
TAHON — KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr menempatkan doa dan keteladanan keluarga sebagai dasar penting bagi pertumbuhan panggilan Rm. Yustus Ati Bere, Pr. Perjalanan 25 tahun imamat Romo Yustus, menurut dia, memperlihatkan buah iman yang dipelihara orangtua dan diteruskan melalui pelayanan kepada umat.
Hal itu disampaikan Uskup Dominikus dalam sambutan pada perayaan syukur yubileum perak imamat Romo Yustus di Kapela Tahon, Paroki Fulur, Rabu (23/9/2026). Uskup juga memimpin misa yang dihadiri ratusan imam, empat diakon, para frater, suster, seminaris, dan umat tersebut.
Uskup mengenang perjumpaan awal dengan Romo Yustus ketika berada di kelas peralihan Seminari Lalian. Dalam kenangan itu, ia turut mengangkat sosok Yakobus Bau, ayah Romo Yustus, yang meninggalkan kesan melalui kemampuan berbahasa Indonesia dan kehidupan rohani yang mendalam.
Kesaksian Yakobus sebagai orangtua dan guru agama menjadi perhatian Uskup. Ia melihat hubungan erat antara ketekunan iman dalam keluarga dan kesediaan seorang anak menjawab panggilan Tuhan.
Dengan merujuk ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Uskup menggambarkan Romo Yustus sebagai buah dari kesuburan iman dan doa orangtuanya. Panggilan itu bertumbuh dalam kehidupan keluarga yang memberikan teladan melalui doa dan perbuatan.
Uskup juga menyinggung spiritualitas dalam kehidupan seminari. Ia menghubungkan kedalaman hidup rohani dengan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan kepada seorang imam. Mereka yang menerima lebih banyak, menurut dia, juga dituntut memberikan lebih banyak.
Pesan tersebut berkaitan dengan perjalanan Romo Yustus yang mengabdikan diri dalam pendidikan calon imam. Pelayanan di seminari menuntut kesediaan merawat kehidupan rohani sekaligus menjalankan tanggung jawab terhadap orang-orang yang didampingi.
Dalam sambutannya, Uskup menggunakan perumpamaan tentang merawat pohon anggur di kebun Allah. Melalui gambaran tersebut, ia menekankan perhatian pada tugas perutusan dan pelayanan yang telah dipercayakan. Kebun Allah perlu dirawat dengan kesungguhan agar kehidupan umat terus bertumbuh.
Uskup turut menyinggung kehidupan Gereja Katolik di Indonesia di tengah konflik keagamaan. Ia menyatakan bahwa Gereja tetap kuat menghadapi keadaan tersebut. Dalam perayaan ini, ia kembali mengapresiasi dukungan umat dan pelayanan para imam yang saling meneguhkan.
Secara khusus, Uskup menyampaikan terima kasih kepada Romo Yustus dan keluarga atas kerelaan mereka mendukung panggilan serta pelayanan bagi Gereja. Penghargaan juga disampaikannya kepada umat Paroki Fulur, terutama Stasi Tahon, yang mengambil bagian dalam perayaan syukur tersebut.
Ia turut berterima kasih kepada panitia, pemerintah, pastor paroki, para imam, suster, frater, koor, serta semua pihak yang mendukung. Uskup mengakui peran para orangtua dan umat yang terus menyertai kehidupan serta pelayanan para imam.
Romo Yustus merayakan 25 tahun imamat dengan moto “Ia yang Menjanjikannya Setia”, yang diambil dari Ibrani 10:23. Ia ditahbiskan pada 14 September 2001 oleh Uskup Atambua saat itu, Mgr. Antonius Pain Ratu, SVD, di Panggung Tahbisan Dekenat Malaka.
Uskup Dominikus berharap imamat Romo Yustus terus menjadi berkat dan memberi sumbangan bagi kemajuan umat Allah. Kesetiaan dalam pelayanan diharapkan menjadi kelanjutan dari iman yang telah bertumbuh dalam keluarga dan dipelihara sepanjang perjalanan panggilannya.
