Dalam konteks Indonesia, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari Pancasila. Pancasila bukan hanya dasar formal negara, tetapi horizon etis bagi pembentukan manusia Indonesia sebagai makhluk religius, bermartabat, sosial, dialogis, dan bertanggung jawab terhadap keadilan. Karena itu, Pancasila layak disebut sebagai dasar etika cinta bagi Kurikulum Berbasis Cinta.
Browsing: Filsafat
Hari Buruh Nasional bukan sekadar tanggal merah dalam kalender negara. Ia adalah hari ingatan sosial. Di dalamnya tersimpan sejarah panjang tentang keringat, luka, protes, tuntutan, dan harapan kaum pekerja. Hari Buruh mengingatkan masyarakat bahwa kemajuan ekonomi tidak pernah lahir dari modal saja. Di balik pabrik, kantor, proyek pembangunan, ladang, sekolah, rumah sakit, pasar, dan ruang-ruang pelayanan publik, selalu ada manusia yang bekerja, berpikir, bergerak, melayani, dan mengorbankan tenaga.
Karena itu, permenungan paling mendasar pada Hari Buruh ialah pertanyaan ini: apakah sistem ekonomi kita masih menempatkan manusia di atas modal, atau justru modal telah menjadi ukuran utama nilai manusia?
Pertanyaan ini penting karena dalam banyak praktik ekonomi modern, manusia sering dinilai dari produktivitasnya semata. Pekerja dihargai sejauh ia menghasilkan keuntungan. Buruh diperhitungkan sejauh ia menekan biaya produksi. Tenaga manusia dipandang sebagai komponen biaya yang harus dibuat seefisien mungkin. Dalam logika seperti ini, manusia perlahan-lahan kehilangan wajahnya sebagai pribadi. Ia berubah menjadi angka, target, jam kerja, kontrak, statistik, dan beban operasional.
Rasionalitas moral, pada akhirnya, bukan hanya soal berpikir benar, tetapi juga soal bersedia berdialog secara jujur demi kebaikan bersama.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tantangan perilaku publik, konser di Bale Biinmafo menunjukkan potensi pendidikan estetika yang kontekstual — di mana masyarakat dan pengunjung belajar menjadi seniman dan manusia. Sedikit demi sedikit mereka merasakan keindahan dalam keteraturan dan menghormati seni sebagai peristiwa bersama. Di sini, ruang pertunjukan bukan sekadar venue, melainkan lokus pembentukan nilai estetis dan etis masyarakat.
Hubungan antara rasionalitas dan imajinasi tidak bersifat oposisi, melainkan dialektis dan dinamis. Rasionalitas memberi bentuk, imajinasi memberi isi. Rasionalitas mengatur arah, imajinasi memberi daya dorong. Seperti dua sayap burung, keduanya harus bergerak serentak agar tulisan dapat terbang tinggi dan stabil.
Tugas utama para pemimpin hari ini bukan sekadar menyusun aturan baru atau menjalankan prosedur lama, melainkan memastikan setiap kebijakan lahir dari akal sehat dan nurani yang terarah pada kepentingan umum. Hanya dengan cara itu kepercayaan rakyat dapat dipulihkan, rasa keadilan dijaga, dan res publica ditegakkan kembali.
