
Orang rendah hati diumpakan dengan padi yang semakin berisi makin merunduk (Ilustrasi gambar: sindonews.com)
Manusia mengukur kebaikan seseorang melalui perbuatan, tetapi Tuhan mengukurnya melalui hati. Bukan masalah kalau orang ingin berbuat baik, tetapi semua ini tidaklah berarti kalau ia menyombongkannya.
Perbuatan amal, puasa dan berdoa adalah baik. Tetapi kesombongan meracuni perbuatan baik itu. Kesombongan memamerkan si aku manusia, menempatkan diri di atas orang lain dan meremehkan orang lain. Dalam arti ini, perbuatan baik menjadi semu dan ditolak oleh Tuhan.
Sebaliknya orang yang rendah hati itu tidak perlu memamerkan diri. Ia menerima diri apa adanya dan tidak memakai topeng diri. Orang yang rendah hati tidak merasa perlu melihat orang lain sebagai saingan, tidak perlu menang sendiri dan menjadi juara atas orang lain.
Bagi orang yang rendah hati itu nama, popularitas, kekayaan dan penghormatan tidaklah berarti. Baginya, apa yang diperolehnya semata-mata karena cinta dan kebaikan Tuhan.
Orang yang rendah hati merasa tak berdaya di hadapan Tuhan. Sebagai orang berdosa, ia mengharapkan belas kasihan Tuhan. Karena itu, orang yang rendah hati berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.
Tuhan yang maha kuasa tidak terpengaruh dengan jasa dan apalagi dibarengi dengan kesombongan kita. Sikap yang benar ialah kerendahan hati dan selalu mengandalkan Tuhan dan bukan pada jasa dan kehebatan diri kita.
Ungkapan iman yang benar ialah, “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini!” Kita membiarkan Allah berkuasa atas diri kita, karena Dialah Pelindung dan Penyelenggara hidup kita di dunia ini.
Tuhan Yesus, semoga kami selalu bersikap rendah hati di hadapan-Mu. Kasihanilah kami orang yang berdosa ini. Amin.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Selamat akhir pekan. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr
