KEUSKUPANATAMBUA.ORG – Pekan Suci atau disebut juga Minggu Suci dalam Agama Kristen khususnya Umat Katolik adalah satu pekan sejak Minggu Palma hingga Sabtu Suci atau Sabtu Alleluya, yang kemudian diikuti dengan Hari Raya Paskah yang selalu jatuh pada Hari Minggu atau Minggu Paskah. Bagi umat Katolik, pekan suci merupakan hal yang penting dan selalu ditunggu. Selama pekan suci ini, umat Katolik mempersiapkan diri dengan pertobatan dan aksi nyata.
Di dalam pekan suci ini, tiga hari : Senin, Selasa dan Rabu disebut hari-hari dalam Pekan Suci, biasanya diisi dengan pertobatan yakni pengakuan dosa dan amalbakti untuk silih dosa. Tiga hari sesudah itu disebut Tri Hari Suci yaitu Kamis Putih, Jumat Sengsara atau Jumat Agung dan Sabtu Suci atau Sabtu Alleluya.
Pada hari Kamis Putih, umat Katolik memperingati peristiwa Perjamuan Malam terakhir Yesus bersama murid-muridNya. Di dalam Liturgi Kamis Putih, ada upacara pembasuhan kaki yang mengingatkan akan peristiwa Yesus merendahkan diri-Nya menjadi Hamba. Ia meninggalkan suatu teladan kerendahan hati yang harus diikuti oleh para pengikut-Nya. Dan peristiwa terpenting adalah warisan Ekaristi Suci. Setiap tahun Bapak Suci Sri Paus di Vatikan selalu melakukan upacara pembasuhan kaki terhadap ‘orang-orang pilihan’. Perayaan hari Kamis Putih diakhiri dengan Pengosongan Altar yang melambangkan Kristus Tuhan yang menghadapi sengsara. Umat juga harus melakukan pengosongan diri. Di paroki-paroki tua, mulai malam ini situasi tenang, tanpa aktivitas. Lonceng gereja tidak berbunyi lagi. Musik pun tiada.
Hari Jumat Agung atau Jumat Sengsara diawali dengan lamentasi pagi menyanyikan ratapan nabi Yeremia. Hari ini sungguh tenang. Puncak Jalan Salib. Hari ini tidak ada Misa. Tepat pukul 15.00 atau jam 3 petang seluruh gereja melakukan upacara mengenang sengsara Tuhan yang dilanjutkan dengan Penyembahan Salib. Salib yang bagi orang-orang Yahudi merupakan batu sandungan, bagi orang Yunani adalah kebodohan, namun bagi umat kristiani merupakan tanda keselamatan.
Tri Hari Suci berakhir dengan Perayaan Malam Paskah atau Vigili Paskah yang diawali dengan suasana/keadaan yang sunyi. Perarakan lilin Paskah dalam situasi gelap. Hanya ada satu api unggun dan satu lilin Paskah. Pada puncak malam ini, Kristus bangkit. Gereja merayakannya dengan gempita melalui ibadat meriah. Habis gelap, terbitlah terang! Yesus Kristus adalah Terang/Cahaya yang menghidupkan harapan, memberi kegembiraan dan sukacita besar karena telah menang atau jaya atas maut dan dosa. Pada malam Paskah, umat Katolik membaharui Janji Baptisnya, memperbaharui imannya akan Tuhan serta membuka harapan baru hidup bersama Allah. Puncak dari semuanya itu ialah Hari Minggu Paskah. Biasanya digambarkan dengan kegembiraan dan sukacita, Alleluya. Pada hari ini, liturgi dalam gereja-gereja ditandai dengan gegap gempita: musik, tarian dan aneka kemeriahan lainnya sebagai tanda kemenangan. Puncak dari kehidupan puasa dan pantang selama 40 hari.
Tahun ini (2021) kita masih berada dalam situasi pandemi Covid-19. Kita merenungkan selama masa Prapaskah tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) “Pemberdayaan Ekonomi Yang Berbelarasa” mengajak umat Kristiani untuk mengatur hidupnya, termasuk hidup imannya secara baik (oikos-nomos) dan memiliki sikap belarasa mencontohi Tuhan Yesus yang selalu tergerak hatiNya oleh belaskasihan terhadap mereka yang menderita, seperti janda di Nain yang kematian putera satu-satunya, para orang sakit dan lain-lain. Dengan demikian, perayaan Paskah mestinya membawa pembaharuan bagi hidup kita. Apakah demikian?(Yosef Hello, dari berbagai sumber)

