Kupang, KeuskupanAtambua.org – Profil dan Refleksi Panggilan Frater Handrianus Agustinus Nahak yang akan ditahbiskan menjadi Diakon, Motto: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu” (Matius 6:25b)
“Apa yang akan saya buat dan lakukan jika memilih jalan ini?” Pertanyaan inilah yang selalu hadir dalam batin setiap pribadi yang sedang berproses menjawab panggilan Tuhan menjadi imam. Demikian pula yang dialami oleh Frater Handrianus Agustinus Nahak. Dalam refleksi panggilannya, ia menyadari keterbatasan yang dimiliki dan merasa khawatir akan pilihan hidup yang sedang ditempuh. Situasi ini membuatnya sempat berada dalam dilema, namun akhirnya ia menemukan jawaban dan penguatan dari sabda Yesus dalam Injil Matius: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu”. Kutipan ini memberikan inspirasi dan kekuatan, bahwa Tuhan tidak pernah gagal membentuk orang yang setia mengikuti-Nya.
Data Diri
Handrianus Agustinus Nahak, yang akrab disapa Gusti Nahak atau Guna, lahir pada tanggal 25 Agustus 1997. Ia adalah putra bungsu dari enam bersaudara, anak dari pasangan Gabriel Nahak dan Yasintha Soy, keduanya pensiunan guru. Sebagai anak bungsu, ia mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari keluarga.
Dengan postur tubuh yang ideal, wajah yang rupawan, dan kepribadian terbuka, ceria, serta mudah akrab dengan siapa saja, Guna dikenal sebagai pribadi yang hangat dan bersahabat. Meski berasal dari keluarga terpandang, ia tidak pernah menutup diri atau bersikap tinggi hati, justru sebaliknya, ia senantiasa membangun relasi dengan banyak orang.
Ia dibaptis pada 20 Maret 1998 di Paroki St. Mikhael Kada oleh Rm. Kornelis Salem, Pr, dengan saksi baptis Wilhelmus Luan dan Ketona Hoar. Komuni Pertama diterima tahun 2006 di Paroki Sta. Maria Immculata Katedral Atambua oleh Rm. Agustinus Berek, Pr. Sakramen Krisma diterimanya di Paroki Seon pada tahun 2017 oleh mendiang Uskup Mgr. Anton Pain Ratu, SVD.
Riwayat Pendidikan
Guna mengenyam pendidikan di SDK Uarau (2003–2008), lalu pindah dan menyelesaikan pendidikan dasar di SDI Mamakun pada tahun 2009. Ia melanjutkan ke SMPK St. Yoseph Seon (2009–2012), kemudian memilih masuk ke SMA Seminari Menengah St. Maria Imakulata Lalian (2012–2016). Setelah tamat dari Lalian, ia melamar sebagai calon imam Keuskupan Atambua dan diterima untuk mengikuti Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lo’o Damian Nenuk (2016–2017).
Setelah menyelesaikan TOR, ia melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang dan kuliah filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (2017–2021). Selama empat tahun di sana, ia menempuh pembinaan dan studi filsafat sambil terus mematangkan panggilannya.
Selanjutnya, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Sta. Maria Imakulata Katedral Atambua selama dua tahun (2021–2023), sesuai SK dari Keuskupan Atambua. Kini, ia sedang menyelesaikan masa studi teologi di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang (2023–2025) sebagai tahap akhir sebelum menerima tahbisan imamat.
Identitas Keluarga
Diakon Guna adalah anak ke-6 dari 6 bersaudara: Jonisius Melkhianus Nahak (Guru), Gaudensius Oktovianus Nahak (Wiraswasta), Aloysius Gonzaga Nahak (Wiraswasta), Elfrida Nahak (Ibu Rumah Tangga), Ermelinda Nahak (Tenaga Honorer Desa). Seluruh anggota keluarganya beragama Katolik dan selalu mendukung panggilan hidupnya.
Perkembangan dan Refleksi Panggilan
Panggilan Guna mulai tumbuh ketika ia duduk di bangku SMP. Ia tertarik dengan cara hidup para seminaris yang mengadakan aksi panggilan, serta cerita-cerita menarik seputar kehidupan di Seminari Menengah Lalian, seperti adanya fasilitas pengembangan talenta dan banyaknya alat musik serta kebun buah-buahan. Dorongan itu membawanya melamar ke Seminari Lalian tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Meski sempat kesulitan beradaptasi dengan lingkungan belajar yang kompetitif, ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Lalian. Setelah itu, ia menjalani TOR selama setahun dan merasakan kedalaman spiritualitas yang membentuk dirinya secara rohani. Ia lalu melanjutkan ke Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang dan meraih gelar Sarjana Filsafat setelah empat tahun perjuangan.
Sebagai kelanjutan dari formasi calon imam, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Katedral Atambua. Tantangan dan dinamika umat yang kompleks justru memperkuat tekadnya. Ia belajar untuk melayani, bekerjasama dalam tim, mengembangkan diri bersama orang muda, dan membentuk relasi yang akrab dengan umat.
Dari pengalaman-pengalaman itu, ia perlahan-lahan keluar dari zona nyaman, belajar dari kritik, dan semakin membuka diri. Masa TOP membuatnya menyadari bahwa pengalaman pastoral bukan tujuan akhir, melainkan bekal menuju relasi yang lebih intim dengan Tuhan. Karena itu, ia dengan tekad yang matang melanjutkan formasi calon imam dan studi teologi, dengan keyakinan bahwa menjadi imam berarti terus bertumbuh dalam iman, kepribadian, spiritualitas, dan intelektualitas.
Disusun oleh: Frater Tingkat III Keuskupan Atambua
Diedit oleh: Rm. Yudelfianus Fon Neno, Pr
Diterbitkan dalam rangka: Tahbisan Diakonat oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr
Tanggal: Sabtu, 31 Mei 2025
Tempat: Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang

