
KeuskupanAtambua.org – Menjadi Imam dari Padang Gurun dalam Kesadaran Tak Layak Membuka Tali Kasut oleh Rm. Yudel Neno
Renungan ketiga Romo Sipri Senda dalam momen Ret-Ret gelombang V para Imam Keuskupan Atambua mengajak peserta untuk memandang Yohanes Pembaptis sebagai cermin untuk memeriksa kembali identitas imamat. Berdasarkan Markus 1:1–8, Yohanes tampil sebagai perintis jalan bagi kedatangan Kristus. Namun, kekuatan kesaksiannya tidak hanya terletak pada seruan pertobatan, melainkan juga pada kesatuan antara pewartaan dan kehidupannya. Ia menyerukan pembaruan karena dirinya sendiri telah ditempa dalam kesederhanaan. Dari sini, dua pokok patut diperdalam: padang gurun yang mendewasakan dan kesadaran tidak layak membuka tali kasut yang merohanikan.
Padang gurun bukan sekadar latar geografis tempat Yohanes berkarya. Dalam permenungan iman, padang gurun menjadi ruang pembentukan, tempat manusia berhadapan dengan keterbatasan dirinya dan belajar menggantungkan hidup kepada Allah. Padang Gurun menunjuk pada situasi kateketis, di mana Allah membentuk manusia untuk terpanggil sebagai adaptatif menurut kehendak Allah. Sementara kesunyian menyingkapkan apa yang sering disembunyikan oleh kesibukan. Keterbatasan memperlihatkan apakah panggilan sungguh bertumpu pada Tuhan atau justru bergantung pada kenyamanan. Karena itu, padang gurun tidak otomatis mendewasakan. Kedewasaan lahir ketika seseorang bersedia membaca, menerima, dan mengolah pengalaman tersebut dalam terang kehendak Allah.
Bagi seorang imam, padang gurun dapat hadir melalui kesepian, kegagalan pastoral, keterbatasan fasilitas, kritik umat, ataupun pelayanan yang tidak memperoleh penghargaan. Semua itu dapat melahirkan kepahitan, tetapi juga dapat memurnikan motivasi. Sama seperti pameo tua ; puncak bukit mengilhami tetapi lembahlah yang mendewasakan. Persoalannya ialah bagaimana imam menanggapi keadaan tersebut. Apakah ia menjadikannya alasan untuk mengeluh dan menarik diri, atau kesempatan untuk memperdalam kesetiaan? Imam yang dewasa tidak menunggu keadaan ideal untuk melayani. Ia belajar menghadirkan kasih Allah justru di tengah keadaan yang belum ideal.
Pakaian Yohanes dari bulu unta, ikat pinggang kulit, serta makanannya berupa belalang dan madu hutan memperlihatkan kesederhanaan yang menyatu dengan perutusannya. Penampilan tidak mengambil alih perhatian dari pesan yang diwartakan. Di sini, askese memperoleh maknanya: kemampuan mengatur keinginan agar pelayanan tetap mendapat tempat utama. Kesederhanaan bukan perlombaan mempertontonkan kekurangan, melainkan kebebasan batin terhadap kemewahan. Seorang imam boleh menggunakan sarana yang baik, tetapi perlu terus bertanya apakah sarana itu membantu pewartaan atau diam-diam menjadi ukuran harga dirinya.
Pertanyaan ini semakin mendesak ketika hedonisme dan konsumerisme memasuki cara berpikir pelayan Gereja. Hedonisme mendorong orang mengutamakan kesenangan; konsumerisme membiasakan orang mengukur kecukupan melalui kepemilikan. Keduanya menemukan tempat ketika batin kehilangan disiplin. Karena itu, tantangan eksternal selalu membutuhkan pemeriksaan internal. Mental suka memerintah dan sikap oportunistis dapat menjadikan jabatan imamat sebagai jalan memperoleh keuntungan. Orang masih berbicara tentang pengorbanan, tetapi keputusan-keputusannya justru diarahkan untuk melindungi kenyamanan pribadi. Padang gurun membongkar ketidakjujuran semacam ini.
