
MAUMERE— KeuskupanAtambua.org – Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, menjadi keynote speaker dalam seminar sehari Nusra Youth Day III yang berlangsung di Aula Ritapiret, Maumere, Sabtu, 4 Juli 2026. Di hadapan ratusan Orang Muda Katolik se-Nusa Tenggara, Mgr. Budi membawakan materi bertema “Identitas, Solidaritas, dan Militansi” dalam bingkai tema besar seminar, “Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa”.

Seminar ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Nusra Youth Day III yang berlangsung di Keuskupan Maumere. Selain Mgr. Budi Kleden, tiga narasumber lain turut membawakan materi, yakni Rm. Patris Neonnub yang lebih dikenal dengan nama Patris Allegro dalam dunia digital, Rm. Paschal Saturnus, dan Head of Domus Cordis Jakarta, Violison Martheo. Hadir pula Uskup Larantuka, Mgr. Hans Manteiro, yang turut menemani jalannya seminar bersama para imam, pendamping, dan peserta OMK dari berbagai keuskupan di wilayah Nusa Tenggara.
Dalam pemaparannya, Mgr. Budi membuka refleksi tentang identitas dengan sebuah pertanyaan penuntun yang tajam: masih perlukah berbicara tentang identitas di era post-truth dan liquid society? Menurut Mgr., pertanyaan ini penting karena orang muda hidup dalam zaman yang cair, serba cepat, dan sering kali kabur dalam membedakan kebenaran, kepalsuan, kedalaman, dan penampilan.
Mgr. Budi kemudian mengurai kata “identitas” secara akronim. Huruf “I” dimaknai sebagai “saya”, yakni kesadaran bahwa setiap orang memiliki “aku” yang unik dan berharga di mata Tuhan. Huruf “D” dimaknai sebagai distinct, yakni keterbedaan. Menurutnya, setiap orang berbeda dari yang lain, tetapi perbedaan itu bukan alasan untuk mencari-cari perpecahan.
Huruf “E” menunjuk pada emotions atau emosi. Mgr. Budi menegaskan bahwa emosi memiliki hubungan erat dengan identitas diri. Huruf “N” dimaknai sebagai name atau nama. Nama, katanya, bukan sekadar sebutan, melainkan karakter. Karena itu, orang muda diingatkan untuk tidak merusak nama baik.
Huruf “T” dimaknai sebagai thoughts atau pikiran, sedangkan huruf “I” berikutnya dimaknai sebagai integrity atau integritas diri. Huruf “T” kedua menunjuk pada traditions, yakni kesadaran bahwa setiap orang adalah bagian dari tradisi panjang yang diwariskan turun-temurun. Sementara huruf “A” dimaknai sebagai aim atau tujuan hidup, dan huruf “S” sebagai significance, yakni panggilan untuk menjadi pribadi yang bermakna dan berdampak bagi orang lain.
Mgr. Budi menegaskan bahwa identitas dapat bertahan dalam keberlanjutan atau kontinuitas, tetapi pada saat yang sama selalu berhadapan dengan diskontinuitas. Dengan mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Jerman, ia menguraikan dalam bahasa Indonesia, “Katakanlah kepada saya, dengan siapa engkau bergaul, dan akan kukatakan kepadamu siapa dirimu.”
Dalam konteks itu, Mgr. Budi mengajak orang muda untuk serius memperhatikan lingkungan pergaulan, pilihan hidup, dan arah pertumbuhan diri. Identitas tidak cukup hanya dinyatakan dalam kata-kata, tetapi dibentuk melalui kebiasaan, relasi, nilai, dan keputusan-keputusan konkret dalam hidup harian.
Pada bagian lain, Mgr. Budi juga menyinggung soal solidaritas. Ia mengingatkan orang muda Katolik agar tidak hanya sibuk dengan diri sendiri. Menurut dia, solidaritas menuntut keberanian untuk keluar dari kenyamanan pribadi dan hadir bagi sesama, terutama mereka yang miskin, kecil, terluka, dan tersingkir.
Dalam refleksi sosialnya, Mgr. Budi menyoroti budaya pesta yang, menurut dia, dapat mempermiskin politik solidaritas apabila tidak disertai kepekaan terhadap situasi sosial masyarakat. Ia juga mengangkat keprihatinan ekologis, termasuk pandangannya bahwa geothermal bukanlah pilihan yang tepat untuk wilayah Flores.
Selain itu, Mgr. Budi menyoroti fenomena militerisasi yang disebutnya sebagai penyempitan ruang demokrasi. Ia juga melihat bahwa dalam komunikasi sosial, ruang dialog semakin dipersempit. Perbedaan pendapat, katanya, mudah sekali dibaca sebagai permusuhan. Karena itu, orang muda dipanggil untuk membangun budaya dialog yang sehat, jujur, dan beradab.
