
Kotafoun, KeuskupanAtambua.org— Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, memimpin perayaan Ekaristi pentahbisan Gedung Gereja Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Selasa (20/10/2026). Perayaan yang dihadiri ribuan umat Katolik, para imam, biarawan-biarawati, serta sejumlah pejabat pemerintah tersebut menjadi momentum penting bagi umat setempat setelah melalui proses panjang pembangunan rumah ibadat.

Dalam homilinya, Uskup Atambua menegaskan bahwa pentahbisan gereja tidak semata-mata menandai selesainya pembangunan fisik, tetapi terutama merupakan panggilan bagi umat untuk membangun kekudusan hidup, memperkuat persekutuan, dan menjadikan gereja sebagai pusat pertumbuhan iman Kristiani.

Perayaan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh sukacita. Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT, Priscila Parera, serta sejumlah pejabat yang mewakili pemerintah daerah, termasuk Kabupaten Timor Tengah Utara. Kehadiran unsur pemerintah bersama para imam dan ribuan umat memperlihatkan bahwa pentahbisan gereja tersebut bukan hanya menjadi peristiwa penting bagi kehidupan internal Gereja Katolik, melainkan juga bagian dari dinamika sosial dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Dalam pengantar perayaan Ekaristi, Mgr. Dominikus Saku mengungkapkan kegembiraannya atas keberhasilan umat Paroki Santa Sesilia Kotafoun menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang selama ini diperjuangkan bersama. Menurut dia, kehadiran rumah ibadat tersebut merupakan sarana penting untuk menopang kehidupan rohani sekaligus mempererat persatuan umat dalam kehidupan menggereja.

Dengan penuh kegembiraan, Uskup Atambua mengajak seluruh umat menyadari bahwa gereja yang ditahbiskan bukan sekadar bangunan untuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan, melainkan tempat umat memperoleh kekuatan spiritual melalui Sabda Allah dan pelayanan sakramen-sakramen Gereja.

Ia menegaskan bahwa melalui perayaan Ekaristi dan berbagai pelayanan sakramental, umat diharapkan memperoleh inspirasi serta keberanian untuk menghayati dan mengamalkan iman Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, keberadaan gereja mesti menjadi sumber kekuatan yang menghubungkan kehidupan liturgis dengan tanggung jawab konkret umat dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial.

Uskup juga mengajak umat menjaga martabat dan kesucian rumah Allah melalui penyelenggaraan ibadat yang sungguh-sungguh mencerminkan penghormatan kepada Tuhan. Menurut dia, tujuan luhur pembangunan gereja hanya akan memperoleh maknanya apabila umat secara konsisten menjadikan tempat tersebut sebagai ruang perjumpaan dengan Allah dan sumber pembaruan kehidupan.

Dalam homilinya, Mgr. Dominikus Saku secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Pastor Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Romo Bala, yang telah mendampingi umat dalam proses pembangunan gereja.

Uskup mengenang pertemuan awal bersama Romo Bala dan sejumlah utusan paroki yang datang menyampaikan rencana pembangunan gedung gereja. Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan tantangan agar pembangunan dilaksanakan dengan perencanaan yang matang dan diselesaikan dalam rentang waktu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Uskup, tantangan tersebut ternyata dijawab melalui kerja keras dan ketekunan pastor bersama seluruh umat. Pembangunan gereja akhirnya dapat diselesaikan sebelum melewati masa 20 tahun.

Mgr. Dominikus Saku bahkan menghubungkan keberhasilan tersebut dengan pengalamannya mentahbiskan sebuah kapela di Bitefa pada 21 September 2026. Ia menyebutkan bahwa pembangunan kapela tersebut berlangsung selama kurang lebih 26 tahun. Sementara itu, pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat.

Perbandingan tersebut disampaikan bukan untuk mempertentangkan keberhasilan pembangunan antarkomunitas, melainkan untuk menunjukkan bahwa ketekunan, kesabaran, dan kesediaan bekerja sama merupakan kekuatan penting dalam menyelesaikan pekerjaan besar yang membutuhkan pengorbanan bersama.

Bagi Uskup Atambua, keberhasilan pembangunan gereja merupakan buah dari kesatuan kehendak antara pastor dan umat. Pembangunan yang berlangsung selama bertahun-tahun memperlihatkan bahwa kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab bersama dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan Gereja.

