Oleh:
Uskup Atambua: Mgr. Dr. Dominikus Saku
keuskupanatambua.org; – Kita berada dalam situasi pandemi Covid-19 yang berakibat atau berdampak sangat besar untuk kehidupan kita. Kehidupan masyarakat dan kehidupan seluruh dunia secara luas kena imbasnya. Catatan-catatan dari lembaga-lembaga internasional, nasional dan lokal menunjukkan bahwa terjadi krisis ekonomi, krisis kehidupan, krisis kesehatan dan semua krisis yang biasa dikatakan krisis multidimensi, dengan cara yang bisa diukur oleh berbagai macam lembaga.
Dalam situasi seperti ini, diharapkan bahwa kita dari Gereja dan dari umat Allah perlu membangun tekad dan membangun visi pemberdayaan. Supaya hidup kita makin mengalami pemberdayaan. Pemberdayaan itu biasa diterjemahkan sebagai perbuatan dari kehidupan melalui pekerjaan yang lebih kreatif, lebih produktif, lebih inovatif. Sehingga di tengah krisis, kita bisa bertahan. Pemberdayaan itu mempunyai ukuran minimal. Tujuan minimal itu untuk bertahan. Tapi tujuan yang lebih lanjut dari situ adalah supaya kita bisa berkembang maju dalam arti produktivitas hidup kita makin meningkat. Dalam upaya pemberdayaan ini, Keuskupan Atambua mempunyai banyak sekali Program Pastoral yang bersifat menggerakkan umat, melalui apa yang dinamakan animasi sosialisasi. Supaya umat mengalami semangat baru melalui animasi supaya bisa giat dengan cara yang lebih tertata. Kita tidak kerja serampangan tapi harus terencana. Terencana itu berarti sumber-sumber daya atau yang dinamakan kekuatan kita harus diukur. Kekuatan daya alam kita diukur. Kekuatan dari kemampuan ekonomi keuangan kita diukur. kemampuan dari pendidikan kita diukur dan kita bisa dengan itu mengukur juga capaian-capaian hasil yang akan kita peroleh.
Keuskupan Atambua mempunyai beberapa kegiatan konkrit antara lain, kita sudah mempunyai mix farming (peternakan terpadu pertanian) di Haliwen. Dalam pembicaraan terdahulu terus menerus disampaikan untuk kelompok-kelompok supaya mereka terus melakukan pemberdayaan. Pemberdayaan itu berupa pelatihan kemudian pendampingan dan melakukan terobosan untuk pembibitan di kalangan umat dan nanti distribusi atau pemasarannya kita akan aatur selanjutnya melalui upaya yang lebih lanjut yaitu upaya pembukaan rumah-rumah se’i dan pengembangan selanjutnya.
Kita juga mempunyai program yang lain namanya Atambua Eden. Atambua Eden ini bidang atau unitnya ada sembilan dan kalau dikembangkan untuk menjadi kurang lebih 29 atau 30-an unit atau sub unit yang bisa merupakan satu terobosan dalam arti pekerjaan yang lebih terintergrasi dan menyeluruh. Menyeluruhnya itu karena kita bisa menjangkau aspek hilir dan hulunya ekonomi. Mulai dari produksinya kemudian ke distribusinya sampai kepada konsumsinya juga menyangkut peningkatan ketrampilan sampai dengan hasil-hasil yang diharapkan terukur sehingga pekerjaan-pekerjaan Keuskupan ini secara pastoral dan secara profesional bisa terukur dan bisa tergapai dengan cara yang baik. Kita juga mempunyai salah satu pekerjaan yaitu Oelolok Training Center (OTC). Kita bekerja bersama dengan para suster dari Carmelit. Di sana juga dikembangkan semua yang diperlukan untuk ketrampilan keputrian, ketrampilan kehidupan rohani, ketrampilan pertanian palawija dan seterusnya untuk melengkapi unit yang lain. Di unit Emaus Pastoral Center (EPC) juga mempunyai palawija dengan sistem penyiraman sistem tetes yang kita adopsi dari teknologi Israel.
Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, kita juga sudah mulai masuk ke upaya bukan hanya menjadi distributor tapi juga menjadi produsen dari pupuk, pupuk organik. Kita berencana setiap tahun harus menghasilkan bila perlu sampai 150-an ton pupuk untuk membantu masyarakat meningkatkan hasil pertanian. Kita juga sementara bekerja sama dengan pihak mitra untuk melakukan pengembangan energi baru dan terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Konkritnya, kita bekerja sama dengan perusahaan dari luar dan dari Jakarta yang mengajak kita untuk kerja sama di satu proyek yang namanya PLTB BMT yaitu Pembangkit Litrik Tenaga Bayu di cluster Belu, Malaka, dan TTU. Diharapkan dengan keterlibatan seperti itu, keuskupan ini makin terinspirasi untuk menyadarkan umatnya dan bila perlu menggerakkan umatnya agar menghayati hidup yang selaras dengan alam.
Sudah beberapa tahun dimulai dan tahun ini mulai dikembangkan lagi yaitu Penanaman Anggur di Pantai Utara (Pantura) yang ternyata sangat potensial untuk pengembangan tanaman anggur. Tekad kita tertuang di dalam buku yang sudah diterbitkan dengan judul: “Atambua Eden: Iman Membumi, Hidup Berdaya”. Kita menjadikan wilayah Pantura yang selama ini dianggap gersang dan mengubah kegersangan itu menjadi kesejahteraan. Semoga dengan upaya-upaya seperti ini keuskupan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan yang dilakukan untuk masyarakat.
Keuskupan juga sementara berjuang untuk mengembangkannya di tingkat paroki-paroki dengan menggandeng para imam yang mempunyai kreativitas tinggi. salah satu contoh sudah mulai di Paroki Lurasik, Paroki Nurobo, Paroki Halilulik, Paroki Mena dan Paroki Wini. Kita usahakan supaya paroki-paroki yang lain juga kita jangkau. Di Kabupaten Malaka kita sudah mulai dengan menggerakkan upaya penanaman pisang. Upaya hidup sehat dengan gerakan Lomba Pisang Masak di pohon. Jadi pisang tidak diambil pada saat muda tapi harus ditunggu sampai matang dan masak di pohon baru diambil. tentu ini memiliki nilai gizi yang lebih tinggi. Nilai mutu yang lebih tinggi untuk meningkatkan mutu ekonominya atau meningkatkan nilai ekonominya dan membantu petani pisang supaya mereka juga mengalami kehidupan yang lebih baik dan kita juga di Malaka bekerja sama dengan pemerintah yang mempunyai program yang dinamakan RPM (Revolusi Pertanian Malaka) dan kita upayakan supaya gerakan ini menjadi gerakan untuk semua orang.**RI
Editor: Yosef M.L. Hello
Silahkan baca lebih lanjut pada Majalah Berkat Edisi: 143/XXXI/September-November 2020
