Oleh Rm. Yudel Neno, Pr

(Pastor Muda, kini bertugas di Paroki Santa Filomena-Mena, Keuskupan Atambua)

Dukacita Maria erat kaitannya dengan dukacita Puteranya. Dukacita Maria tidak mengabaikan kehendak Bapa, yang melalui PuteraNya, karya keselamatan terjadi kepada umat manusia. Hubungan antara dukacita Maria dan dukacita Yesus terletak dalam kenyataan bahwa Allah, kalau Ia ingin berkarya, Ia dapat berkarya melalui jalan yang tidak mudah dipahami dengan akal Budi manusia, dan hanya dapat diterima dengan iman sebagai kebenaran iman.

Hari ini Gereja mengenangkan kedukaan Santa Perawan Maria, yang kita kenal dengan Mater Dolorosa: Bunda Dukacita. Dalam kaitan dengan dukacita ini, Bunda Maria juga dikenal sebagai Ratu Para Martir; sebagaimana Para Martir berduka cita demi menanggung siksa untuk mempertahankan iman Katolik, sedemikian itu, dukacita yang mereka alami, bersatu dengan dukacita Maria tatkala menyaksikan Puteranya dalam siksaan Salib. Maka dukacita Maria adalah dukacita Salib, dan dukacita Salib adalah puncak segala dukacita umat manusia. Ada beberapa dukacita Maria;

Yang pertama:

Kedukaan pada waktu Simeon meramalkan apa yang akan terjadi atas diri Yesus, Anaknya, ketika ia bersama Yosef mempersembahkan Yesus di Bait Allah (Luk. 2:34-35).Simeon meramalkan bahwa Yesus, Anaknya akan menghadapi suatu situasi, yang bakal menimbulkan perbantahan.
Situasi perbantahan itu, kita renungkan dalam konteks ; bagaimana Petrus menghendaki agar Yesus tidak boleh menderita; Petrus menyangkal Yesus; Yudas Iskarioth mengkhianati Yesus; bantahan orang-orang Yahudi bahwa Yesus bukan Mesias, Yesus penghujat Allah, Yesus, Anak tukang kayu, anak manusia biasa; teriakan sadis orang-orang Yahudi. Terhadap situasi seperti itu, hati seorang ibu tentu tersayat sakitnya. Namun Maria sebagai Ibu, ia menyimpan segala perkara itu dalam hatinya, karena Maria tahu, dalam hati yang terdalam itu, Allah dapat menemukan pergumulannya.

Yang kedua :
Kedukaan yang dialaminya pada waktu pengungsian ke Mesir (Mat. 2:13-14)
Dukacita Maria dan Yosef nampak ketika menghadapi situasi kekejaman Herodes, yang memerintahkan agar Yesus dibunuh. Penyingkiran menuju Mesir merupakan suatu situasi yang ditempuh penuh gelisah dan dukacita.

Yang ketiga :
Kedukaan pada waktu ia mencari Yesus bersama Yosef di Yerusalam (Luk.2:43-45)
Dalam usia 12 tahun, Yesus memilih tinggal di Bait Allah, tanpa diketahui oleh Maria dan Yosef, merupakan suatu kenyataan dukacita, yang mengambil bentuk cemas dan mencari-cari. Yesus memilih untuk tetap tinggal di Rumah BapaNya, karena bagiNya, untuk itulah, Ia datang, dan demi itu, Ia menderita.

Yang keempat :
Kedukaan pada waktu bertemu dengan Yesus di Jalan Salib (Yoh. 19:25)
Maria IbuNya, berdiri dekat di situ. Ia turut menyaksikan; betapa beratnya salib itu; betapa kejamnya para algojo memperlakukan Puteranya. Dukacita itu terpatri kuat dalam nubarinya. Siapa gerangan seperti Maria, yang dalam keharuannya sebagai ibu, ia dapat menyaksikan Puteranya, menghadapi situasi siksaan seberat itu.

Yang kelima :
Kedukaan pada waktu Yesus di Salib dan wafat (Yoh. 19:25-27)
Kepada murid yang dikasihinya: Yesus berkata kepada Maria,” Ibu, inilah anakmu”. Kepada Maria, IbuNya, Yesus berkata,” Ibu, inilah anakmu”.
Yesus tahu, betapa dalam sukacita ibuNya. Dengan ungkapan duka Yesus itu, Yesus ingin menguatkan ibuNya; Yesus ingin menghibur ibuNya, sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akan dikalahkanNya melalui kebangkitan, dan Ia akan tetap bersama IbuNya.

Yang keenam :
Kedukaan pada waktu Yesus dibaringkan di pangkuannya dan di makamkan
Maria tidak mungkin meninggalkan Puteranya. Ia tetap menyertai dalam peristiwa Salib itu. Maria benar menyaksikan bagaimana PuteraNya menderita. Dibaringkan dalam makam, merupakan suatu peristiwa duka mendalam. Apalagi karena disiksa. Semua itu, Maria rasakan. Maria melewati duka-duka itu.

Yang ketujuh :
Kedukaan pada waktu Yesus dimakamkan (Yoh. 19:38-42)
[17.55, 14/9/2021] Rm Von Neno: Yesus dimakamkan, menuai dukacita begitu mendalam. Kita bayangkan, kenalan kita, yang meninggal, kitapun begitu sedih. Apalagi seorang ibu seperti Maria, ketika menyaksikan Puteranya menderita, wafat dan dimakamkan.

Pesan Teologis bagi kita, yang merayakan Peringatan Wajib, Santa Perawan Maria, pada hari ini.

Segala duka Maria mengingatkan kita akan duka-duka kehidupan, yang butuh ketenangan untuk menghadapi. Tujuh duka Maria, adalah simbol begitu banyak duka yang melekat dengan manusia, dan karena itu, kita harus siap untuk menghadapinya, karena Dia yang kita imani itu, telah mengalaminya lebih dahulu, dan kini telah memenangkannya.
Dalam perspektif duka Maria, orang beriman Katolik, tidak boleh ragu, dan harus dengan yakin mengatakan,” berpartisipasi dalam dukacita sesama” adalah sebuah partisipasi dalam dukacita Salib, yang telah lebih dahulu dialami oleh Maria.
Semua itu Maria alami, dan ia menyimpan segala perkara itu, dalam hatinya, dan berkat kesetiaannya yang tulus, Allah telah menjumpai duka itu dalam nubarinya, dan telah membangkitkan sukacita kekal, bahwa PuteraNya telah bangkit, memenangkan segala dukacita, yang dialaminya. ***

Editor: Okto Klau

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here