Ia juga menyinggung keberadaan Santa Sesilia sebagai pelindung paroki. Sosok Santa Sesilia yang dikenal dalam tradisi Gereja sebagai pelindung musik gerejawi menjadi inspirasi bagi umat untuk terus mengembangkan kehidupan liturgi yang diwarnai pujian dan syukur kepada Allah.
Dalam suasana homili yang sesekali diselingi ungkapan humor, Uskup mengapresiasi kemampuan umat Kotafoun dalam menyanyikan lagu-lagu liturgi. Ia mengajak umat menjadikan nyanyian bukan semata-mata unsur yang memperindah perayaan, melainkan ungkapan iman yang memuliakan Tuhan.
Memasuki inti homilinya, Mgr. Dominikus Saku mengembangkan refleksi teologis mengenai makna rumah ibadat dalam sejarah kehidupan manusia beriman.
Ia menjelaskan bahwa sejak masa Perjanjian Lama, manusia telah mengenal berbagai bentuk penandaan tempat suci sebagai ungkapan penghormatan kepada Allah. Tradisi tersebut kemudian berkembang dalam sejarah berbagai agama melalui pembangunan rumah-rumah ibadat sebagai tempat manusia mengungkapkan iman dan pengabdiannya kepada Tuhan.
Dalam konteks kehidupan Kristiani, Uskup menegaskan bahwa makna terdalam pembangunan gereja terletak pada pengakuan akan Yesus Kristus sebagai dasar utama kehidupan umat beriman.
Ia menghubungkan makna tersebut dengan keberadaan batu alam yang ditempatkan pada bagian bawah altar sebagai simbol kekokohan fondasi iman.
Menurut Uskup, batu tersebut mengingatkan umat bahwa seluruh kehidupan Gereja harus dibangun di atas Kristus. Sebagaimana sebuah bangunan membutuhkan fondasi yang kuat untuk bertahan menghadapi berbagai tantangan, kehidupan iman juga membutuhkan dasar spiritual yang kokoh agar tidak mudah terguncang oleh perubahan dan kesulitan hidup.
Karena itu, pentahbisan gereja tidak dapat dipisahkan dari panggilan untuk memperbarui kesetiaan umat kepada Kristus sebagai sumber dan tujuan kehidupan mereka.
Uskup menekankan bahwa Allah yang Mahakuasa, Mahamulia, dan Mahakudus layak menerima penghormatan tertinggi dari manusia. Dalam iman Katolik, penghormatan tersebut memperoleh ungkapannya yang paling luhur melalui perayaan Ekaristi sebagai perayaan kurban Kristus.
Ia kemudian menghubungkan makna altar dengan misteri wafat Kristus di salib. Darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus menjadi lambang kehidupan baru serta rahmat keselamatan yang terus menghidupi Gereja melalui sakramen-sakramennya.
Dalam penjelasannya, Uskup mengingatkan bahwa setiap perayaan Ekaristi menghadirkan secara sakramental kurban Paskah Kristus yang bernilai abadi. Karena itu, altar yang ditahbiskan memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan liturgis Gereja.
Pentahbisan altar dan gedung gereja, menurut dia, merupakan tindakan iman yang sungguh-sungguh karena berkaitan dengan misteri keselamatan yang dirayakan dan dihayati umat.
Melalui perayaan Ekaristi, umat tidak hanya mengenangkan suatu peristiwa sejarah keselamatan, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan Kristus yang menyerahkan diri demi keselamatan manusia.
Selain menjelaskan makna altar dan Ekaristi, Mgr. Dominikus Saku menekankan martabat seluruh umat beriman sebagai bangsa yang kudus dan umat pilihan Allah.
Dengan merujuk pada bacaan Kitab Suci yang digunakan dalam perayaan, Uskup mengingatkan bahwa seluruh orang yang telah menerima rahmat pembaptisan mengambil bagian dalam imamat rajawi Kristus.
Martabat tersebut, menurut dia, mendahului dan menjadi dasar keterlibatan seluruh umat dalam kehidupan Gereja. Sementara para imam menerima tahbisan untuk menjalankan pelayanan imamat ministerial, seluruh umat beriman tetap memiliki tanggung jawab untuk mempersembahkan kehidupan mereka sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah.
