
Romo Eman Kiik Mau, Pr (Sekretaris Komisi Liturgi Keuskupan Atambua)
Pasti di antara kita pernah merasakan keterpurukan di dalam situasi tertentu. Bagi kebanyakan orang yang pernah berpacaran, perasaan ketika putus dari pasangan merupakan hal yang paling menyakitkan, sehingga mengakibatkan nafsu makan hilang, malas untuk melakukan sesuatu, tidak semangat, cepat emosi dengan semua orang dan sebagainya seperti perasaan sedang mati. Butuh waktu yang lama untuk move on dari mantan. Perasaan move on inilah yang disebut bangkit dari keterpurukan atau kematian.
Injil Lukas hari ini menceritakan bahwa Allah bukan merupakan Allah orang mati, tetapi orang yang hidup.
Dalam perumpamaan perkawinan hari ini, Yesus mengatakan bahwa dalam kebangkitan tidak ada yang namanya kawin dan dikawinkan. Artinya adalah dalam kebangkitan, semua orang akan terlepas dari keterpurukan dan keterikatan yang membuat seseorang menjadi terpuruk. Bangkit adalah menjadi pribadi baru yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Bacaan Injil Lukas hari ini sangat jelas mengungkapkan bahwa Allah adalah Allah orang hidup dan di hadapan Allah semuanya hidup. Masalahnya sejauh apa kita dekat dan berada di hadapan Allah? Apakah kita sungguh ada dekat di hadapan Allah?
Seringkali kita mengambil keterpurukan yang membuat kita berkutat di dalam hal itu. Kita mau bangkit dari keterpurukan tapi tak pernah lepas dari hal yang membuat kita terpuruk, seperti kita mau move on dari mantan tetapi perasaan sayang masih ada dan ingin memiliki dia meskipun sudah berakhir.
Jika kamu ingin bangkit, jadilah pribadi yang baru dan lebih baik dari sebelumnya dan janganlah mengingat-ingat masa lalu Anda.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Selamat akhir pekan. Dalam Yesus, kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa.
Rm. Eman Kiik Mau, Pr
