Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • SURAT GEMBALA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Mengukur dan Mengedukasi Partisipasi OMK dalam Kegiatan Gereja Berdasarkan Barometer Komitmen, Konsistensi, dan Konsekuen
  • CUKS Keuskupan Atambua Kantor Cabang Seon Selenggarakan Pra RAT Tahun Buku 2025
  • KC Pantura CUKS Keuskupan Atambua Gelar Lokakarya Pra RAT Tahun Buku 2025
  • Komisi-Komisi Gelar Rakor Pastoral bersama Uskup Atambua
  • Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka
  • Kecakapan Discernment Imamat di Tengah Viralitas dan Popularitas Publikasi Media Sosial
  • Komunitas SMAK Santa Filomena Rayakan NATARU Bersama, Ini Ajakan Kepala SMAK
  • SMAK Filomena Awali Tahun Baru dengan Ekaristi Bersama
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • SURAT GEMBALA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Uncategorized»Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka
Uncategorized

Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaJanuary 28, 2026No Comments63 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

KeuskupanAtambua.org – Catatan Kritis – Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka – Oleh: Rm. Yudel Neno, Pr

Dialog, dalam horizon akademik, merupakan ruang strategis untuk memacu daya intelektual manusia. Terutama bagi mereka yang bertipikal auditory, dialog bukan sekadar sarana pertukaran gagasan, melainkan medium untuk menarik pengetahuan ke dalam diri melalui proses mendengar, mengolah, dan menanggapi.

Tidak sedikit public speaker dan intelektual publik yang membuktikan bahwa kecakapan verbal dan ketajaman berpikir mereka terbina justru melalui kebiasaan berdialog secara terbuka dan kritis.

Namun demikian, di balik potensi konstruktif dialog, tersimpan pula risiko laten yang kerap luput disadari, yakni hadirnya asumsi dan prasangka. Asumsi, pada dirinya, adalah dugaan awal atau anggapan subjektif yang lahir dari keterbatasan informasi, pengalaman personal, atau kerangka berpikir tertentu.

Dalam konteks akademik, asumsi seharusnya ditempatkan sebagai hipotesis awal yang masih menuntut pencarian fakta, pendalaman konteks, dan klarifikasi berkelanjutan. Dengan kata lain, asumsi adalah alat bantu berpikir, bukan kesimpulan final.

Persoalan mulai muncul ketika asumsi diperlakukan sebagai kebenaran mutlak. Pada titik ini, terjadi kekeliruan epistemologis yang serius: sesuatu yang bersifat sementara dan subjektif diperlakukan seolah-olah final dan objektif. Asumsi yang tidak lagi bersedia diuji, diverifikasi, dan dikoreksi akan mengalami pengerasan makna. Ia tidak lagi berfungsi sebagai jembatan menuju pemahaman, melainkan berubah menjadi tembok yang menghalangi dialog. Dalam kondisi seperti inilah, asumsi bertransformasi menjadi prasangka.

Prasangka dapat dipahami sebagai asumsi yang telah kehilangan keterbukaan rasional. Ia tidak lagi beroperasi dalam domain intelektual, melainkan masuk ke wilayah penilaian moral yang defensif. Dalam “permainan” prasangka, diskusi berhenti menjadi ruang dialog dan beralih rupa menjadi arena vonis. Lawan bicara tidak lagi dipahami sebagai subjek yang perlu didengarkan, melainkan objek yang harus dinilai, disalahkan, bahkan dilabeli. Pertanyaan kritis seperti “apa yang sebenarnya terjadi?” digantikan oleh putusan sepihak: “kamu salah.”

Dalam tempurung intelektual semacam ini, diskusi kehilangan spirit kebenaran. Keadilan direduksi menjadi semacam candu orgasme intelektual subjektif—memberi kenikmatan semu bagi ego yang defensif, tetapi miskin daya transformasi. Yang dipuaskan bukanlah pencarian kebenaran bersama, melainkan kemenangan argumen sepihak. Akibatnya, dialog tidak lagi melahirkan pemahaman yang lebih luas, melainkan kebenaran prematur yang dibanggakan, namun rapuh dan tidak berdaya saing.

Padahal, secara akademik, perlu ditegaskan bahwa asumsi adalah titik awal berpikir, bukan titik akhir. Ia selalu bersifat terbuka, provisional, dan menunggu klarifikasi. Kesadaran akan sifat asumtif dari pengetahuan manusia menuntut kerendahan hati intelektual, yakni pengakuan jujur bahwa pemahaman kita bisa keliru, tidak lengkap, dan perlu disempurnakan melalui perjumpaan dengan pandangan lain. Ketika kerendahan hati ini hilang, dialog pun mati, dan yang tersisa hanyalah penghakiman sepihak.

Oleh karena itu, membina dialog terbuka menuntut disiplin intelektual yang jelas yakni bahwa berpikir tanpa verifikasi akan melahirkan prasangka, dan berdiskusi tanpa keterbukaan akan bermuara pada penghakiman. Asumsi adalah dugaan yang menunggu klarifikasi; sebaliknya, prasangka adalah dugaan yang menolak klarifikasi. Bagi prasangka, klarifikasi tidak lagi relevan, karena kesimpulan telah ditetapkan sejak awal.

Seorang pemikir yang bijak dan pembicara yang andal semestinya memahami bahwa dialog sejati selalu bersifat terbuka. Ia bersedia diuji, dipertanyakan, bahkan dikoreksi. Apabila seseorang tidak memahami prinsip ini, maka sejatinya ia tidak sedang berdialog. Ia hanya sedang memaksakan kehendak intelektualnya kepada orang lain. Sikap demikian bukan saja menghambat dialog terbuka, tetapi juga meracuni substansi dan kualitas output intelektual yang dihasilkan.

Pada akhirnya, strategi membina dialog terbuka bukan terutama soal kecakapan retorika, melainkan soal etika berpikir. Dialog yang sehat hanya mungkin terjadi ketika asumsi disadari sebagai asumsi, prasangka dikritisi secara jujur, dan kebenaran dicari bersama dalam semangat kerendahan hati intelektual. Tanpa itu semua, dialog hanya akan menjadi gema ego yang nyaring, tetapi hampa makna.

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

KC Pantura CUKS Keuskupan Atambua Gelar Lokakarya Pra RAT Tahun Buku 2025

February 6, 2026

Bicara di hadapan Ribuan OMK, Uskup Atambua Suarakan Tantangan dan Peluang bagi OMK

September 20, 2025

Profil dan Refleksi Frater Yakobus Adrianus Atolan Bauk yang akan Ditahbiskan menjadi Diakon

May 31, 2025

Vikjen KA Pimpin Misa 40 Hari Bapak Paulus Theo Nahak

March 26, 2025

Uskup Atambua Beri Rekoleksi Kategorial di Dekenat Belu Utara

March 14, 2025

Sharing Panggilan Bersama Uskup Atambua

November 26, 2024
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Mengukur dan Mengedukasi Partisipasi OMK dalam Kegiatan Gereja Berdasarkan Barometer Komitmen, Konsistensi, dan Konsekuen

February 7, 2026

CUKS Keuskupan Atambua Kantor Cabang Seon Selenggarakan Pra RAT Tahun Buku 2025

February 6, 2026

KC Pantura CUKS Keuskupan Atambua Gelar Lokakarya Pra RAT Tahun Buku 2025

February 6, 2026

Komisi-Komisi Gelar Rakor Pastoral bersama Uskup Atambua

February 5, 2026

Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka

January 28, 2026

Kecakapan Discernment Imamat di Tengah Viralitas dan Popularitas Publikasi Media Sosial

January 28, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?