Bagian ketiga dari pemaparan Mgr. Budi berbicara tentang militansi. Menurut dia, militansi bukan sekadar keberanian tampil atau semangat sesaat, melainkan rahmat dan daya spiritual dalam setiap gerakan yang benar. Militansi orang muda Katolik harus lahir dari iman, dibentuk oleh kasih, dan diarahkan untuk kebaikan Gereja serta bangsa.
Dalam seminar itu, Mgr. Budi juga mengutip isi SAGKI V tahun 2026 nomor 18 tentang kaum muda. Dalam dokumen tersebut, orang muda disebut sebagai terang di tengah malam yang gelap dan penyalur harapan bagi dunia. Namun, keterlibatan orang muda dalam kehidupan menggereja sering kali belum sepenuhnya utuh karena mereka masih lebih banyak ditempatkan sebagai peserta kegiatan, belum sungguh diberi ruang untuk didengarkan dan diakui pergumulan hidupnya.
Dokumen tersebut juga menyinggung berbagai pergumulan orang muda Katolik, seperti krisis iman, kesepian, kehilangan arah dan semangat, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kekerasan, serta keterbenaman dalam kesunyian dunia digital. Bagi Mgr. Budi, Gereja perlu memberi ruang yang lebih besar bagi orang muda untuk berbicara, didengarkan, didampingi, dan dilibatkan secara nyata.
Mgr. Budi juga mengurai pesan Paus Leo XIV kepada kaum muda di Madrid, Juni 2026. Dalam pesan itu, Paus mengajak orang muda untuk menjadi manusia sejati, laki-laki dan perempuan yang konkret, dapat dipercaya, mencari keadilan, mendambakan hidup jujur dan lurus, serta memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.
Menurut Mgr. Budi, pesan Paus tersebut menjadi panggilan penting bagi orang muda Katolik di Nusa Tenggara. Orang muda tidak boleh berhenti pada penampilan, tetapi harus bertumbuh menjadi pribadi yang berakar, berwajah konkret, dan mampu menghadirkan kasih sebagai cara hidup.
Dalam sesi seminar, Mgr. Budi juga memberi komentar terhadap materi yang dipaparkan oleh Violison Martheo. Menurut dia, paparan Vio membeberkan kesadaran penting tentang persiapan diri untuk hidup menikah. Orang muda, katanya, perlu mempersiapkan diri secara matang, bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara iman, moral, sosial, dan tanggung jawab.
Terkait orientasi seksual orang muda, Mgr. Budi menggarisbawahi pandangan Gereja berdasarkan dokumen-dokumen Gereja tentang LGBT. Ia menegaskan bahwa pribadi manusia harus dihormati dan dicintai, tetapi Gereja tidak membenarkan pernikahan sesama jenis. Bagi Gereja, seksualitas adalah anugerah Allah dalam konteks pernikahan, sebagai jalan kasih suami-istri dan keterbukaan pada kelahiran manusia baru.
“Seks adalah anugerah Tuhan yang sangat mulia untuk urusan prokreasi,” demikian inti penegasan Mgr. Budi dalam refleksinya tentang seksualitas, pernikahan, dan tanggung jawab orang muda.
Di akhir pemaparannya, Mgr. Budi mengajak Orang Muda Katolik untuk menjadi pribadi yang “BERSIH”. Akronim itu ia uraikan menjadi enam sikap dasar. Huruf “B” berarti beriman. Huruf “E” berarti energetik, sebab para uskup memiliki kebijaksanaan, tetapi energi besar ada pada orang muda.
Huruf “R” berarti rukun. Namun, Mgr. Budi mengingatkan bahwa rukun tidak berarti membenarkan kesalahan. Huruf “S” berarti solider, yakni tidak hanya sibuk dengan diri sendiri. Huruf “I” berarti inisiatif, yaitu keberanian untuk memulai dan mengambil bagian. Sementara huruf “H” berarti harga diri, tahu diri, tahu membawa diri, dan tahu menjaga diri.
Mgr. Budi menutup materinya dengan pesan kuat agar orang muda Katolik tidak menjadi generasi yang terasing dari diri sendiri, dari sesama, dari Gereja, dari bangsa, dan dari Allah. “Jangan menjadi generasi yang teralienasi,” pesan Mgr. Budi kepada ratusan OMK se-Nusa Tenggara yang mengikuti seminar tersebut.
Pesan itu menjadi ajakan agar Orang Muda Katolik tidak larut dalam kesunyian dunia digital, tidak kehilangan arah dalam arus zaman, dan tidak tercerabut dari iman serta tradisi yang membentuk jati dirinya. Dalam semangat Nusra Youth Day III, orang muda diajak untuk berjalan bersama, membangun Gereja dan bangsa, dengan identitas yang jelas, solidaritas yang nyata, dan militansi yang berakar dalam iman.
oleh Rm. Yudel Neno
