dana hibah sebesar Rp.500 juta pada 2018, ketika pemerintahan daerah dipimpin oleh Stefanus Bria Seran dan wakilnya.
Menurut Manuel, dukungan pemerintah daerah tersebut memiliki peran menentukan dalam memulai pembangunan fisik gereja.
Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal, Uskup Atambua menghendaki agar panitia terlebih dahulu memiliki kesiapan dana sebelum memulai pekerjaan konstruksi.
Persyaratan tersebut dimaksudkan agar pembangunan dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang realistis dan tidak menimbulkan persoalan berkepanjangan akibat keterbatasan pembiayaan.
Dalam situasi tersebut, dana hibah pemerintah daerah yang dipadukan dengan sumbangan umat memungkinkan panitia memperoleh modal awal yang cukup untuk mengajukan rencana pembangunan kepada Uskup Atambua.
Manuel mengakui bahwa tanpa dukungan tersebut, panitia kemungkinan belum memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk memulai pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Karena itu, ia menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Malaka atas dukungan yang diberikan pada masa awal pembangunan.
Di samping bantuan pemerintah daerah, panitia juga memperoleh dukungan dari lembaga keuangan koperasi.
Manuel secara khusus menyampaikan terima kasih kepada pengurus CU Sejahtera Atambua yang telah membantu panitia melalui fasilitas pinjaman ketika pembangunan mengalami keterbatasan dana.
Menurut dia, dukungan tersebut memungkinkan pekerjaan tetap berlangsung pada saat penerimaan dana dari umat dan sumber-sumber lainnya belum mencukupi kebutuhan pembangunan.
Pinjaman tersebut kemudian dikembalikan secara bertahap ketika panitia memperoleh tambahan dana.
Selain memberikan dukungan pembiayaan, CU Sejahtera Atambua juga mengambil bagian dalam kegiatan penggalangan dana melalui lelang kaca patri.
Keterlibatan serupa juga diberikan oleh Kopdit Pintu Air bersama sejumlah pihak lainnya.
Manuel menilai bahwa kontribusi lembaga-lembaga tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama antara komunitas Gereja dan berbagai lembaga sosial ekonomi dalam mendukung pembangunan fasilitas pelayanan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Manuel juga menyampaikan penghargaan kepada Pastor Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Romo Baltasar Seran, Pr, yang dikenal dengan sapaan Romo Bala.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan dan pendampingan pastor paroki yang secara konsisten memberikan dukungan kepada panitia.
Romo Bala dinilai memiliki peran penting dalam membangun komunikasi, memberikan motivasi, serta menjaga semangat umat selama proses pembangunan berlangsung.
Manuel juga mengenang keterlibatan Romo Emanuel Nautu, Pr, yang turut mendampingi panitia pada tahap perencanaan dan awal pembangunan.
Ia menyampaikan bahwa Romo Emanuel mengambil bagian dalam merintis pekerjaan pembangunan sebelum pelayanan tersebut dilanjutkan bersama Romo Victorius Frenki, Pr, sebagai pastor pembantu.
Menurut Manuel, kesinambungan pendampingan para imam menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan panitia mempertahankan komitmen hingga seluruh pekerjaan dapat diselesaikan.
Ia menegaskan bahwa dukungan para pastor tidak hanya diberikan dalam bentuk pendampingan rohani, tetapi juga melalui komunikasi, koordinasi, serta upaya memperoleh dukungan moral dan material dari berbagai pihak.
Manuel juga menyampaikan penghargaan kepada Dewan Pastoral Paroki, Dewan Keuangan Paroki, para pengurus stasi, lingkungan, dan komunitas umat basis yang secara aktif mendukung proses pembangunan.
Ucapan terima kasih turut diberikan kepada para camat, kepala desa, mantan pejabat pemerintahan setempat, kepala sekolah, guru, kepala puskesmas, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta seluruh pekerja bangunan yang mengambil bagian dalam pelaksanaan pekerjaan.
Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan gereja merupakan hasil kerja sama yang melampaui batas-batas kepengurusan formal panitia.
Setiap orang memberikan kontribusi berdasarkan kemampuan dan tanggung jawab masing-masing, baik melalui dukungan finansial, tenaga, pemikiran, maupun berbagai bentuk bantuan lainnya.
Manuel secara khusus mengapresiasi seluruh umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun yang telah menunjukkan kesetiaan dalam mendukung pembangunan selama bertahun-tahun.
Ia menilai bahwa keberhasilan menyelesaikan gedung gereja merupakan buah dari pengorbanan bersama yang dilakukan secara terus-menerus.
Dalam laporan tersebut, Manuel juga memberikan penghargaan kepada para pemenang lelang yang telah membantu penggalangan dana melalui pembiayaan sejumlah bagian bangunan dan perlengkapan gereja.
Kegiatan lelang, termasuk kaca patri, menjadi salah satu bentuk kreativitas panitia dalam membuka ruang partisipasi umat dan para donatur.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah kaca patri yang terpasang di gedung gereja diperoleh melalui kegiatan lelang dengan nilai kontribusi tertentu.
Selain membantu pembiayaan, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun rasa memiliki terhadap gereja yang sedang dibangun.
Manuel turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia pembangunan dan pentahbisan yang telah bekerja sejak tahap perencanaan hingga penyelenggaraan perayaan.