Karena itu, kehidupan Gereja tidak boleh dipahami sebagai tanggung jawab para imam semata. Setiap anggota umat memiliki panggilan untuk terlibat secara aktif dalam perayaan liturgi, membangun persekutuan, dan menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Uskup secara khusus mengingatkan umat agar menjadikan perayaan Ekaristi hari Minggu sebagai prioritas utama dalam kehidupan beriman.
Ia menegaskan bahwa berbagai aktivitas sosial, pekerjaan, dan kegiatan kemasyarakatan tidak seharusnya menggeser tanggung jawab umat untuk berkumpul merayakan Ekaristi.
Menurut dia, kesetiaan menghadiri perayaan Ekaristi merupakan salah satu bentuk konkret penghayatan identitas sebagai umat Allah yang kudus.
Dalam hubungan tersebut, Uskup juga menjelaskan peran para imam yang bertindak in persona Christi, yakni dalam pribadi Kristus, ketika melaksanakan pelayanan sakramental, terutama dalam perayaan Ekaristi.
Ia menyebut kehadiran Romo Bala dan Romo Frenki sebagai bagian dari pelayanan Gereja yang membantu umat bertumbuh dalam kekudusan.
Meskipun para imam tetap memiliki keterbatasan manusiawi, pelayanan mereka menjadi sarana yang digunakan Kristus untuk menghadirkan rahmat keselamatan kepada umat.
Karena itu, Uskup mengajak umat mendukung pelayanan para imam dan memanfaatkan keberadaan gereja yang baru ditahbiskan untuk semakin memperdalam kehidupan doa, mengembangkan partisipasi liturgis, serta memperkuat hubungan persaudaraan.
Salah satu penekanan penting dalam homili Mgr. Dominikus Saku berkaitan dengan tanggung jawab moral umat dalam menjaga kesucian rumah ibadat.
Dengan merujuk pada kisah Injil mengenai tindakan Yesus membersihkan Bait Allah di Yerusalem, Uskup mengingatkan bahwa penyalahgunaan tempat suci dapat terjadi ketika kepentingan ekonomi dan keuntungan pribadi menggeser tujuan utama peribadatan.
Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah kehidupan keagamaan bangsa Israel, kegiatan persembahan korban di Bait Allah melibatkan aktivitas ekonomi yang sangat besar. Kehadiran para pedagang hewan kurban dan penukar uang membuka kemungkinan terjadinya praktik-praktik yang merugikan orang yang datang dengan niat tulus untuk beribadat.
Dalam penjelasannya, Uskup menyinggung catatan sejarah mengenai besarnya jumlah hewan kurban yang dipersembahkan dalam tradisi peribadatan Yahudi. Ia menggunakan gambaran tersebut untuk menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi yang berlangsung di sekitar tempat suci dapat membuka ruang bagi penyalahgunaan apabila tidak dikendalikan oleh tanggung jawab moral.
Menurut Uskup, persoalan mendasarnya bukan terletak pada keberadaan aktivitas ekonomi itu sendiri, melainkan pada kecenderungan menjadikan tempat ibadat sebagai sarana mencari keuntungan dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Ia menegaskan bahwa penghormatan kepada Allah yang Mahakudus menuntut kesucian hati dan kelurusan perilaku.
Karena itu, segala bentuk manipulasi yang memanfaatkan kehidupan keagamaan demi kepentingan pribadi bertentangan dengan hakikat peribadatan yang sejati.
Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi utama dalam pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun. Uskup mengingatkan bahwa bangunan gereja yang megah tidak dengan sendirinya menjamin kemurnian kehidupan beriman apabila umat tidak menjaga kejujuran, keadilan, dan ketulusan dalam relasi dengan sesama.
Kesucian rumah Allah harus memperoleh padanannya dalam kesucian hidup umat.
Dengan demikian, gereja yang ditahbiskan diharapkan menjadi tempat yang membantu setiap orang semakin dekat kepada Tuhan sekaligus membentuk kehidupan yang semakin sesuai dengan nilai-nilai Injil.
Uskup mengajak seluruh umat menjadikan tujuan tersebut sebagai perhatian utama dalam memanfaatkan gedung gereja yang baru.
Ia berharap agar nama Tuhan senantiasa dimuliakan melalui perayaan liturgi dan berbagai aktivitas pastoral yang berlangsung di dalamnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa gereja harus menjadi tempat yang membantu umat bertumbuh dalam kekudusan sehingga keberadaannya benar-benar menghadirkan berkat bagi kehidupan bersama.
