Kompasiana.com

Suara keputusasaan berkata, saya bedosa, berdosa dan bedosa lagi. Telah berkali-kali saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan hidup lebih baik, tetapi ternyata saya kembali ke tempat yang gelap. Bosan sudah saya mengubah diri. Saya tak berhasil. Rasanya lebih baik hilang ditelan kematian, dilupakan orang.

Suara putus asa seperti ini ganjil, tetapi menarik karena seolah-olah menghibur dengan mengakhiri seluruh perjuangan dan ketakpastian. Suara itu jelas berpihak pada kegelapan.

Yesus datang untuk membuka telinga hati kita agar mendengar suara lembut, Suara Sang Kekasih sendiri, “Aku adalah Allahmu. Aku membentukmu dengan tangan-Ku dan mengasihimu. Kembalilah kepada-Ku, bukan hanya sekali, tetapi setiap kali. Aku rindu padamu. Aku mengasihimu. Biarlah kasih-Ku menyentuh sudut-sudut hatimu yang tersembunyi.”

Inilah suara Yesus untuk kita dengar. Suara yang memanggil kita semua untuk tumbuh dalam kasih.

Yesus dalam kisah Injil Markus hari ini menyembuhkan seorang yang sakit lumpuh di tengah cibiran orang-orang sekitar. Hal pertama yang dilakukan oleh Yesus sebelum menyembuhkannya ialah mengampuni dosa orang lumpuh itu (Mrk 2:1-12).

Pengampunan itu berarti membetulkan relasi si lumpuh dengan Tuhan. Pengampunan dosa berarti memperoleh keselamatan bagi setiap orang yang mengimani Tuhan. Dengan kata lain, iman yang sungguh pada Tuhan akan mengantar setiap orang ke tempat yang penuh sukacita dan damai sejahtera.

Hari ini Yesus berkata kepada kita semua, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni. Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”

Ya Tuhan, teguhkanlah hati kami untuk senantiasa percaya dan berserah diri pada-Mu. Amin.

Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa:
Romo Eman Kiik Mau, Pr

SHARE