
ATAMBUA — KeuskupanAtambua.org – Dua siswa SMA Swasta (SMAS) Seminari Lalian, Petrus J. Atok dan Petrus Man Dalio, berhasil menembus lima besar Turnamen Catur Belu Open 2026 kategori SMA/sederajat yang berlangsung di SDI Tanah Merah I, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 23–25 Oktober 2026. Keduanya masing-masing meraih peringkat kedua dan keempat setelah bersaing dengan 30 peserta lainnya dalam turnamen yang diselenggarakan Pengurus Kabupaten Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Belu.

Petrus J. Atok tampil sebagai runner-up dengan mengumpulkan 13 poin, sedangkan Petrus Man Dalio menempati peringkat keempat dengan perolehan 12 poin.

Turnamen tersebut diikuti 32 peserta dari sejumlah sekolah di Kabupaten Belu, antara lain SMAK Surya, SMA Muhajirin, SMAN 1 Atambua, SMAN 2 Sadi, dan SMAK 3 Atambua.

SMAS Seminari Lalian mengirimkan empat peserta, yakni Petrus J. Atok, Petrus Man Dalio, Julito J. Nahak, dan Petrus Eli Funan. Keempat siswa tersebut mengikuti kompetisi dengan pendampingan Fr. Rivaldo Atamukin.
Prestasi tertinggi diraih Petrus J. Atok yang berhasil menempati posisi kedua setelah bersaing ketat dengan Alexander Manek Luan dari SMAK Surya.
Kedua pecatur tersebut sama-sama mengumpulkan 13 poin. Penentuan juara akhirnya dilakukan melalui perhitungan nilai tiebreak menggunakan sistem Buchholz.
Dalam perhitungan tersebut, Alexander Manek Luan memperoleh nilai Buchholz 16,5, sedangkan Petrus J. Atok mencatatkan nilai 15,5.
Selisih satu poin dalam perhitungan tiebreak menempatkan Alexander sebagai juara pertama dan Petrus J. Atok sebagai juara kedua.
Sementara itu, Petrus Man Dalio berhasil menduduki peringkat keempat dengan raihan 12 poin.
Perolehan tersebut sama dengan Ahmad Fadil dari SMA Muhajirin yang menempati peringkat ketiga. Namun, hasil perhitungan tiebreak menempatkan Ahmad pada posisi lebih tinggi.
Adapun dua peserta lainnya dari SMAS Seminari Lalian, Julito J. Nahak dan Petrus Eli Funan, masing-masing menempati peringkat ke-22 dengan enam poin dan peringkat ke-24 dengan empat poin.
Keikutsertaan keempat siswa tersebut menunjukkan keterlibatan Seminari Lalian dalam pengembangan olahraga catur di tingkat pelajar.
Turnamen Catur Belu Open 2026 merupakan bagian dari upaya pembinaan dan penjaringan pecatur muda potensial di Kabupaten Belu.
Kegiatan ini juga memiliki relevansi dengan persiapan pengembangan atlet daerah menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 yang direncanakan berlangsung di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Selain menjadi ajang kompetisi, olahraga catur dinilai memiliki manfaat bagi pembentukan kemampuan intelektual dan karakter peserta didik.
Permainan catur menuntut kemampuan berpikir analitis, menyusun strategi, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, serta mengambil keputusan secara tepat.
Dalam situasi pertandingan, para pemain juga dituntut untuk mempertahankan konsentrasi, mengendalikan emosi, dan menentukan langkah di bawah tekanan waktu.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, terutama untuk membentuk pribadi yang berpikir kritis, disiplin, tekun, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan.
Bagi para siswa seminari, pengembangan kemampuan intelektual melalui olahraga catur dapat menjadi salah satu sarana pembinaan diri yang melengkapi pendidikan akademik, spiritual, dan karakter.
Turnamen selama tiga hari tersebut dipimpin oleh Yoseph Dapatalu, PNP, selaku pimpinan turnamen, dengan Vinsensius B. Bere Rin, WNP, sebagai wasit kepala dan Jemy Boy Kota, WNP, sebagai wasit.
Pihak SMAS Seminari Lalian menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan semangat kompetisi dan sportivitas selama pertandingan.
Apresiasi juga diberikan kepada Percasi Belu atas penyelenggaraan turnamen yang memberikan ruang bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan dan mengukur prestasi di bidang olahraga catur.
Keberhasilan Petrus J. Atok dan Petrus Man Dalio menembus lima besar diharapkan menjadi motivasi bagi siswa Seminari Lalian lainnya untuk terus mengembangkan potensi intelektual dan bakat mereka melalui kegiatan akademik maupun nonakademik.
Penulis: Fr. Aldo Atamukin
Editor: Yudel Neno

