Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Ketika Teologi tentang Salib Berpuncak secara Misioner pada Kesetiaan di Bawah Kaki Salib
  • Iman yang Berbuah Kasih
  • Berikanlah Sedekah dan Semuanya Menjadi Bersih
  • Menjadi Imam dari Padang Gurun dalam Kesadaran Tak Layak Membuka Tali Kasut
  • Para Agen Pastoral Paroki St. Paulus Wedomu Mengikuti Sosialisasi Migrasi Aman dan Prosedural dari Komisi KP-PMP Keuskupan Atambua
  • Paroki Katedral Atambua Menggelar Prosesi Tri Harta Iman ke-38
  • Kristus Tanda Keselamatan
  • TNI, POLRI MERAYAKAN SYUKUR HUT TNI KE 81, RD. YORIS SAMUEL GIRI TEGASKAN TANGGUNG JAWAB PRAJURIT.
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Refleksi Teologis»Ketika Teologi tentang Salib Berpuncak secara Misioner pada Kesetiaan di Bawah Kaki Salib
Refleksi Teologis

Ketika Teologi tentang Salib Berpuncak secara Misioner pada Kesetiaan di Bawah Kaki Salib

*Refleksi atas Renungan V, Selasa, 13 Oktober 2026, dibimbing Rm. Sipri Senda, Pr., dalam retret 34 peserta yang berlangsung pada 11–17 Oktober 2026.*
Sponsored By: Komsos Keuskupan Atambua Komsos Keuskupan Atambua October 14, 2026No Comments5 Mins Read
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

KeuskupanAtambua.org – Ketika Teologi tentang Salib Berpuncak secara Misioner pada Kesetiaan di Bawah Salib – oleh Rm. Yudel Neno

Salib sering direnungkan sebagai puncak penderitaan Kristus. Namun, apabila permenungan berhenti pada penderitaan, kita belum sepenuhnya menangkap daya teologisnya. Salib juga merupakan tempat kasih dinyatakan secara total, kesetiaan diuji secara nyata, dan kepercayaan melahirkan tanggung jawab misioner. Renungan V bertolak dari Yohanes 21:20–25. Perikop ini menampilkan murid yang dikasihi sebagai saksi terpercaya. Untuk memahami kedalaman kesaksian itu, kita perlu kembali kepada peristiwa di bawah kaki salib dalam Yohanes 19:25–27.

Tradisi Gereja mengenali murid terkasih sebagai Yohanes, yang dikaitkan dengan Injil Keempat. Ia dikenang sebagai pengajar kasih, pengikut setia hingga di bawah salib, dan penerima Maria sebagai ibunya. Julukan *Boanerges*, “anak-anak guruh”, yang dikenakan kepada Yakobus dan Yohanes, mengingatkan bahwa semangat kemuridan perlu dimurnikan. Ketegasan membela kebenaran tidak boleh berubah menjadi keangkuhan, sebab intisari ajaran Yesus ialah kasih. Kedewasaan murid tidak diukur dari kerasnya suara ketika membela Guru, melainkan dari kesediaannya tetap tinggal bersama Guru ketika kesetiaan menuntut pengorbanan.

Di bawah kaki salib, Yohanes hadir ketika banyak harapan manusiawi tampak runtuh. Ia tidak tinggal karena keadaan menguntungkan, tetapi karena kasihnya tidak bergantung pada keberhasilan lahiriah. Di sinilah kesetiaan menjadi bahasa kasih yang paling jujur. Seorang murid mungkin mampu menjelaskan ajaran Kristus, tetapi hanya kehidupan yang setia dapat mengungkapkan bahwa ajaran itu sungguh telah menjadi pusat eksistensinya. Yohanes tidak sekadar mengetahui siapa Yesus; ia membiarkan relasi dengan Yesus menentukan tempatnya berdiri, bahkan ketika tempat itu adalah kaki salib.