Pokok kedua menyentuh kedalaman identitas seorang pelayan. Yohanes menyatakan bahwa membungkuk dan membuka tali kasut Dia yang datang sesudahnya pun ia tidak layak. Sebagaimana ditekankan Romo Sipri Senda, tindakan membuka tali kasut menggambarkan pelayanan seorang hamba. Namun, Yohanes bahkan menempatkan dirinya sebagai orang yang tidak layak melakukan pelayanan tersebut. Ataupun dapat dikatakan bahwa dengan tindakan itu, Yohanes menyingkapkan kenyataan bahwa di hadapan Kristus, ia lebih hamba daripada hamba. Pengakuan ini memperlihatkan kesadarannya akan kebesaran Kristus. Ia mengetahui batas dirinya dan memahami bahwa kewibawaan perutusannya berasal dari Dia yang kedatangan-Nya ia persiapkan.
Kesadaran tidak layak perlu dipahami secara tepat. Kerendahan hati tidak membenarkan imam mengabaikan kemampuan, menolak tanggung jawab, atau membiarkan ketidakadilan. Justru karena pelayanan merupakan anugerah, imam dituntut mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ia perlu belajar, mengelola tugas dengan tertib, membangun kemandirian, serta bersedia dikoreksi. Disiplin menjadi bentuk nyata kemuridan: kesediaan menata hidup supaya kehendak Tuhan memperoleh ruang. Dengan demikian, kesadaran tidak layak menghasilkan tanggung jawab yang lebih besar, sebab anugerah tidak pernah menjadi alasan untuk bekerja sembarangan.
Di sinilah kerendahan hati bertemu dengan keberanian menyuarakan kebenaran. Pelayan yang tidak sibuk membesarkan dirinya memiliki kebebasan untuk membela martabat manusia. Namun, keberanian tersebut harus diawali dengan autokritik. Kita tidak dapat menuntut keadilan sambil meminta perlakuan istimewa bagi diri sendiri. Kedudukan sebagai imam tidak menghapus tanggung jawab terhadap aturan dan hukum yang berlaku. Kesadaran hukum, ketertiban pengelolaan, serta konsistensi melaksanakan keputusan merupakan bagian dari kesaksian moral. Pewartaan pertobatan kehilangan daya ketika pewartanya menolak diperiksa oleh kebenaran yang sama.
Iman yang tekun selalu membawa seluruh keadaan hidup ke dalam hubungan dengan Allah. Karena itu, spiritualitas juga menumbuhkan kreativitas: kemampuan menemukan cara pelayanan yang baru tanpa kehilangan prinsip. Seni, pewartaan, dan pengelolaan pastoral dapat berkembang ketika imam bersedia belajar dari kenyataan umat. Pujian bagi pelayan yang setia patut diberikan sebagai penghargaan atas pengabdian, sekaligus ajakan untuk terus bertumbuh. Penghargaan menjadi sehat ketika menguatkan pelayanan dan tidak menjadikan pelayan sebagai pusat segala perhatian.
Akhirnya, menjadi imam dari padang gurun berarti bersedia dibentuk sebelum menuntut perubahan dari orang lain. Kesadaran tidak layak membuka tali kasut menjaga agar buah pembentukan itu tetap terarah kepada Kristus. Padang gurun mendewasakan karena mengajar kita mengolah keterbatasan; kerendahan hati merohanikan karena mengembalikan pusat pelayanan kepada Tuhan. Di hadapan Yohanes, kita patut bertanya: sesudah umat berjumpa dengan kita, apakah mereka semakin terpikat kepada pribadi kita, atau semakin mengenal dan mencintai Kristus yang kita wartakan? Pertanyaan ini harus menyertai doa, pilihan hidup, dan setiap keputusan pastoral kita.

