Jumat, minggu biasa XVII
Matius 13:57:”Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Yesus ditolak orang-orang sekampung-Nya. Mereka mengenal asal usul-Nya karena relasi kemanusiaan di mana Ia dikenal sebagai anak tukang kayu, salah satu dari orang sekampung mereka. Mereka kagum akan ajaran-Nya, namun tidak bisa mengakui-Nya karena Ia salah satu warga dari kalangan mereka, mana mungkin dikaruniakan berkat sebegitu hebat. Tidak jarang dalam hidup bersama, kita gagal menghargai misteri dan karunia yang ada di dalam diri sesama karena berpikir bahwa tidak mungkin dia yang biasa-biasa dan yang sudah kita kenal dapat memperoleh semua itu. Lebih buruknya kita tidak menyadari kuasa Allah yang bekerja di dalam diri mereka. Sering dengan sedikit pemahaman tentang diri sesama, kita mulai menilai, mengkotakkan dan menghukum mereka. Padahal kita sendiri yang gagal menemukan kekayaan yang ada di dalam diri mereka karena merasa biasa dan sudah mengenal. Dari pengetahuan sempit kita tentangnya, kita memberikan penilaian yang salah kepada mereka. Bahkan kadang kita bertindak seperti orang-orang Nasaret. Kita menolak begitu banyak hal baik di dalam diri sesama karena kita tidak percaya akan kuasa Allah yang berkarya di dalam diri mereka yang sangat dekat dengan kita. Mari belajar melihat mukjizat dan kuasa Allah yang hadir di dalam diri istri, suami, anak-anak dan tetangga kita dalam keseharian hidup kita. Hargailah itu karena Allah selalu hadir untuk membantu kita dalam diri mereka. Kita berdoa:” Tuhan Yesus Engkau ditolak di kampung halaman-Mu tetapi Engkau tidak patah semangat untuk terus melayani.Teguhkan kami selalu dan sadarkan kami bahwa kuasa Allah Bapa masih tetap menyertai kami dalam keseharian hidup kami. Sadarkan kami bahwa dalam diri orang yang dekat dengan kami Bapa di surga hadir untuk menolong kami. Amin.” Salam sukses. Tetap berdoa dan jaga kesehatan. Semoga mereka yang sakit lekas sembuh. Amin
P. Vincentius Wun, SVD
Editor: Okto Klau