Secara khusus, ia menyebut sejumlah anggota panitia dan umat yang memberikan kontribusi besar, termasuk Yohanes Neka, Yosefina Asa, Anastasia Lotu, serta para pekerja dan tenaga pendukung lainnya.
Ia juga mengenang keterlibatan para frater yang pernah menjalankan tugas pastoral di paroki tersebut dan ikut memberikan tenaga dalam proses pembangunan.
Menurut Manuel, keberhasilan pembangunan merupakan hasil dari banyak pekerjaan yang mungkin tidak seluruhnya terlihat dalam perayaan pentahbisan, tetapi memiliki kontribusi nyata terhadap penyelesaian gedung gereja.
Apresiasi juga disampaikan kepada para imam yang pernah bertugas di Paroki Santa Sesilia Kotafoun, termasuk Romo Leonardus Nahas, Pr, yang hadir dalam perayaan tersebut.
Manuel menilai bahwa perjalanan pembangunan dan perkembangan kehidupan paroki tidak dapat dipisahkan dari kesinambungan pelayanan para imam yang telah mendampingi umat dari waktu ke waktu.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada anggota DPRD Provinsi NTT, Agustinus Nahak, yang dinilai menunjukkan perhatian terhadap perkembangan kehidupan umat di Paroki Santa Sesilia Kotafoun.
Menurut Manuel, perhatian dan kehadiran berbagai tokoh masyarakat serta pejabat pemerintah menjadi dukungan moral yang penting bagi umat dalam menyelesaikan pembangunan.
Selain menyoroti pembangunan fisik, Manuel memberikan perhatian terhadap persiapan liturgi pentahbisan yang melibatkan sejumlah kelompok paduan suara.
Ia menjelaskan bahwa persiapan nyanyian telah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya, bahkan sebagian kelompok telah mulai berlatih ketika muncul rencana pentahbisan pada tahun sebelumnya.
Meskipun jadwal pentahbisan kemudian mengalami penyesuaian, kelompok-kelompok paduan suara tetap melanjutkan persiapan untuk mendukung perayaan yang akhirnya terlaksana pada 20 Oktober 2026.
Manuel secara khusus menyampaikan terima kasih kepada umat Stasi Asmanulia dan kelompok paduan suara dari Lingkungan Bubun yang telah mengambil bagian dalam mempersiapkan nyanyian liturgi.
Menurut dia, keterlibatan kelompok-kelompok tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan perayaan pentahbisan tidak hanya bergantung pada kesiapan bangunan, tetapi juga pada partisipasi aktif umat dalam mempersiapkan seluruh rangkaian ibadat.
Dalam bagian akhir laporannya, Manuel menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan yang mungkin terjadi selama proses pembangunan maupun persiapan perayaan pentahbisan.
Ia mengakui bahwa pekerjaan yang berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan banyak pihak tidak terlepas dari kemungkinan munculnya kesalahpahaman, keterbatasan komunikasi, serta sikap dan tutur kata yang kurang berkenan.
Karena itu, atas nama seluruh panitia, ia menyampaikan permohonan maaf kepada para imam, pejabat pemerintah, donatur, serta seluruh umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun.
Permohonan maaf tersebut sekaligus menjadi ungkapan kerendahan hati panitia setelah menyelesaikan tanggung jawab besar yang dipercayakan oleh paroki.
Manuel berharap agar seluruh perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan selama proses pembangunan memperoleh maknanya melalui pertumbuhan kehidupan iman umat.
Menurut dia, gedung gereja yang telah ditahbiskan harus menjadi rumah doa yang hidup, tempat umat semakin diteguhkan dalam iman, dipersatukan dalam kasih, dan dibimbing untuk memuliakan Tuhan.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa penyelesaian pembangunan fisik bukan merupakan tujuan akhir dari seluruh perjuangan umat.
Gedung gereja yang telah berdiri diharapkan menjadi pusat pelayanan rohani yang terus menghidupkan semangat kebersamaan dan memperkuat keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.
Dengan demikian, pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun menjadi momentum syukur atas keberhasilan pembangunan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun sekaligus pengakuan terhadap kontribusi kolektif umat, pemerintah, para imam, lembaga koperasi, donatur, dan berbagai pihak lainnya.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya dapat dihadapi melalui perencanaan yang berkelanjutan, penggalangan dana yang melibatkan seluruh umat, serta kesediaan berbagai pihak untuk bekerja sama.
Lebih jauh, perjalanan pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun memberikan gambaran mengenai bagaimana solidaritas umat dapat diwujudkan melalui tanggung jawab bersama yang dijalankan secara konsisten.
Bagi umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun, gedung gereja yang kini telah ditahbiskan bukan hanya hasil pekerjaan konstruksi, melainkan juga buah dari kesetiaan, pengorbanan, dan semangat persaudaraan yang dipelihara selama bertahun-tahun.
Melalui seluruh proses tersebut, pembangunan gereja memperoleh makna yang lebih luas sebagai pengalaman bersama dalam membangun persekutuan umat beriman.
Karena itu, sebagaimana harapan yang disampaikan Manuel pada akhir laporannya, gereja yang telah ditahbiskan diharapkan semakin meneguhkan iman umat dan menjadi rumah doa yang hidup bagi kemuliaan Tuhan.
oleh Yudel Neno

