
Renungan Serial, KeuskupanAtambua.org – Iman yang Berbuah Kasih – oleh Rm. Yudel Neno

Renungan
Yesus menegur orang Farisi karena ketelitian membayar persepuluhan sampai tanaman kecil, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Kritik ini tidak menolak hukum. Justru Yesus mengembalikan hukum pada tujuannya: menuntun manusia kepada relasi benar dengan Allah dan sesama. Ketaatan yang kehilangan kasih berubah menjadi formalitas.
Ahli Taurat ditegur karena meletakkan beban berat di atas orang lain tanpa ikut memikulnya. Di sini tampak bahaya agama ketika aturan dipakai untuk mengukur orang, tetapi tidak untuk mengoreksi diri. Kesalehan tidak berhenti pada penampilan, kedudukan, atau ketepatan ritual; ia diuji oleh keadilan, belas kasih, dan kesediaan berbagi beban.
Belajar berjalan dalam tuntunan Firman berarti membiarkan Sabda menembus bagian hidup yang kita sembunyikan di balik kesalehan lahiriah. Firman mengajar agar hukum, tradisi, dan kebiasaan iman menghasilkan kasih. Ukuran iman bukan banyaknya tuntutan kepada orang lain, melainkan kesetiaan menghadirkan kebaikan Allah.
Niat
Hari ini aku berniat menjadikan iman bukan sekadar aturan atau penampilan, melainkan tindakan nyata yang adil, penuh kasih, dan meringankan beban sesama.
Doa
Tuhan, bersihkanlah hatiku dari kesalehan yang hanya lahiriah. Bentuklah aku agar setia pada kebenaran, adil dalam sikap, dan murah hati dalam kasih. Amin.
Editor – Yosef Hello, Published by Yudel Neno