Dalam sambutannya seusai perayaan, Mgr. Dominikus Saku kembali menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam proses pembangunan dan penyelenggaraan pentahbisan gereja.
Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada Romo Bala yang telah mendampingi umat selama proses pembangunan berlangsung.
Uskup mengenang bahwa sejak awal dirinya memberikan tantangan kepada pastor paroki agar pembangunan dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang jelas, termasuk berkaitan dengan kemampuan pembiayaan dan jangka waktu penyelesaian.
Tantangan tersebut diberikan agar pembangunan tidak berlangsung tanpa kepastian dan akhirnya menjadi beban berkepanjangan bagi umat.
Ia mengungkapkan kegembiraannya karena kerja sama pastor dan umat akhirnya menghasilkan sebuah gedung gereja yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan.
Menurut Uskup, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab bersama yang dijalankan dengan kesetiaan dapat mengatasi berbagai keterbatasan yang muncul selama proses pembangunan.
Selain memberikan apresiasi terhadap gedung gereja yang baru, Uskup juga mengingatkan pentingnya menjaga bangunan gereja lama sebagai aset paroki.
Ia menegaskan bahwa bangunan tersebut tidak seharusnya dihilangkan atau dibiarkan kehilangan fungsi setelah gedung gereja baru digunakan.
Sebaliknya, bangunan lama dapat dikembangkan menjadi gedung serbaguna untuk mendukung berbagai aktivitas pastoral, pembinaan umat, dan kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan paroki.
Dengan demikian, pembangunan gedung gereja baru diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas penyelenggaraan liturgi, tetapi juga memperluas fasilitas pelayanan bagi umat.
Uskup turut menyampaikan penghargaan kepada panitia pembangunan dan panitia pentahbisan yang telah bekerja mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para donatur dan berbagai pihak yang memberikan dukungan, termasuk Andreas Sofyandi bersama timnya yang disebut turut membantu proses pembangunan.
Menurut Uskup, keberhasilan pembangunan gereja tidak dapat dilepaskan dari kontribusi banyak pihak, baik yang hadir dalam perayaan maupun yang tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut secara langsung.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan kelompok-kelompok paduan suara yang telah mendukung penyelenggaraan liturgi.
Dalam kaitannya dengan Santa Sesilia sebagai pelindung paroki, Uskup kembali mengajak umat menjadikan nyanyian sebagai ungkapan iman dan sarana memuliakan Allah.
Mgr. Dominikus Saku juga menghubungkan pentahbisan gereja dengan agenda pelayanan sakramental yang akan berlangsung di Paroki Santa Sesilia Kotafoun.
Ia menyampaikan bahwa pada hari berikutnya, Rabu (21/10/2026), sejumlah umat akan menerima Sakramen Penguatan atau Krisma di gereja yang baru ditahbiskan.
Menurut Uskup, perayaan tersebut menjadi kesempatan istimewa karena para penerima Krisma dapat mengikuti pelayanan sakramental dalam gedung gereja yang telah secara resmi didedikasikan bagi peribadatan.
Namun, ia mengingatkan bahwa penerimaan sakramen harus diikuti dengan pertumbuhan kualitas kehidupan iman.
Para penerima Krisma diharapkan semakin dewasa dalam penghayatan iman, memiliki keberanian untuk memberikan kesaksian Kristiani, dan menunjukkan tanggung jawab dalam kehidupan Gereja maupun masyarakat.
Dalam sambutannya, Uskup juga menyinggung pentingnya pengembangan pelayanan pastoral di wilayah-wilayah paroki yang memiliki cakupan geografis luas.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah paroki di Keuskupan Atambua, termasuk Kotafoun, masih memiliki wilayah pelayanan yang besar sehingga membutuhkan perhatian lebih lanjut dalam penataan struktur pastoral.
Menurut dia, kebutuhan tersebut berkaitan dengan jumlah umat, luas wilayah, serta ketersediaan tenaga imam yang dapat memberikan pelayanan secara memadai.
