
Jakarta, 30 November 2025, KeuskupanAtambua.org — Dirjen Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Suparman, SE., M.Si, menegaskan kembali pentingnya arah baru kurikulum yang berbasis cinta dan ekoteologi dalam proses revisi dan penyusunan buku pelajaran Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) se-Indonesia. Hal itu disampaikan dalam sesi tatap muka dan pemberian masukan kepada para guru SMAK yang sedang mengikuti kegiatan penyusunan dan revisi buku di Aone Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, yang berlangsung pada 29 November – 2 Desember 2025.

Dalam sambutannya, Dirjen mengungkapkan ketertarikannya pada kurikulum berbasis cinta, terutama karena kurikulum tersebut mengedepankan kemanusiaan, keutuhan relasi, dan keberpihakan pada kehidupan. Ia juga memberikan penegasan tentang integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ke dalam beberapa mata pelajaran di SMAK, sehingga tidak hanya menjadi materi tambahan, tetapi menjadi napas yang menggerakkan seluruh proses pendidikan.
Selain itu, Suparman menyoroti pentingnya ekoteologi sebagai fondasi kurikulum yang menyentuh aspek green economy, blue economy, dan orange economy. Menurutnya, ketiga perspektif ekonomi ini menolong peserta didik memahami keterkaitan antara iman dan tanggung jawab ekologis.
“Dirjen berharap agar penyusunan buku untuk SMAK benar-benar menginsersi kurikulum cinta yang berbasis ekoteologi. Ini bukan tambahan kecil, tetapi arah besar pendidikan Katolik kita,” tegasnya. Dirjen hadir bersama Direktur Pendidikan Katolik dan Staf Khusus Menteri Agama RI untuk memberikan input, insight, dan highlight bagi kualitas penyusunan buku SMAK secara nasional.
oleh Romo Yudel Neno, Pr
