
Keuskupanatambua.org- Kamis, 18 Januari bertempat di Emaus, sebanyak 10 Yayasan yang terdiri dari 7 Yayasan Pendidikan Katolik dan 3 Yayasan Perorangan yang dikelola umat Katolik bertemu dan duduk bersama Bapak Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku dan Komisi Pendidikan Keuskupan Atambua untuk membahas berbagai masalah yang ada di seputar Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) yang dikelola yayasan-yayasan ini.
Utusan-utusan dari yayasan-yayasan itu adaalah kepada Ketua Yayasan, Pembina dan Pengawas. Kegiatan terjadwal pukul 09.00 Wita, tetapi baru dimulai pukul 09.30 Wita karena menunggu beberapa peserta yang jauh.

Kegiatan dimulai dengan para peserta menyanyikan lagu Vos Amici Mei Eistis dilanjutkan dengan mengucapkan Visi, Misi, dan Slogan Keuskupan Atambua yang baru. Setelah doa para peserta mendapatkan pengantar singkat tentang beberapa fenomena kematian sekolah swasta dan harapan agar semua sekolah menjadi sekolah favorit oleh Romo Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Atambua, Romo Theodorus Asa Siri, Pr.
Selesai snack bersama, peserta kemudian mendapat masukan dan informasi animatif LPK dan Yayasan Katolik yang disampaikan oleh Bapak Uskup Mgr. Dr.Dominikus Saku. Acara berikut adalah Bapak Uskup dan Komdik KA mendengarkan sharing masukan kegiatan dan masalah-masalah seputar kinerja dan tatakelola LPK dari Yayasan-Yayasan Pendidikan dan Sekolah.
Dari diskusi yang berkembang dan masukan-masukan yang disampaikan dalam forum temu Yayasan Katolik dan Yayasan individu yang menaungi SMAK ternyata Yayasan-Yayasan ini memiliki masalah yang hampir sama yaitu masalah diskriminasi sekolah swasta dan negeri oleh pemerintah terutama soal masalah penempatan guru-guru ASN di sekolah swasta.
Yayasan-yayasan pendidikan Katolik mengalami kesulitan mencari guru baru karena banyak guru mereka yang sudah lulus P3K semuanya ditarik masuk ke sekolah-sekolah negeri. Hal ini juga dipicu oleh sistem penggajian yang sangat berbeda antara yang diberikan oleh Yayasan-yayasan dan pemeritah.
Masalah-masalah lain yang ditemukan adalah masalah internal Yayasan yang meliputi: masalah sekolah gemuk dan kurus di dalam satu Yayasan, masalah tatakelolah yayasan, masalah gaji para pendidik dan tenaga kependidikan. Solusi yang ditemukan untuk mengatasi kesenjangan sekolah gemuk dan kurus perlu adanya pelayanan satu pintu dari Yayasan terutama untuk Yayasan-yayasan pendidikan Katolik yang menuaungi banyak sekolah baik dari TK/Paud, SD, SMP, SMA/SMK, sampai Pendidikian Tinggi (PT). Sedangkan untuk masalah para lulusan P3K yang ditarik dari sekolah-sekolah swasta ke negeri harus dicari jalan keluar antara LPK dan pemerintah agar tidak terjadi diskriminasi antara sekolah swasta dan negeri.
Setelah banyak berdiskusi dan berdialog akhirnya sampailah pada akhir acara yaitu rancangan pembentukan Majelis Pendidikan Katolik (MPK).
Ada dua peserta yang menyatakan bahwa MPK tidak diperlukan. Tetapi sebagian besar sidang berpendapat bahwa MPK sangat diperlukan terutama untuk memperjuangkan kepentingan Yayasan-Yayasan Pendidikan Katolik dan Yayasan Perorangan yang menangani SMAK secara eksternal atau ke luar. MPK penting karena bisa menjadi perpanjangan tangan Yayasan Pendidikan Katolik dengan pemerintah.
Atas kesepakatan itu maka dipilihah secara aklamasi pengurusan MPK tingkat keuskupan yang akan dikukuhkan dengan Surat Keputusan Uskup dengan susunannya sebagai berikut:
1. Ketua : Romo Gabriel Bouk, Pr
2. Sekretaris : Suster Lestari, OSU
3. Bendahara : Romo Marley Knaufmone, Pr
Kegiatan ini untuk pertama kalinya dilakukan setelah sekian lama Yayasan-Yayasan Pendidikan Katolik yang ada di Keuskupan ini berjalan sendiri-sendiri.
Yayasan-Yayasan Pendidikan Katolik dan Yayasan Perorangan yang hadir dalam acara temu Yayasan Pendidikan Katolik bersama Komdik KA dan Bapak Uskup Atambua ini adalah Yayasan Pendidikan Katolik Emaus, Yayasan Astanara, Yayasan Snuna, Yayasan Pendidikan Liurai Malaka, Yayasan Regina Angelorum, Yayasan Aryos, Yayasan Ananta Bhakti, Yayasan Bintang Mulia Abadi, Yayasan Pendidikan Empat Raja Batas, dan Yayasan Pendidikan Kasih Setia Timor.
Laporan : Komdik KA/Okto Klau
Redaksi : Yosef Hello