Karena itu, Uskup mengajak umat terus mendoakan tumbuhnya panggilan menjadi imam dan anggota hidup bakti.
Ia menyampaikan harapan terhadap rencana tahbisan 15 calon imam diosesan pada 21 November 2026.
Kehadiran imam-imam baru tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan pastoral sekaligus membuka kemungkinan penataan dan pengembangan wilayah paroki yang selama ini memiliki cakupan pelayanan luas.
Bagi Uskup, bertambahnya jumlah imam bukan semata-mata persoalan kebutuhan administratif Gereja, tetapi terutama berkaitan dengan upaya menghadirkan pelayanan yang semakin dekat dengan kehidupan umat.
Ia juga mengajak umat mendukung panggilan hidup membiara agar Gereja senantiasa memiliki tenaga-tenaga pelayanan yang dapat terlibat dalam karya pendidikan, kesehatan, pembinaan iman, dan berbagai bentuk pelayanan sosial.
Pada bagian akhir sambutannya, Mgr. Dominikus Saku menegaskan bahwa selesainya pembangunan Gedung Gereja Santa Sesilia Kotafoun tidak berarti berakhirnya tanggung jawab umat dalam membangun kehidupan Gereja.
Sebaliknya, keberhasilan tersebut harus menjadi sumber semangat baru untuk memperkuat pelayanan pastoral dan meningkatkan perhatian terhadap berbagai kebutuhan umat.
Ia menyinggung sejumlah wilayah pelayanan yang masih membutuhkan pengembangan sarana dan perhatian pastoral, termasuk kawasan Efudini dan wilayah-wilayah lain dalam cakupan pelayanan paroki.
Menurut Uskup, semangat gotong royong yang telah terbukti melalui keberhasilan pembangunan gereja harus terus dipertahankan untuk mendukung kebutuhan Gereja yang lebih luas.
Ia berharap umat tidak berhenti pada kebanggaan memiliki bangunan baru, tetapi semakin terdorong untuk membangun persekutuan yang hidup, saling mendukung, dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan iman sesama.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan fisik dan pembangunan spiritual merupakan dua tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Gereja.
Gedung gereja menyediakan ruang bagi penyelenggaraan ibadat, tetapi umatlah yang dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai iman dalam kehidupan nyata.
Karena itu, keberhasilan pembangunan Gereja Santa Sesilia Kotafoun diharapkan menjadi titik awal bagi pertumbuhan kehidupan menggereja yang semakin matang.
Kehadiran gereja baru juga diharapkan memperkuat hubungan persaudaraan antara umat, para imam, dan seluruh unsur masyarakat yang selama ini mendukung kehidupan paroki.
Pada akhirnya, pentahbisan Gereja Santa Sesilia Kotafoun menjadi lebih dari sekadar peresmian sebuah bangunan keagamaan. Peristiwa tersebut merupakan ungkapan syukur atas perjuangan panjang umat sekaligus penegasan kembali identitas Gereja sebagai persekutuan orang-orang beriman yang dipanggil untuk hidup dalam kekudusan.
Melalui penekanan mengenai Kristus sebagai fondasi kehidupan, Ekaristi sebagai pusat peribadatan, martabat imamat rajawi umat, serta pentingnya menjaga kesucian rumah Allah dari berbagai bentuk penyalahgunaan, Mgr. Dominikus Saku mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan gereja tidak hanya terletak pada kemegahan bangunan yang telah diselesaikan.
Keberhasilan yang lebih mendasar justru terletak pada sejauh mana gereja tersebut mampu membantu umat bertumbuh dalam iman, memperkuat persaudaraan, serta mengembangkan kehidupan yang semakin mencerminkan nilai-nilai Kristiani.
Dengan semangat tersebut, Gereja Santa Sesilia Kotafoun diharapkan menjadi pusat kehidupan rohani yang terus menghidupkan iman umat, memperkokoh persekutuan, dan menghadirkan berkat bagi masyarakat.
Pentahbisan gereja akhirnya menjadi sebuah pengingat bahwa pembangunan rumah Allah memperoleh kepenuhannya ketika umat yang beribadat di dalamnya juga terus membangun diri menjadi tempat kediaman Allah yang hidup.
oleh Yudel Neno