Dari atas salib, Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” dan kepada murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu!” Peristiwa ini memperlihatkan totalitas kepercayaan yang lahir di tengah totalitas penyerahan diri. Yesus mempercayakan ibu-Nya kepada murid yang tetap setia, bukan sebagai hadiah atas prestasi moral, melainkan sebagai amanat kasih yang sanggup diterima oleh hati yang telah dibentuk dalam relasi dengan-Nya. Bahkan tindakan itu bersifat timbal balik: Maria menerima seorang anak, sedangkan Yohanes menerima seorang ibu. Dari kepercayaan Kristus lahirlah persekutuan baru yang dibangun bukan atas kepemilikan, melainkan atas tanggung jawab untuk saling menerima dan memelihara.

Maka, hubungan antara kasih, kesetiaan, dan kepercayaan tidak boleh dipisahkan. Kasih Kristus selalu mendahului tanggapan manusia; kesetiaan merupakan jawaban yang bertumbuh dari kasih tersebut; sementara kepercayaan Kristus membuka misi baru bagi murid. Kesetiaan Yohanes menjadi ruang manusiawi tempat amanat ilahi diterima. Ia datang ke bawah salib sebagai murid yang mengasihi, tetapi meninggalkan peristiwa itu sebagai murid yang memikul tanggung jawab. Salib tidak hanya menjadi peristiwa yang disaksikan, melainkan panggilan yang harus dilanjutkan dalam kehidupan.

Dimensi misioner ini memiliki kedalaman eklesiologis. Dalam penafsiran rohani Gereja, Yohanes juga melambangkan para murid Kristus, sedangkan Maria dihormati sebagai Bunda Gereja. Karena itu, bagi para imam, adegan di bawah salib menjadi cermin tentang panggilan memelihara persekutuan yang dikasihi Kristus. Teks ini tidak secara langsung menginstitusikan imamat. Akan tetapi, peristiwa tersebut menghadirkan pola spiritual pelayanan: yang dipercayakan Kristus bukanlah milik pribadi pelayan-Nya. Gereja tidak diberikan kepada imam untuk dikuasai, melainkan untuk dikasihi, dijaga, dan dilayani dalam kesetiaan kepada Sang Pemilik sejati, yakni Kristus.

Di sinilah pemikiran Fulton J. Sheen tentang imam yang bukan milik dirinya sendiri menjadi relevan. Imamat tidak boleh menjadi ruang memperbesar ego atau mencari kehormatan. Tahbisan adalah anugerah dan amanat, bukan legitimasi untuk mendominasi. Kewibawaan imam justru diuji ketika ia bersedia mendengarkan, mendampingi, mengoreksi dengan kasih, serta membuka ruang dialog. Semakin besar kepercayaan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab menghadirkan wajah Kristus yang melayani. Kesetiaan kepada Kristus harus terbukti melalui kesetiaan kepada umat yang dipercayakan-Nya.

Romo Sipri mengingatkan adanya tantangan internal berupa kemiskinan kasih dan egoisme, serta tantangan eksternal berupa hedonisme dan feodalisme. Egoisme membuat kasih berhenti sebagai kampanye teologis tanpa menjelma menjadi perilaku. Hedonisme menjadikan kenyamanan pribadi sebagai ukuran pelayanan, sedangkan feodalisme mengubah relasi persaudaraan menjadi hubungan kuasa atasan dan bawahan. Ketiganya bertentangan dengan logika salib. Di bawah salib, Yesus tidak membangun dominasi; Ia membangun persekutuan. Karena itu, salib menuntut keberanian melepaskan ego, bukan untuk meniadakan martabat diri, melainkan agar tanggung jawab tidak dibajak oleh kepentingan pribadi.

Transformasi itu mustahil dipelihara tanpa kontemplasi. Imamat yang kehilangan keheningan bersama Kristus mudah terperangkap dalam aktivisme: banyak pekerjaan dilakukan, tetapi sumber kasihnya mengering. Kontemplasi menolong imam memeriksa motivasi: apakah keputusan diambil demi kebaikan umat atau demi mempertahankan gengsi? Apakah otoritas digunakan untuk merawat atau menguasai? Spiritualitas kristosentris menempatkan Yesus sebagai pusat, spiritualitas marianis menumbuhkan kerendahan hati dan ketaatan, sedangkan spiritualitas salib membentuk keberanian mengasihi secara setia.

