Browsing: Catatann Kritis

Dalam konteks Indonesia, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari Pancasila. Pancasila bukan hanya dasar formal negara, tetapi horizon etis bagi pembentukan manusia Indonesia sebagai makhluk religius, bermartabat, sosial, dialogis, dan bertanggung jawab terhadap keadilan. Karena itu, Pancasila layak disebut sebagai dasar etika cinta bagi Kurikulum Berbasis Cinta.

Di era digital, manusia hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat, terbuka, dan melimpah. Setiap orang dapat memproduksi, membagikan, menanggapi, bahkan membentuk opini publik melalui media sosial dan berbagai platform digital. Namun, keterbukaan ini tidak selalu membuat manusia semakin jernih dalam memahami kenyataan. Justru, dalam banyak kasus, ruang digital membentuk pola komunikasi yang tertutup, berulang, dan cenderung memperkuat keyakinan yang sudah ada. Di sinilah muncul dua gejala penting yang perlu dicermati secara kritis, yakni echo chamber dan algoritma.

Jika seluruh dinamika tersebut dibaca secara komprehensif, maka perdebatan mengenai MBG sebenarnya bukan sekadar soal makanan bagi siswa. Ia menyentuh persoalan yang lebih luas: prioritas pembangunan nasional, keseimbangan antara kebijakan sosial dan pendidikan, serta tata kelola anggaran publik yang akuntabel. Dalam konteks inilah kritik-kritik dari berbagai pihak—baik dari Rocky Gerung, Mahfud MD, maupun pengamatan di lapangan—perlu dipahami sebagai bagian dari proses evaluasi kebijakan dalam sebuah sistem demokrasi.