Bunda Maria Perawan
Lukas 1:38 “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”
Kesediaan Maria luar biasa hanya perlu dingat bahwa perjalannya ini tidak mulus. Ada macam-macam tantangan yang harus dihadapinya namun sebagai orang pilihan Allah, ia tidak merasa berat malah ia menerima semua tantangan itu dengan penuh kebahagiaan dan sukacita penuh pujian pada Tuhan. Maria yang terpilih sebagai ibu Tuhan hidup dalam kesederhanaan, tidak ada jaminan atau asuransi, malah di kenisah, Simeon meramalkan bahwa hatinya akan ditembusi pedang derita. Maria pergi berbagi sukacita dengan Elisabeth saudarinya. Ia siap menjalani semua sesuai rencana Allah walau penuh duri.
Bagaimana dengan hidup dan karya kita. Saat kita mau setia pada Tuhan dan berbuat baik lalu kita tidak dihargai atau mendapat tantangan, apakah kita putus asa atau tetap menjalankan pelayanan dengan sukacita? Kita perlu menyadari bahwa kita belum sepenuhnya mengikuti teladan Maria karena kita sering putus asa, marah dan berhenti berbuat baik saat ada kesulitan.
Kita berdoa bersama nabi Yesaya 61:10: “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. Amin.”
Salam dan doa,
P. Vincentius Wun, SVD (Vikjen KA)
**Editor: Okto Klau