Kesetiaan Yohanes juga mempunyai wajah pewartaan. Yohanes 21:24 menghubungkan murid yang dikasihi dengan kesaksian yang dituliskan. Pengalaman bersama Kristus tidak disimpan sebagai kekayaan pribadi, melainkan dibagikan supaya menjadi terang bagi banyak orang. Karena itu, ajakan Romo Sipri agar para imam menulis merupakan panggilan misioner yang konkret. Dunia digital menyediakan ruang perjumpaan dan pewartaan baru, tetapi tulisan imam harus lahir dari kontemplasi, kebenaran, dan kasih, bukan dari hasrat mendapatkan pengakuan. Menulis menjadi perpanjangan dari kesetiaan ketika kata-kata menguatkan iman, membela martabat manusia, dan menghidupkan harapan.

Kesetiaan bukan berarti seorang imam tidak pernah lelah. Kasih tidak menghapus keterbatasan manusiawi, tetapi memberi alasan untuk terus memperbarui diri, mencari dukungan, serta melayani tanpa kehilangan arah. Petrus yang pernah menyangkal dan kemudian dipulihkan, serta Yohanes yang hadir di bawah salib, mengingatkan bahwa kemuridan bertumbuh melalui rahmat dengan jalan yang berbeda. Tidak perlu ada persaingan tentang siapa paling layak dipercaya; yang terpenting ialah bagaimana setiap panggilan dijawab dengan kasih yang nyata.

Akhirnya, teologi tentang salib berpuncak secara misioner bukan ketika penderitaan diagungkan, tetapi ketika kasih yang tersingkap di salib diteruskan menjadi kesetiaan dan pelayanan. Dari atas salib, Kristus menyerahkan hidup-Nya sekaligus mempercayakan ibu-Nya; di bawah salib, Yohanes menerima amanat itu karena kasih telah membentuknya untuk tetap setia. Bagi imam, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar kuasa yang dimiliki, melainkan seberapa setia ia menjaga apa yang dipercayakan Kristus kepadanya. Salib yang dikontemplasikan melahirkan kasih; kasih yang dihidupi menumbuhkan kesetiaan; dan kesetiaan yang menerima kepercayaan Kristus berbuah menjadi misi. Di sanalah imamat menemukan kemuliaannya: **bukan dengan berdiri di atas Gereja, tetapi dengan setia berdiri bersama Gereja di bawah kaki salib.**

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Menjadi Imam dari Padang Gurun dalam Kesadaran Tak Layak Membuka Tali Kasut

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 12, 2026

Berjalan dalam Tuntunan Spiritualitas Bunda Maria di Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario

October 1, 2026

Berakar dalam Iman, Berbuah dalam Karakter: Keluarga Katolik di Tengah Kebudayaan Digital

September 26, 2026

Iman Lahir dari Pendengaran, Tatapan Ekaristis Meneguhkannya

July 23, 2026

Mengukur dan Mengedukasi Partisipasi OMK dalam Kegiatan Gereja Berdasarkan Barometer Komitmen, Konsistensi, dan Konsekuen

February 7, 2026

Mengendus Miskonsepsi tentang Natal di Penghujung Adventus

December 19, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Ketika Teologi tentang Salib Berpuncak secara Misioner pada Kesetiaan di Bawah Kaki Salib

Sponsor: Komsos Keuskupan Atambua October 14, 2026

Iman yang Berbuah Kasih

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 14, 2026

Berikanlah Sedekah dan Semuanya Menjadi Bersih

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 13, 2026

Menjadi Imam dari Padang Gurun dalam Kesadaran Tak Layak Membuka Tali Kasut

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 12, 2026

Para Agen Pastoral Paroki St. Paulus Wedomu Mengikuti Sosialisasi Migrasi Aman dan Prosedural dari Komisi KP-PMP Keuskupan Atambua

October 12, 2026

Paroki Katedral Atambua Menggelar Prosesi Tri Harta Iman ke-38

October 12, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?