keuskupanatambua.org – Bertepatan dengan Hari Minggu Misi sedunia ke-93, Dinas PKPO Kabupaten Malaka menyelenggarakan Pembekalan bagi para Misionaris Awam Katolik yang terdiri dari 97 orang Kepala SD, SMP dan SMA/SMK se- Kabupaten Malaka, bertempat di Komplek SMA Fajar Timur, Wemasa, milik Yayasan Alexander Bria Seran. Kegiatan pembekalan ini diprakarsai oleh Kepala Dinas PKPO kabupaten Malaka, Drs. Petrus Bria Seran, MM. Dalam pembekalannya, Bria Seran mengajak para kepala sekolah untuk menyadari panggilannya sebagai orang Katolik. “Sebagai orang Katolik, apa yang sudah saudara sumbangkan sebagai ungkapan iman anda kepada Tuhan dan GerejaNya”, ungkapnya. Beliau menegaskan kepada para peserta bahwa menjadi Kepala Sekolah adalah anugerah dari Tuhan sendiri. Dan karena itu, “kita harus menjalankan tugas panggilan itu dengan sebaik-baiknya. Tuhan sudah mempercayakan anak-anak didik kepada kita. Maka kita harus memandang anak-anak tersebut sebagai anak kandung sehingga kita akan mendidik mereka dengan baik dan benar berdasarkan tuntutan iman Katolik. “Ingat, janganlah memandang anak-anak didik sebagai anak orang lain. tetapi bila anda memandang mereka sebagai anak sendiri, anda tidak mungkin akan membiarkan mereka bodoh! sebab berdasarkan data, ada sebanyak 1.764 siswa dari 88 SD yang ada di kabupaten Malaka, tidak bisa membaca dengan baik dan benar.

Selanjutnya pada sesi kedua, Bapak Yosef Hello, S.Pd. M.Hum selaku ketua Panitia Bulan Misi Luarbiasa Keuskupan Atambua, mengajak para kepala sekolah untuk menyadari tugas dan tanggungjawab yang telah diterimanya berkat Sakramen Permandian. Bahwa dengan menerima Permandian, kita telah diangkat menjadi manusia baru dalam roh dan kebenaran; menjadi anak-anak kesayangan Allah dan sekaligus menjadi anggota Gereja Katolik yang sah. Untuk itu, kita harus mampu menjalankan tugas dan peran kita mengambil bagian dalam tri tugas Kristus sendiri, menjadi Imam, Nabi dan Raja. Beliau menegaskan kepada para Bapak untuk menyadari dan menjalankan tugas sebagai Imam untuk menguduskan keluarganya; menjadi Nabi berarti mampu menjagarkan yang baik dan benar kepada anak-anak sendiri dan anak-anak didik melalui kata dan perbuatan; dan menjadi Raja berarti menjadi pemimpin yang melayani baik di rumah maupun di sekolah, sehingga kehadiran sebagai kepala sekolah sungguh-sungguh menjadi misionaris di sekolahnya.

Seluruh rangkaian pembekalan selama sehari penuh ini diakhiri dengan perayaan ekaristi kudus dipimpin oleh Vikjen keuskupan Atambua, RP. Vincentius Wun SVD. Dalam kotbahnya, mantan Provinsial SVD Timor ini menekankan pentingnya kepemimpinan kristiani di dalam lingkungan sekolah. Dengan mempraktekkan kepemimpinan kristiani, berarti kita telah menjadi misionaris awam di lingkungan atau komunitas kita sendiri.

Selain tim pengajar, juga hadir Sekretaris Dewan Pastoral Dekenat Malaka, Drs. Wilhelmus Seran yang juga berperan sebagai Sekretaris Misionaris Awam seKabupaten Malaka. Menurut rencana, kepengurusan Misionaris Awam Malaka akan dilantik secara resmi di bawah Kaki Salib Kristus di Bukit Kasih Alas dalam waktu tidak terlalu lama yakni sebelum akhir tahun 2019. (Yosef Hello)

SHARE