
Romo Emanuel Kiik Mau, Pr – Sekretaris Komisis Liturgi Keuskupan Atambua
Menjadi seorang utusan adalah tugas yang luhur dan mulia. Tugas seorang utusan diemban dengan penuh resiko.
Dalam sebuah peperangan, seseorang yang diutus ke tempat musuh, memiliki resiko kehilangan, ditahan atau pun kehilangan nyawa jika apa yang disampaikan si pembawa pesan dianggap tidak menyenangkan atau pun bernada ancaman.
Menjadi seorang utusan tidak bisa sombong, karena ia memiliki tuan atau raja, yang jauh lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya.
Jika kita menjadi seorang utusan, hal itu akan bawa suatu kebahagiaan dan sukacita tersendiri, katena secara otomatis, kita akan menjadi cerminan orang yang mengutus kita dan pastinya bukan orang sembarangan. Kita pun sebagai orang yang diutus itu adalah orang-orang pilihan yang dililih dari orang-orang terbaik untuk menyampaikan pesan penting dari orang yang mengutus kita.
Yohanes Pembaptis adalah utusan dari Tuhan. Ia menjadi perintis, yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia setia melakukan tugasnya dengan setia, rendah hati dan sukacita. “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu.” Luk 7:27.
Kita menerima berkat perutusan secara pribadi di akhir misa. Kita diutus langsung oleh Allah melalui imam yang pimpin misa. Kita diutus ke dunia. Jadilah seorang utusan yang setia dan rendah hati.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr
