Jakarta, 3 Juni 2025 – Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Katolik, Kementerian Agama Republik Indonesia, menyelenggarakan finalisasi modul ajar Cinta dan Ekoteologi secara virtual pada Selasa, 3 Juni 2025. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting sejak pukul 09.00 WIB (10.00 WITA) ini dihadiri oleh para guru Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) dari seluruh Indonesia, khususnya pengampu mata pelajaran Doktrin dan Moralitas Kristiani.
Tiga narasumber utama dihadirkan dengan pendekatan yang saling melengkapi. Bapak Fidelis Waruwu menyoroti Pedagogik Kasih, Pater Dr. Darmin Mbula, OFM memaparkan kerangka implementasi ekoteologi, sedangkan Ibu Susi Herawati menyampaikan struktur dan isi modul ajar yang telah dirancang. Sebelum ketiganya tampil, sesi diawali oleh refleksi mendalam dari Romo Aloysius Budi Purnomo yang mengulas aspek teologis dari ekoteologi.
Bapak Fidelis Waruwu, Direktur Educationis Training and Consulting, menekankan bahwa cinta merupakan nilai universal paling mendasar, bahkan menjadi fondasi dari nilai-nilai lain seperti damai, penghargaan, kerja sama, dan tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa pedagogik kasih merupakan jantung dari implementasi kurikulum cinta, di mana proses pengajaran harus berlangsung dalam semangat kasih. Guru, menurutnya, adalah agen utama yang menghadirkan cinta dalam praktik pendidikan.
Selanjutnya, ia menggarisbawahi beberapa prinsip konkret yang harus dijalankan guru dalam mengimplementasikan pedagogik kasih. Antara lain, melihat murid sebagai pribadi yang dicintai Allah, menggunakan bahasa yang membangun, membentuk relasi yang aman dan hangat, menjadi teladan dalam kasih, memberikan koreksi dengan belas kasih, dan melibatkan murid dalam menyusun aturan kelas yang berbasis cinta dan hormat. Dengan demikian, sekolah menjadi ruang yang menghadirkan semangat surga melalui cinta yang nyata.
Sementara itu, Pater Dr. Darmin Mbula, OFM menawarkan pendekatan integratif yang mencakup ekoteologi, ekopastoral, dan ekospiritual. Ia menjelaskan bahwa ekoteologi bukan sekadar perspektif keilmuan, melainkan harus menjadi ethos dan cara hidup yang terinternalisasi dalam kehidupan peserta didik. Dalam kerangka moral Kristiani, cinta merupakan panggilan mendalam kepada Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Oleh karena itu, merawat lingkungan bukan semata isu ekologis, melainkan tindakan iman.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan pendekatan Duc in Altum (belajar secara mendalam) dan Metode Emaus yang menekankan refleksi spiritual dan perjumpaan kasih. Proses pembelajaran harus bersifat reflektif dan transformatif, tidak hanya menuntut pemahaman teoritis, tetapi mendorong siswa untuk mengalami, merenungkan, dan mengubah perilaku mereka secara nyata. Empat kata kunci yang menjadi panduan utama adalah: mindful, meaningful learning, joyful, dan happiness.
Sebagai pemateri terakhir, Ibu Susi Herawati mempresentasikan struktur modul ajar Cinta dan Ekoteologi yang telah disusun secara sistematis. Modul ini didesain untuk dapat diimplementasikan secara langsung oleh guru dalam kelas, dengan perpaduan pendekatan naratif, reflektif, dan aplikatif. Ia memastikan bahwa substansi modul berpijak pada kerangka iman Katolik, sekaligus responsif terhadap isu ekologis kontemporer.
Dengan demikian, finalisasi modul ini menjadi langkah strategis dalam membumikan nilai kasih dan kepedulian ekologis dalam pendidikan Katolik. Kurikulum cinta bukan sekadar idealisme, tetapi sebuah realitas yang ditopang oleh pendekatan pedagogis yang holistik, spiritualitas yang mendalam, serta metode pembelajaran yang kontekstual dan membebaskan.
oleh Rm. Yudel Neno, Pr
