
Refleksi Sinodal – KeuskupanAtambua.org – Semangat persaudaraan para pelayan Gereja di Dekenat Malaka, Keuskupan Atambua, terpancar hangat di Paroki Kristus Raja Seon. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, para Imam, Diakon, dan Frater se-Dekenat Malaka berkumpul dalam Temu Persaudaraan yang bertepatan dengan Pesta Wajib Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam paroki.

Sejak pukul 08.00 WITA, peserta dari 20 paroki di wilayah Malaka mulai berdatangan. Hujan dan mendung tidak menyurutkan langkah dan semangat. Rm. Lando Afoan, Pr, mewakili Pastor Paroki, frater, dan umat Paroki Seon, menyambut para tamu dengan penuh sukacita. Sambil menikmati suguhan makanan dan minuman lokal, suasana kekeluargaan langsung terasa.

Membuka pertemuan, Pater Deken P. Hironimus Moensaku, SVD, mengajak semua peserta merenungkan hidup Santo Yohanes Maria Vianney. “Secara intelektual beliau dinilai kurang. Namun karena ketekunan dan kerendahan hati, ia menjadi imam yang melayani di Ars dengan penuh cinta. Mari kita teladani semangat itu, walau kita punya banyak keterbatasan,”tegas Pater Deken.

Selain renungan, Pater Deken juga menyampaikan hasil Sidang Keuskupan serta beberapa hal pastoral yang ada di Dekenat Malaka. Rm. Erwin Asa, Pr yang mendampingi Pater Deken mengingatkan pentingnya sinodalitas di dalam pelayanan.

Pertemuan terasa dalam sesi sharing pengalaman. Para imam dengan usia imamat berbeda saling membuka hati.

Rm. Aloysius Kosat, Pr, menegaskan cintanya pada imamat: “Sejak ditahbis, saya tidak pernah merasa sendirian. Karena itu saya bersikap tegas, walau kadang dinilai keras.” Ia sungguh mencintai imamat dan masa depan umat yang dilayaninya. Salah satu hal yang ia terapkan adalah aturan agar dalam sehari ada kesempatan untuk seluruh komunitas bisa berkumpul bersama yaitu pada saat makan malam.

Rm. Mikhael Maumabe, Pr, Pastor Paroki St. Lukas Wekfau, menyoroti persoalan administrasi gereja. Banyak umat meminta data pembaptisan diubah mengikuti Dukcapil. “Data Induk Permandian adalah data awal dan tidak bisa diubah. Yang salah menulis, dialah yang memperbaikinya,” kata Rm. Yonas Nahak, Pr Pastor Paroki Wekmidar mengutip pesan almarhum Mgr. Anton Pain Ratu, SVD.

Rm. Frans Seran, Pr, dari St. Laurensius Wemasa, menyoroti tantangan anak muda yang kini kerap terlibat perkelahian dan dualisme kepemimpinan dalam organisasi gerejani. Ia meminta kepastian dari pihak berwenang agar pelayanan tidak rancu.
Isu pendidikan dan aset gereja juga mengemuka.

Rm. Marsel Nai Kei, Pr mengingatkan agar para pastor memperhatikan sekolah-sekolah Katolik dan mendata tanah paroki. “Yang memiliki tanah adalah Paroki, bukan yayasan,” ujarnya. Rm. Moses Olin, Pr, menutup sesi sharing dengan ajakan praktis: “Mari wujudkan persaudaraan dalam tindakan. Imam ulang tahun kita doakan dan ucapkan selamat. Jika ada keluarga imam meninggal, mari kita luangkan waktu untuk melayat dan misa requiem.”

Menanggapi masukan, Pater Deken menegaskan bahwa persoalan tertentu menjadi kewenangan Bapak Uskup. Untuk hal praktis, disepakati bersama. Ia juga berpesan agar imam senior menjadi pengayom, dan imam muda, Diakon serta frater tetap rendah hati untuk belajar.

Puncak acara adalah Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Erwin Asa, Pastor Paroki St. Yohanes Rasul Kaputu. Dalam homilinya ia mengajak: “Pelayanan kita bukan untuk mencari pujian atau pamer, tetapi untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan umat. Teladanilah St. Yohanes Maria Vianney yang membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri.”
Sebelum berkat penutup, Rm. Aloysius Kosat, Pr, menyampaikan terima kasih kepada semua yang hadir dan mohon maaf atas segala kekurangan tuan rumah. Acara ditutup dengan santap bersama dan rekreasi. Ada foto bersama, cerita ria, tenis meja, permainan kartu dan pemberian sumbangan suka rela tanpa tekanan kepada Paroki Tuan Rumah.
Salah satu Hasil penting dari pertemuan ini: Temu Persaudaraan Dekenat Malaka disepakati dilaksanakan dua bulan sekali. Pertemuan berikutnya akan digelar pada September 2026 di Paroki Weoe.
Seon, 4 Agustus 2026…by Adriana Aek. Editor – Yudel Neno
